
"Bohong nona, Jiji bukan pelakunya. Hamba, hambalah yang telah merusak pakaian nona. Hukum hamba saja nona."
Nenek Po tidak terima jika Jiji yang harus dihukum. Dia mengetahui bahwa wanita muda tersebut berusaha membuat Jiji sebagai tameng.
"Jiji? Siapa Jiji. Apa yang sedang kalian bicarakan?" Bentak Jingjing tidak sabaran.
"Pagi tadi Nenek Po membawa seorang bocah pengemis ikut bekerja mencuci pakaian nona. Hamba yakin bahwa bocah itu yang merusak pakaian nona."
"Jangan percaya perkataannya nona. Bukan Jiji pelakunya, hambalah yang bersalah hukum hamba saja." Nenek Po tidak mau kalah, dia bersikeras bahwa dialah pelaku nya.
Sementara itu, dibalik tembok Jiji meringkuk ketakutan. Dia menahan tangisnya saat melihat Nenek Po yang membelanya. Ingin rasanya dia berlari dan membantu Nenek Po namun dia tidak ingin membuat Nenek Po merasa kecewa karena tidak mengikuti perkataannya.
"Bagaima kau yakin bahwa Jiji pelakunya dan bukan Nenek Po yang berbohong?"
"Nenek Po telah bekerja puluhan tahun sebagai tukang cuci di kediaman nona, dan selama ini pekerjaannya selalu beres dan tidak pernah ada masalah seperti ini sebelumnya. Tidak mungkin kalau Nenek Po pelakunya. Pasti bocah pengemis itu yang merusak selendang nona."
"Kau benar. Pelayan! Cari bocah pengemis itu dan seret dia ke alun-alun desa!" Putus Jingjing kemudian berlalu meninggalkan Nenek Po yang masih berusaha menjelaskan bahwa bukan Jiji pelakunya.
~~
"Arghhh leganya."
Yang Jian tidak tahu sudah berapa hari lamanya dia bermeditasi di kolam. Dia merasakan energi ditubuhnya terisi kembali. Namun Yang Jian masih merasa bahwa qi nya berkurang dari sebelumnya hanya dalam waktu singkat.
"Ini memang tidak mudah."
"Siapa yang mengatakan mudah? Kau terlalu santai untuk menyadari betapa pentingnya kondisimu."
Seperti biasa, dragon akan selalu menimpali gumaman Yang Jian tanpa diminta.
"Saat ini kau bertarung dengan waktu. Jadi jangan membuang waktu lebih banyak."
Yang Jian sepenuhnya mengerti perkataan dragon. Setelah berkemas, Yang Jian memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Saat tiba di kamar, Yang Jian melihat bahwa hari masih pagi. Namun matahari sudah mulai beranjak naik.
__ADS_1
Saat itu Yang Jian sadar bahwa dia menghabiskan waktu yang lama di Dunia Surgawi. Saat hendak keluar kamar, Yang Jian mendengar suara ribut dari arah jalan. Karena penasaran, Yang Jian bertanya kepada Nyonya Meng yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Apa bibi tahu apa yang sedang terjadi diluar?"
"Itu ulah Nona Jingjing, Tuan Muda. Nona yang menyinggung tuan tadi malam."
Yang Jian menaikkan alisnya sebelah, ulah apa yang hendak di pertontonkan nona kasar tersebut.
"Nona Jingjing mengarak-arak seorang bocah pengemis ke alun-alun desa untuk di hukum tuan."
Nyonya Meng menjelaskan apa yang menimpa Jiji dan alasan mengapa dia hendak dihukum. Nyonya Meng menambahkan bahwa sudah menjadi akhir bagi setiap orang dihukum dan dipermalukan di alun-alun desa bagi siapa saja yang mencari masalah dengan Nona Jingjing.
Yang Jian mengangguk pelan, dia awalnya berencana meninggalkan desa saat itu juga. Namun hatinya berkata lain. Tanpa Yang Jian sadari, langkah kakinya membawanya menuju alun-alun desa tempat bocah pengemis dihukum.
~~
Alun-alun desa terlatak di pusat desa. Terdapat dua tiang yang berdiri kokoh dan rantai besi yang bertengger di setiap tiang tersebut.
Jiji di ikat dalam posisi berdiri.
Sementara itu di depan Jiji, di barisan para warga desa yang berbondong-bondong menyaksikan penyiksaan Jiji tampak Nenek Po yang telah terjatuh lemas didamping dua orang pengawal yang masing-masing menjaganya disamping kiri dan kanan.
"Ini adalah peringatan bagi kalian semua. Barang siapa yang mempunyai keberanian menyinggung nona ini. Maka, nona ini akan membakar keberanian kalian hingga menjadi debu."
Jingjing meludahi kepala Jiji yang mengundang pekikan dari warga desa, tidak ada satupun dari mereka yang berniat membantu Jiji, seolah hati mereka tidak memiliki cinta dan kasih sayang sedikitpun.
Jingjing mengangkat cambuknya, dia mulai melecut badan Jiji tanpa ampun.
'Ctakkk...'
"Arghhh..." Jiji tidak mampu menahan teriakan nya, satu cambukan saja membuat kulit Jiji seolah mengelupas.
'Ctak ctak.'
__ADS_1
Lecutan demi lecutan mendarat di tubuh Jiji, kesakitan demi kesakitan juga memenuhi tubuhnya. Bahkan untuk menangispun Jiji tidak mampu lagi. Seolah suaranya habis dibawa cambuk Jingjing ke udara.
Jiji mengepalkan tangannya, sekuat tenaga dia melawan rasa sakitnya. Masih ada Yiyi yang menunggunya pulang. Dia harus kuat untuk kembali menemui Yiyi.
"Trang..." Tiba-tiba rantai yang mengikat Jiji terlepas akibat satu tebasan sebuh pedang. Sebelum Jiji benar-benar terjatuh, satu tangan menangkapnya dan menarik tubuhnya kedalam dekapannya.
"Siapa yang telah berani ikut campur..."
Sebelum Jingjing menyelesaikan ucapannya, pandangannya beralih keseorang pria muda yang berumur sekitar tiga belas tahun.
"Oh, jadi kau. Jadi kau orang yang telah dengan lancang merusak mainan nona ini?" Bentak Jingjing saat melihat orang yang merusak acara hukum menghukumnya adalah Yang Jian.
" Apa kau pikir kau hebat? Apa kau pikir hanya karena pakaian mewahmu kau mempunyai hak memasuki ruangku?"
"Kau baik-baik saja?" Tanpa menghiraukan teriakan Jingjing, Yang Jian berusaha mengobati Jiji dengan mengalirkan qi nya untuk mempertahankan kesadaran Jiji.
Saat melihat Jiji membuka mata, Yang Jian mengeluarkan pil tingkat menengah miliknya dan memasukkannya ke dalam mulut Jiji.
Kemudian Yang Jian menempelkan tangannya kembali kepundak Jiji untuk membantunya menyerap pil penyembuh tersebut dengan satu tangan lainnya masih menopang tubuh lemas Jiji.
perlahan-lahan tubuh Jiji berangsur pulih, bahkan bekas luka cambuk di punggung Jiji hilang tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.
Dengan gerakan cepat, Yang Jian membuka jubahnya dan memakaikannya ke tubuh Jiji agar tidak ada yang melihat perubahan punggung Jiji.
Kini kondisi Jiji telah pulih sepenuhnya seperti tidak pernah terluka sedikitpun. Bahkan tubuh Jiji jauh lebih kuat dan berenergi dari sebelumnya.
Jiji menatap Yang Jian yang tersenyum kepadanya. "Apa kau baik-baik saja?" Suara lembut Yang Jian sungguh menenangkan, Jiji tidak sadar bahwa dia memandang Yang Jian yang yang masih mendekap tubuhnya.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa sembuh semudah itu?" Jingjing merasa heran melihat perubahan drastis Jiji. Pasalnya tubuh Jiji yang dia lihat sebelumnya lemah dan pucat.
Begitu juga dengan semua orang yang hadir disana, mereka juga tidak kalah heran.
"Kau... apa kau melakukan sihir? Apa yang kau beri padanya? Aku melihatmu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, kau pasti memasukkan mantra sihir padanya, iyakan?"
__ADS_1