
"Aku tidak tertarik berkenalan denganmu, paman." Balas Yang Jian tenang. Ucapan Yang Jian membuat pria itu terkekeh pelan.
"Jangan terlalu serius anak muda, serius tidak menjamin hubungan kita sampai kehadapan pendeta suci." Balas pria itu seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Tetapi akan membawamu ke hadapan sang pencipta!" Balas Yang Jian dengan seringaian. Seringai yang mampu menggetarkan pria didapannya.
Dimulai dengan serangan petir-petirnya, Yang Jian menutup mata seraya mengumpulkan qi yang cukup banyak demi melancarkan satu serangan besar.
Aura disekeliling Yang Jian berubah mencekam, petir berwarna biru sedikit transparan mulai mengelilingi Yang Jian. Pasokan energi ditubuhnya semakin besar, hingga mencapai batasnya. Yang Jian mulai membuka mata, tatapan tajam menghunus pria itu.
Petir-petir yang semula mengelilingi Yang Jian mulai bergerak cepat. Bagai ular, petir yang berjumlah banyak mulai mengincar pria yang berhadapan dengan dirinya sebelumnya dan juga beberapa rekannya yang berada di sekitar Yang Jian.
Seolah memiliki jiwa sendiri, ular-ular petir Yang Jian bergerak cepat mengincar dan menyerang orang-orang yang telah tuannya targetkan. Dimulai dari menggigit, melilit hingga mencabik-cabik tubuh musuh. Setiap kali ular petir Yang Jian terputus akibat serangan balik dari lawan, maka akan tumbuh ular petir lainnnya seolah tiada habisnya.
Yang Jian masih berdiri di posisinya, mengendalikan ular petirnya dengan ganas. Semakin lama, semakin banyak juga jumlah korban ditangan Yang Jian. Sehingga mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya untuk membunuh Yang Jian.
"Sial*n! Petir-petir ini tidak pernah habis." Keluh salah satu pria muda yang mengenakan jubah khusus Sekte Ular Sembilan. "Jangan berhenti! Terus serang ular petirnya. Dia pasti menggunakan qi yang besar untuk mengendalikan jurus ini. Buat dia kelelahan, maka kita akan dengan mudah mengalahkannya" Seru salah satu di antara mereka.
__ADS_1
Kini semakin banyak jumlah orang yang mengincar Yang Jian, namun yang di incar malah tetap dengan sikap tenang. Tidak ada rasa takut sedikitpun yang terpancar dari raut wajahnya. Benar jika dirinya mengeluarkan qi yang tidak sedikit untuk mengendalikan ular petir dan menumbuhkannya kembali, namun bukan berarti Yang Jian akan dengan mudah untuk dikalahkan.
~~
"Brakkk!" Satu serangan terakhir menumbangkan Tetua Zhao, kondisi tubuhnya cukup buruk. Banyak luka menghiasi tubuhnya, ditambah lagi darah yang masih mengucur deras. 'Hufttt!' Tetua Fang menghela nafas pelan. Membutuhkan waktu yang tidak sedikit sampai pada akhirnya dirinya memenangkan pertarungan. Tetua Fang menyapu pandangannya keseluruh penjuru. Pertarungan telah berakhir, dan pihak mereka adalah pemenangnya.
Seluruh manusia bertudung tergeletak di atas tanah bersimbah darah. Satu tempat menarik perhatian Tetua Fang, tempat dimana Yang Jian membantai manusia bertudung. Semua dalam kondisi yang sama, tubuh yang penuh luka sayatan dan kepala yang terlepas dari tubuh.
Sayatan di leher yang rapih, menunjukkan jika Yang Jian memenggal kepala mereka dalam sekali tebasan.
"Apa semua telah selesai?" Tiba-tiba kelompok lainnya muncul, dipimpin oleh pria botak dengan jubuh khusus Sekte Gunung Suci. Mereka yang awalnya membagi kelompok menjadi dua bagian kini berkumpul kembali. Tampak Tao Shilin berada di salah satu barisan.
"Saat kami tiba di markas mereka, hanya mayat yang menyambut." Tetua Tuoli menjelaskan bagaimana kondisi halaman markas dan dalam ruangan yang dipenuhi mayat. Tiada tanda-tanda kehidupan sedikitpun. "Dari yang kami teliti, seharusnya pertarungan tersebut masih baru, terjadi beberapa jam sebelum kedatangan kami."
"Apa ada kelompok lain yang mendahului kita?" Tanya Tetua Fang, yang lebih ia tujukan kepada dirinya sendiri. Pasalnya, tiada kelompok lain selain aliansi mereka yang mengikuti misi tersebut. Mustahil ada kelompok lain yang bermain di balik layar.
"Tidak peduli siapa mereka, kelompok tersebut telah membantu mengurangi tanggungjawab kita." Jawab Tetua Tang. Ya, mereka berpikir bahwa orang yang membantai kelompok aliran sesat tersebut adalah berkelompok dan bukan hanya seorang.
__ADS_1
"Sebaiknya kita kembali kepusat kota sekarang." Tiba-tiba Tetua Yin Xia menimpali, salah satu tetua Sekte Vermilion Api. Sekte yang dikenal dengan kecepatan dan kelihaian mereka dala memperoleh informasi. Tetua Yin Xia menjelaskan jika dirinya baru saja mendapatkan informasi penting dari salah satu muridnya yang ditugaskan memantau situasi di Kota Batu.
"Pusat kota diserang oleh Sekte Cakar Iblis dan Sekte Ular Sembilan." Satu kalimat yang keluar dari mulut Tetua Yin Xia mampu membungkam semua orang, tanpak keterkejutan menguasai mereka. Tak ingin membuang waktu, untuk memastikan informasi tersebut, mereka bergegas berangkat menuju pusat kota.
~~
Kondisi pusat Kota Batu semakin tidak terkendali, jumlah korban semakin bertambah. Begitu juga dengan aset yang berada di sekitar pertarungan terjadi telah rata dengan tanah. Bau amis darah bersatu dengan udara. Disempurnakan dengan cuaca yang panas terik.
Saat ini Yang Jian mencoba mengamankan beberapa manusia biasa yang terjebak di antara reruntuhan bangunan, namun saat mencoba keluar, Yang Jian dihadang oleh lima cultivator puncak master.
"Mau kemana kau? Jangan harap bisa lolos dari kami!" Salah satu diantara kelima orang yang menghadang Yang Jian memberi kode kepada temannya agar bergerak mengepung Yang Jian dari segala arah. Kini posisi Yang Jian beserta manusia biasa yang ia tolong berada ditengah-tengah mereka.
Yang Jian mengumpat dalam hati, bisa saja dirinya mengalahkan kelima orang tersebut. Namun di lain sisi dia juga harus memastikan keselamatan orang-orang yang ia bawa. Sepertinya keberuntungan tidak ada di pihak Yang Jian, tidak ada satupun rekan yang berada di sekitarnya, tetapi pihak lawanlah yang semakin banyak bertambah.
"Hahaha, kini kau tidak bisa kabur lagi anak muda." orang-orang yang mengepung Yang Jian semakin banyak, memblokir akses keluar Yang Jian. Yang Jian menatap sepasang ibu dan anak yang masih berusia delapan tahun terduduk lemas ditanah sambil berpegangan tangan. Tampak raut wajah ketakutan dari wajah mereka, diikuti dengan punggung bergetar.
"Tidak apa nak, kau bisa pergi menyelamatkan dirimu. Tolong tinggalkan kami." Suara wanita itu terdengar pelan dan lemah, namun masih mampu didengar oleh Yang Jian. Anak lelaki yang bersamanya meraih ujung jubah Yang Jian sambil mendongak menatap manik mata birunya.
__ADS_1
Yang Jian yang merasa jubahnya disentuh mengalihkan tatapannya terhadap anak lelaki tersebut, seulas senyum tulus terbit dari kedua sudut bibirnya yang lemah dan pucat. Anak itu seolah sedang memberi isyarat kepada Yang Jian jika mereka akan baik-baik saja.
"Arghhh lama!" Orang-orang tersebut kehabisan kesabaran, berame-rame mereka meluncurkan satu serangan mengarah kepusat Yang Jian berada. Energi kuat nan dahsyat berwarna hijau transparan dan hitam pekat bergerak cepat menghantam Yang Jian dan sepasang ibu dan anak tersebut.