Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 129: Perundungan II


__ADS_3

"Si- siapa kau?" Seorang pemuda memberanikan diri untuk berbicara. Manik hitamnya yang bergetar mencoba menatap pemuda asing dihadapannya. Saat pemuda itu menatap manik biru Yang Jian, pemuda itu sontak saja menundukkan kepala. Wajahnya pusat pasi dan keringat dingin semakin mengucur deras. Mata itu terlalu menakutkan.


Yang Jian mengamati jika para murid di hadapannya berada di tingkat Cultivator puncak warior. Itu sebabnya mereka begitu tertekan begitu aura Yang Jian menekan mereka.


Sementara itu, Qin Lienhua menarik Chen Tianzy mundur hingga menjauhi radius dimana aura mencekam Yang Jian tidak mengenai mereka. Namun tubuh Qin Lienhua dan Chen Tianzy tampak sedikit bergetar saat tanpa sengaja mereka merasa tertekan.


"Aku tidak ingin mengurangi jumlah murid Sekte Awan Putih."


Ucapan Yang Jian yang begitu tenang membuat kuping para murid yang merundung kelompok Saudara Ling berdengung. Mereka jelas tahu jika nyawa mereka tengah terancam.


"Bagaimana menurutmu?" Yang Jian melirik Saudara Ling menggunakan ekor matanya. Saudara Ling tampak gelagapan menjawab Yang Jian.


Kini tatapan para murid perundung mengarah kepada Saudara Ling. Hidup dan mati mereka kini berada di tangan pemuda yang mereka sebut sampah tersebut.


Saudara Ling tertegun untuk sejenak, bahkan bibirnya seolah terkunci rapat tanpa tahu harus bereaksi seperti apa.


Yang Jian tidak menunjukkan ekpresi apa-apa. matanya yang tenang dan dalam membuat siapa saja sulit untuk menerka suasana hatinya. Rambut halus yang terjatuh di sisi dahinya yang dingin menunjukkan ketidakpedulian dan rasa bosan. Hal itu membuat Saudara Ling semakin gugup.


"Haruskah aku menunggu lebih lama." Kata-kata itu mengandung nada malas dan perasaan dingin, membuat darah para perundung berdesir hebat.

__ADS_1


"Aku percaya padamu." Begitu suara Saudara Ling jatuh. Dunia para perundung seolah runtuh, wajah pucat disertai keringat dingin membasahi jengkal kulit mereka.


Yang Jian terkekeh pelan, mengangkat tangan dengan malas dan menyugar rambut halus yang terjatuh di dahinya. Gerakannya begitu lambat dan anggun. Menunjukkan jati diri yang begitu luar biasa dan tak terjangkau.


Qin Lienhua dan Chen Tianzy tidak bisa memalingkan tatapan mereka dari objek penting di depan sana. Mendengar setiap ucapan dan melihat setiap tindakan yang dilakukan. Ada ekpresi serius yang terpancar dari raut wajah kedua gadis beda generasi tersebut.


Begitu titah turun, dalam hitungan detik seluruh Murid Dalam Sekte Awan Putih tergeletak di atas tanah, seluruh tubuh mereka diselimuti aura ganas yang membuat siapa saja bergidik ngeri. Perlahan-lahan darah menetes pelan hingga lancar dari setiap pori kulit. Pemandangan berdarah akhirnya terjadi juga, dan ekpresi Yang Jian tetap setenang di awal.


Setelah membereskan para murid perundung, Yang Jian melemparkan beberapa pil kepada Saudara Ling untuk dikonsumsi. Saudara Ling beserta rekannya mengucapkan banyak terimakasih sebelum meninggal tempat lebih awal.


~~


Saat ini Yang Jian memaduki Dunia Surgawi. Pertama sekali, Yang Jian mengecek kondisi Yang Shui, tampak tanda-tanda yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Rona merah dan deru napas stabil menunjukkan jika kondisi tubuh Yang Shui diperkirakan akan pulih dalam waktu dekat.


Tak ingin membuang banyak waktu, Yang Jian berjalan menuju kolam qi kemudian perlahan melepas jubah luarnya hingga menyisakan kain tipis hitam transparan yang mencetak jelas otot perut serta dada bidang miliknya.


Mencelupkan kaki kedalam air kolam, Yang Jain akhirnya menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam dan hanya menyisakan kepala yang berada di atas air.


Sensai panas namun perlahan mengalir melalui pori-pori kulit Yang Jian, hingga menyebar ke seluruh tubuhnya. Yang Jian mengepalkan tangannya berusaha menekan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Tak butuh waktu lama bagi Yang Jian untuk menormalkan kondisi tubuhnya.

__ADS_1


Kini rasa panas yang menjalar berubah dan digantikan dengan sensasi yang menyegarkan. Yang Jian dapat perasakan aliran qi murni yang bergejolak di dalam dantiannyan dan menyebar keseluruh tubuhnya. Disertai dengan tubuh yang semakin menguat.


Darah raja dan ratu siluman yang menyatu dengan darah di tubuh Yang Jian membuat auranya semakin agung, tubuhnya memancarkan rasa dingin dan tak tersentuh. Seoalah ada dinding besar yang menghalangi antara dirinya dengan dunia luar.


Setelah cukup berendam, Yang Jian kembali mengenakan pakaian baru dan jubah baru. Dan dengan satu kibasan tangan, surai panjang miliknya yang terkena air kolam menjadi kering seolah tak pernah bersentuhan dengan air sebelumnya. Angin sepoi-sepoi perlahan berhembus dan menyapu surai perak nan lembut milik Yang Jian.


Di luar gua, Yang Jian mengambil satu kitab berwarna kecoklatan. Jelad kitab tersebut tampak tua, namun masih cukup terawat. Yang Jian membuka lembaran demi lembaran kitab tersebut, jemarinya yang mulis dan ramping bergerak anggung di atas anggun. Tampak kontras dengan warna kitab.


Kitab tersebut adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang diwariskan Xiao Ming kepadanya. Saat ini Yang Jian masih mempelajari ilmu tersebut di tingkat tiga dan berhenti akibat perburuan siluman yang dia lakukan beberapa tahun sebelumnya.


Yang Jian perlahan bermeditasi dan membaca kitab tersebut secara perlahan dan tenang, Yang Jian telah memahami seluruh isi kitab sebelumnya, kini Yang Jian hanya perlu mengualngi dan mempraktekkannya. Yang Jian berniat melatih ilmu tersebut hingga tingkat terakhir untuk menyempurnakan ilmu pedangnya.


Dengan begitu, Yang Jian akan memiliki kepercayaan diri untuk kembali ke Klan Yang dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya dan Yang Shui. Serta dapat membersihkan darah kotor yang menodai Klan Yang.


Mengingat hal itu, tatapan mata Yang Jian semakin tajam dan bengis. Aura di seluruh tubuhnya berubah gelap. Dengan satu pedang di tangan kanannya, Yang Jian mulai memasang kuda-kuda awal. Kemudian secara perlahan mulai bergerak perlahan mengikuti instruksi isi kitab tersebut.


Gerakan Yang Jian yang tajam dan anggung mengalir secara bersamaan, mata pedang yang tajam bergerak bebas menebas ruang kosong seolah setiap musuh ada di tempat tersebut. Manik tajam Yang Jian perlahan, namun hal itu tidak membuat gerakan Yang Jian semakin melemah.


Justru kian waktu, pedang Yang Jian seolah memancarkan energi besar yang mampu menembus apapun. Yang Jian terus bergerak bebas sambil menutup matanya. Meningkat ilmu pedangnya hingga ketingkat dan level tertentu. Gerakan Yang Jian telah melewati tingkat empat ilmu tersebut, namun tampaknya Yang Jian tidak ingin berhenti dan terus bergerak mengikuti intruksi isi buku dengan instingnya yang kuat.

__ADS_1


Semakin lama, gerakan Yang Jian semakin cepat dan tak terkendali. Gerakannya yang rumit membuat Yang Jian bagaikankan sebilah pedang yang bergerak bebas dan tak terkontrol.


__ADS_2