Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 97: V


__ADS_3

Tetua Kaibo beserta sepuluh tetua lainnya melayang di atas meraka. Aura cultivator legenda tahap menengah terpancar dari tubuh masing-masing. Namun aura Tetua Kaibo jauh lebih kuat dan pekat. Melihat itu membuat pihak Kota Batu melemas dan mulai bertanya-tanya.


"Sebenarnya apa tujuan kedatangan kalian!" Bangsawan Jingmi berbicara menggunakan qinya, sehingga suaranya mampu di dengar oleh semua orang.


Diketahui, setiap sekte besar hanya memiliki paling banyak sekitar sepuluh sampai lima belas cultivator di tahap legenda. Karena, untuk menciptakan cultivator setingkat legenda bukanlah perihal yang mudah.


Cultivator legenda ibarat berlian yang harus di jaga sedemikian rupa, dan pergerakan mereka juga bukan main-main. Kecuali misi tersebut adalah misi tingkat tinggi atau perintah langsung dari patriak. Seperti misi yang Tetua Fang, dan Tetua Tang lakukan saat ini, maka cultivator legenda tidak akan pernah turun tangan.


Namun kini apa yang mereka lihat? Sebelas cultivator legenda tahap menengah? Gila! Mereka sungguh-sungguh ingin meratakan Kota Batu dengan tanah. Apa yang mereka inginkan di Kota Batu.


"Berani-beraninya manusia rendahan sepertimu mempertanyakan kedatanganku!" Tetua Kaibo menatap nyalang Bangsawan Jingmi. Sedetik kemudian kilatan cahaya berawarna merah bergerak cepat menyambar Bangsawan Jingmi. Namun, serangan tersebut ditahan oleh Tetua Fang. "Lawanmu adalah aku!"


Tetua Kaibo dan Tetua Fang melayang di atas udara, meraka saling bertukar jurus tingkat tinggi. Pertukaran jurus diantara mereka menimbulkan suara keras nan menggelegar bagai petir yang saling bersahutan. Beginilah dahsyatnya pertarungan antara cultivator legenda yang sesungguhnya.


"Cepat! Jauhkan orang-orang!" Tetua Tang berbicara keras. Setiap orang bergerak mundur menjauhi Tetua Fang dan Tetua Kaibo. Mereka tidak ingin menjadi sasaran jurus mereka yang menyasar. Berbeda dengan Yang Jian, dirinya seolah tidak peduli akan keadaan sekitar. Baginya, pembantaian ini adalah prioritas utama.


"Dia bukan manusia! Dia bukan manusia!" Beberapa orang mulai berteriak histeris dan bergerak mundur, menatap Yang Jian dengan sorot mata ketakutan.

__ADS_1


"Ya! Aku bukan manusia. Aku adalah dewa pencabut nyawamu!" Balas Yang Jian sambil menyeringai kejam yang terbit di bibirnya. Bukan terlihat manis, seringai Yang Jian malah menambah ketakutan bagi orang-orang yang menyaksikannya.


Yang Jian kembali menyerang, memainkan pedang nya dengan tangan kanan dan tangan kiri ia gunakan untuk mengendalikan bola-bola api beserta petir bertegangan tinggi. Membakar dan menghanguskan orang-orang serta menebas tubuh mereka dengan ganas dan tanpa ampun.


Ya. Yang Jian tampak sangat menikmati pembunuhan ini! Entah apa yang menjadi pemicunya.


"Sial*n! Berani-beraninya kau bocah! Lihat saja. Aku akan menjadikan tempat ini menjadi pemakamanmu!" Seorang pria yang mengenakan jubuh khusus Sekte Ular Sembilan mengeram dengan muka memerah menahan amarah. Rahangnya mengeras dan diikuti dengan kedua tangan terkepal kuat.


"Dan kalian akan menjadi pupuknya!" Balas Yang Jian dingin. Dengan gesit Yang Jian melayangkan serangan demi serangan. Oarang yang sebelumnya menantang Yang Jian berakhir dengan tubuh tanpa bentuk akibat dari ganasnya petir Yang Jian menyambar dan membakar gosong orang tersebut.


Pertarungan terus berlanjut, waktu yang mereka habiskan untuk mencabut nyawa lawan masing-masing sudah tak terhitung lagi. Bahkan seluruh pepohonan dan bangun telah rata dengan tanah. Ditambah lagi warna tanah yang semula kecokelatan berubah menjadi merah. Merah darah.


Yang menarik perhatian adalah tato yang menghiasi salah satu bagian tubuh mereka dan juga jubah yang hanya dimiliki oleh kelompok mereka. Ya, Organisasi Bunga Mawar. Organisasi dengan kekuatan dan kemisteriusan. Tak bisa dipungkiri, kedatangan kelompok mereka menimbulkan reaksi yang berbeda-beda.


Ada yang merasa was-was, khawatir, bahagia, dan juga kagum. Bahkan Yang Jian sendiri sampai mengalihkan tatapannya melihat kelompok tersebut. Memang kehadiran Organisasi Bunga Mawar sudah dapat dirasakan oleh Yang Jian maupun cultivator lainnya. Hal tersebut wajar jika seorang cultivator memiliki insting yang kuat.


Namun mereka tidak pernah menyangka jika organisasi kuat tersebutlah yang akan datang. Kecuali beberapa orang tentunya. Contohnya Bangsawan Jingmi. Harapan yang besar tampak terpancar dari sorot mata lelahnya.

__ADS_1


"Apa ini? Mengapa tidak ada yang memberitahu jika organisasi itu berada di kota ini?" Satu dari sebelas cultivator legenda dari kelompok sekte aliran hitam menatap dingin, namun tak bisa dipungkiri jika ia merasa sedikit khawatir.


Siapa yang tidak mengenal organisasi tersebut? Bahkan hanya dengan menyebut namanya saja mampu membuat orang merinding. Pihak kekaisaran sekalipun menaruh hormat terhadap organisasi tersebut.


"Sial! Tidak ada yang bisa kita lakukan selain melawan." Balas tetua lainnya. Sudah jelas jika kedatangan organisasi tersebut bukan untuk membantu mereka melainkan sebaliknya. "Salah satu diantara kita segera pergi dan laporkan ini kepada Yang Mulia. Cepat!"


Tanpa menunggu lama, salah satu diantar mereka memisahkan diri dan melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Kota Batu. Tentu ada yang menyadari pergerakan tetua tersebut, namun tidak ada yang mencoba menghentikannya. Semua orang memiliki lawan masing-masing.


Begitu juga dengan Organisasi Bunga Mawar. Seolah telah terlatih, semua pria bertato kelopak dengan warna berbeda tersebut berpencar dan mulai memasuki medan tempur. Tidak sulit untuk mengenali mana lawan mana kawan. Karena semua orang memakai jubah khusus sekte atau kelompok mereka, seolah menegaskan identitas masing-masing.


Hari sudah mulai gelap, matahari telah kembali kepersembunyiannya, enggan untuk menampakkan diri lebih lama. Hawa udara mulai dingin, namun pertarungan dua kubu di salah satu kota tersebut masih memanas. Hingga salah satu pria berjenggot berseru keras memerintahkan kelompoknya agar mundur sementara.


"Ayo mundur!" Tetua Kaibo beregerak mundur dan diikuti oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang mencoba menghentikan dari pihak musuh. Sebab semua orang telah kelelahan. Lebih baik mereka menghentikan pertarungan untuk sementara dan melanjutkan kembali esok hari.


"Kalian juga mundur!" Kali ini Tetua Tang lah yang berbicara, memerintahkan rekannya agar menarik mundur pasukan dan membantu para cultivator yang telah tumbang untuk segera diamankan. Mereka saling bahu membahu untuk menyelamatkan rekan-rekan seperjuangan mereka.


Beberapa orang mulai meneteskan air matanya melihat saudara seperguruan dan saudara seperjuangan mereka telah gugur. Ditambah lagi banyak jumlah cultivator yang terluka, baik luka parah maupun luka ringan, segera diamankan untuk ditangani lebih lanjut.

__ADS_1


Berbeda dengan kubu musuh, rekan mereka yang meninggal ditinggalkan begitu saja. Mereka hanya menyelamatkan orang-orang yang masih bertahan. Ya, begitulah kejamnya aliran hitam. Cenderung hanya mengutamakan diri sendiri.


__ADS_2