Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Bab 132: Yang Shui Dan Yang Jian


__ADS_3

Suasana menjadi sedikit canggung untuk beberapa saat. Baik Yang Jian maupun Yang Shui berusaha mengatur suasana hatinya saat ini.


Setelah jeda beberapa saat akhirnya suara lembut jatuh. "Bagaimana kabarmu?" Yang Shui menatap putranya intens.


Wajah bayi dan kekanan-kanakan Yang Jian tumpang tindih dengan wajahnya ketika dewasa saat ini. Tampak persis seperti Yang Shui lima poin. Hanya saja melihat manik biru Yang Jian membuat pandangan Yang Shui sedikit rumit.


"Aku baik-baik saja! Bagaimana dengan ibu? Apa Ibu merasa tidak nyaman dimanapun?"


Walau tanpa fluktuasi, Yang Shui dapat mendengar nada kekhawatiran yang tersembunyi dari suara Yang Jian, seketika perasaan rumit Yang Shui sedikit mereda.


Senyum manis terbit di sudut bibirnya, "Ibu baik-baik saja." Mata Yang Shui sedikit berkabut, "Ibu baik-baik saja, nak!" Ulang Yang Shui sedikit serak, mencoba meyakinkan Yang Jian agar tidak khawatir.


"Itu baik."


Pembicaraan terhenti, Yang Jian mengerutkan bibir tipisnya. Mencoba mencari topik apapun untuk dibicarakan dengan Yang Shui. Pada akhirnya Yang Shui berinisiatif menjelaskan beberapa kondisi yang ingin diketahui Yang Jian sejak lama.


"Ibu minta maaf karena meninggalkanmu begitu lama. Ibu terlambat, maaf!" Pada titik ini Yang Shui menundukkan kepala sedikit.


"Mungkin banyak hal yang ingin kau tanyakan kepada ibu." Yang Shui kembali mengangkat kepalanya, menatap langsung manik biru Yang Jian dengan serius.

__ADS_1


"Saat itu adalah waktu tersulit bagi Ibu, ibu terpaksa menyegel kekuatanmu." Yang Shui perlahan menjelaskan kejadian belasan tahun lalu kepada Yang Jian, kejadian saat dimana kebakaran itu terjadi dan hampir merenggut nyawa keduanya. "Alasan mengapa mata merahmu berubah menjadi biru." Yang Shui menyentuh kelopak mata kiri Yang Jian dengan lembut, mengusapnya beberapa kali.


"Baik hidupmu maupun hidup ibu dipertaruhkan saat itu. Ibu tidak punya pilihan lain selain mengutus salah satu orang kepercayaan ibu untuk mengirimmu ke Lembah Neraka." Yang Shui menghela napas pelan. Ingatannya melayang jauh ketahun-tahun terberat saat itu. Wajah Yang Shui tampak tenggelam dengan kobaran api amarah di matanya.


"Ibu tidak pernah menyangka bahwa orang terdekat kita akan begitu menginginkan nyawa kita bahkan tanpa mengingat hubungan darah." Yang Shui menggertakkan giginya dengan tangan terkepal erat. Saat ini sosok saudara laki-laki yang begitu dirinya sayangi hadir dalam ingatannya. Namun ekpresi Yang Shui semakin penuh kebencian saat mengingat betapa bodohnya ia menganggap saudara bajing*n nya tersebut begitu tidak tahu malu dan mengkhianatinya.


Klan Yang begitu kuat dan tak tergoyahkan, bahkan Kekaisaran Qin sekalipun harus menaruh wajah untuk Klan Yang, itu sebabnya begitu banyak tangan-tangan kotor yang begitu haus darah ingin merebut kekuasaan Klan Yang. Tak terkecuali Kaisar Quon saat ini.


"Menciptakan cara tercela dan murahan untuk menipu ibu dan merebut kursi Klan Yang. Bahkan memisahkan antara ibu dan dirimu."


Kini kebencian Yang Shui tersebar keseluruh ruangan. Yang Jian yang duduk di sebelah Yang Shui tetap tenang mendengar penjelasan Yang Shui, namun hatinya kini seolah terbakar, mengingat semua hal buruk yang pernah mereka alami, apalagi mendengar penjelasan Yang Shui membuat Yang Jian semakin bertekad untuk menjadi semakin kuat dan kuat agar dapat mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik mereka.


"Paman mungkin mengira bahwa ibu sudah mati saat ini, ini baik bagi ibu untuk tidak tampil di luar hingga kondisi ibu lebih baik." Kali ini Yang Jian angkat bicara, setelah mendengar penjelasan Yang Shui. Yang Jian tahu bahwa Kaisar Quon mengira ibunya sudah tiada.


"Ya, tapi itu tidak berarti dia tidak akan mengejarmu! Klan memiliki alat pendeteksi kehidupan pemimpin Klan secara turun temurun. Pamanmu pasti telah melihat alat itu sekarang memunjukkan reaksi, yang artinya nyawamu sedang diburu." Yang Shui menjelaskan sedikit tentang alat pendeteksi kepada Yang Jian. Alat yang mampu mendeteksi kehidupan pemimpin Klan Saat ini.


Karena Kaisar Quon menganggap Yang Shui telah meninggal, itu artinya Yang Jian sebagai garis keturunan sekaligus pewarin sah Klan Yang masih hidup, itu sebabnya alat pendeteksi menunjukkan reaksi.


"Jadi untuk saat ini, demi kenyamananmu ibu tidak akan menarik segel dalam tubuhmu. Terutama manik merahmu akan begitu berbahaya." Yang Shui tidak menjelaskan lebih lanjut. Penampilan asli Yang Jian adalah manik biru dan rambut hitam pekat, bukan manik biru dan surai peraknya yang saat ini.

__ADS_1


Secara khusus Yang Jian tidak keberatan akan keputusan Yang Shui, walaupun kurang nyaman memiliki tampilan seperti ini dan ingin kembali ke tampilan aslinya. Yang Jian tidak banyak protes, lebih baik untuk menghindari resiko seminimal mungkin.


"Nak, jika saatnya tiba maukah kau menemani ibumu untuk merebut kembali Klan Yang?" Yang Shui sebenarnya sedikit ragu, bagaimana jika Yang Jian tidak tertarik dengan Klan Yang. "Ini bukan tentang kedudukan dan kekuasan, namun ibu tidak bisa melepaskan Klan untuk orang yang salah." Yang Shui buru-buru menjelaskan.


Sejujurnya Yang Shui tidak ingin terlibat dengan hal-hal serumit ini, namun setelah melihat keganasan Kaisara Quon demi merebut Klan membuat Yang Shui tidak ingin membiarkan Klan jatuh ketengan yang salah dan disalah pergunakan untuk menyesatkan dan menyengsarakan banyak orang.


Akan banyak orang yang terkena dampak buruknya jika hal itu terus berlanjut. Itu sebabnya Yang Shui bertekad untuk merebut kembali kursi kekuasaan Klan Yang. Terlebih lagi, Yang Shui bukan putri lemah lembut dan baik hati yang akam berdiam diri jika di khiananti.


"Ini demi kebaikan Klan." Lanjut Yang Shui menatap Yang Jian serius.


"Aku tahu ibu, jangan khawatir." Yang Jian memahami kelhawatiran Yang Shui. "Sejak awal aku telah berencana untuk melakukan itu." Tambah Yang Jian, pada akhirnya Yang Shui menghela napas lega.


"Lalu aku akan menunjukkan sesuatu kepada ibu." Yang Jian bangkit perlahan dan membawa Yang Shui menjelajahi Dunia Surgawi. Pertama-tamaYang Jian mulai membawa Yang Shui keluar dari gua kediamannya.


"Tempat ini disebut Dunia Surgawi." Yang Jian mulai menjelaskan tempat dimana mereka berada dan dari mana asal usul tempat tersebut. Saat mendengar penjelasan Yang Jian, Yang Shui berhenti melangkah dan tubuhnya sedikit menegang.


Yang Shui menatap Yang Jian dengan mata bulat nya yang penuh keterkejutan. "Nak katamu, bagaimana bisa tempat ini menjadikanmu sebagai penerusnya?" Tanua Yang Shui tak percaya.


Yang Jian juga berhenti saat Yang Shui berhenti...

__ADS_1


__ADS_2