Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 55: Kematian Jingjing.


__ADS_3

"Apa kita saling mengenal sebelumnya? Mengapa kau..."


"Kau terlalu banyak bicara nona." Perkataan Jingjing dipotong oleh Yang Jian yang disambut pelototan tajam oleh Jingjing.


Mengobati Jiji di depan banyak orang seperti ini pasti akan mengundang tanda tanya di benak para warga. Namun Yang Jian tidak ingin mengambil resiko akan nyawa Jiji.


"Terimakasih karena telah menolongku tuan muda." Dengan hormat Jiji menunduk di hadapan Yang Jian saat kesadaran sepenuhnya telah menguasainya.


"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Ayo kita pergi!" saat Yang Jian baru melangkahkan kaki nya sambil menggandeng Jiji, Yang Jian merasakan ada energi yang menghampirinya. Dengan satu tangan Yang Jian menangkap cambuk Jingjing yang sengaja di arahkan peadanya.


Aksi Yang Jian mengejutkan Jingjing, ini kali pertama ada orang yang berani menangkap cambuk miliknya.


"Aku tidak ingin bertarung melawan wanita. Jadi sebelum aku berubah pikiran pergilah pulang kerumahmu!"


"Kurang ajar, dasar pengecut. Kau bahkan tidak berani melawan seorang wanita. Sebutan apa yang lebih pantas untukmu selain kata 'pengecut'."


Jingjing sengaja menekan kata pengecut yang diakhiri dengan meludahi tanah pijakan Jingjing, setelah itu Jingjing menginjak ludahnya dengan remeh seolah yang berada di bawah kakinya adalah Yang Jian sendiri.


"Aku seorang pria, aku menghormatimu sebagai wanita. Sebaiknya jaga sikapmu!"


"Pria? Kau bahkan tidak berani melawanku dan masih menyebut dirimu pria. Kau hanya seorang pengecut yang berlindung di balik status priamu."


Jiji menatap sendu kearah Yang Jian yang masih menampilkan wajah datarnya, Jiji tidak mengerti mengapa Yang Jian masih bisa setenang ini setelah mendapat penghinaan setajam itu.


"Lihat, kau bahkan tidak berani..."


'Crashhh.' Sebelum Jingjing sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah kepala terjatuh dan menggelinding di alun-alun desa.


'Arghhh...' Teriakan demi teriakan memenuhi alun-alun. Sadis dan menjijikkan, begitulah yang terjadi saat ini. Bahkan Jiji yang awalnya masih berada di dekapan Yang Jian seketika mundur saat melihat pedang yang awalnya terjatuh di lantai di alun-alun desa kini berpindah tempat di tangan Yang Jian dengan tetesan darah segar yang menghiasi pedang tersebut.

__ADS_1


Beberapa warga desa yang tidak memiliki mental yang kuat bahkan pingsan tak sadarkan diri, sebagian lagi memilih menjauh dan mengeluarkan isi perut mereka.


Yang Jian masih berdiri dengan tenang, dia menyapu pandangannya ke seluruh warga desa hingga pandangannya jatuh tepat di mayat seorang perempuan tanpa kepala itu.


"Bereskan mayatnya!" Perintah Yang Jian kepada dua pengawal pria yang masih dalam kondisi ngeri, namun melihat Yang Jian dan menyaksikan perbuatannya lebih ngeri bagi mereka. "Ba baik Tuan muda."


Kedua pengawal pria tersebut segera membungkus mayat Jingjing menggunakan kain, tidak lupa juga memungut kepalanya. Tidak butuh waktu lama mereka menyelesaikan perintah Yang Jian.


"Ampun tuan muda, kami akan pergi dan membawa mayat Nona Jingjing." Salah satu pengawal memberanikan diri berbicara kepada Yang Jian walaupun seluruh tubuhnya gemetaran.


"Bubar!" Satu kata dari Yang Jian membuat seluruh warga desa meninggalkan alun-alun secepat kilat. Mereka bahkan berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Takut jika Yang Jian berubah pikiran dan malah menebas kepala mereka juga.


Bagi yang pingsan di angkut seperti sedang mengangkut karung beras, tak terkecuali Nenek Po.


Kini hanya tersisa Yang Jian, dan Jiji yang berada di tengah alun-alun. Yang Jian memandang Jiji dan melihat bahwa bocah kecil di hadapannya tersebut terlihat baik-baik saja di saat bahkan pria dan wanita dewasa lainnya ketakutan bahkan pingsan di tempat.


"Kau terlihat baik-baik saja." Setelah mengatakan hal tersebut Yang Jian melangkahkan kakinya hendak pergi dari alun-alun, namun segera di cegah oleh Jiji.


"Aku harus menyelesaikan apa yang baru saja kumulai. Jika tidak ada hal lain aku pamit permisi."


"Bagaimana aku harus membalas kebaikanmu tuan?"


"Jadilah kuat! Agar kau dapat melindungi dirimu sendiri. Dan ya, jangan memanggilku tuan kurasa usia kita tidak terpaut jauh." Memang benar, usia Yang Jian baru menginjak tiga belas tahun dan bocah di hadapannya masih tampak berusia tujuh tahun.


"Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?"


"Berapa usiamu?"


"Tujuh tahun tu eh, ya tujuh tahun."

__ADS_1


"Kakak Yang, panggil itu saja, usia kita hanya berbeda enam tahun." Jelas Yang Jian. Jiji tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar penuturan Yang Jian, Jiji melihat Yang Jian tampak berusia enam belas tahun karena tubuhnya yang lebih besar dan tinggi dari bocah seumurannya.


"Terimakasih kakak Yang, aku akan mengingat nasehatmu."


"Memang harus, kau tampak seperti bukan anak-anak yang tidak pernah melihat pembunuhan." Yang Jian dapat melihat bahwa Jiji tidak terpengaruh sama sekali melihat aksinya tadi. Hal ini membuktikan bahwa Jiji pernah melihat pembunuhan juga sebelumnya.


"Kakak Jiji!" Jiji dan Yang Jian menatap ke sumber suara, seorang bocah kecil berjalan menggunakan sebuah tongkat kayu kecil sambil bersusah payah.


"Yi'er apa yang kau lakukan. Kakak kan sudah mengatakan agar kau menunggu kakak pulang. Mengapa kau malah datang kesini."


Jiji yang melihat kedatangan Yiyi segera menghampirinya dan menuntun Yiyi menuju sebuah kursi di tengah alun-alun.


"Apa kakak baik-baik saja. Apa ada yang sakit kak" Terlihat raut wajah Yiyi cemas dan bercampur dengan ketakutan, dengan peluh yang masih membasahi keningnya dia berusaha memeriksa kondisi tubuh kakaknya.


"Sudah lah Yi'er kakak tidak apa-apa."


"Kakak tahu saat aku mendengar suara ribut warga desa yang mengatakan bahwa kakak akan di hukum, aku sangat ketakutan kak. Aku hanya memiliki kakak saja, aku tidak ingin jika harus kehilangan kakak."


Yiyi memeluk Jiji dengan erat, dia membenamkan kepalanya di dada sang kakak dan terisak pelan.


Jiji tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan sang adik, dia hanya membalas pelukan Yiyi dengan tangan kanan nya dan tangan kirinya mengusap-usap pelan rambutnya. Membiarkan Yiyi tenang hingga berhenti menangis.


Yang Jian memandang sepasang saudara yang tengah berpelukan tersebut yang dia dengar bernama Jiji dan Yiyi, tatapan Yang Jian seolah kosong tak terbaca, dia mengepalkan tangannya di balik jubah mewah pemberian sang ayah. Karena tidak tahan Yang Jian memalingkan wajahnya sambil menarik nafas perlahan.


"Yi'er, apa kau sudah merasa lebih baik?" Jiji mengangkat dagu Yiyi agar dapat menghapus air matanya.


" Sudah kakak."


" Ini Kakak Yang, dialah yang telah membantu kakak. Cepat berterimakasih padanya." Ucap Jiji sambil beranjak berdiri membawa Yiyi ke hadapan Yang Jian. " Kakak Yang, perkenalkan ini adikku Yiyi."

__ADS_1


"Terimakasih karena telah menolong kakak ku Kakak Yang." Ucap Yiyi sambil menunduk hormat.


__ADS_2