Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 103: Makhluk Buangan


__ADS_3

"Terimakasih atas bantuan mu, Tuan Muda. Perkenalkan nama saya Qin Lienhua dari Sekte Naga Awan dan-" Qin Lienhua berjalan perlahan menuju Yang Jian sambil menunduk hormat sebagai ucapan terimakasih. Namun saat mengangkat kepala Qin Lienhua menghentikan ucapannya. Awalnya Qin Lienhua merasa tidak yakin, namun setelah melihat dengan seksama kini Qin Lienhua akhirnya menyadari siapa pemuda yang menolongnya barusan.


Melihat itu Qin Lienhua terdiam membeku, rasa kagum dan terkejut tampak sangat jelas dari sorot matanya. 'Bagaiman bisa Yang Jian bisa sekuat ini?'Pikir Qin Lienhua sedikit iri.


Baru saja Qin Lienhua ingin berbicara, Yang Jian menunduk singkat dan meninggalkan Qin Lienhua masih dengan raut wajah terkejut.


Sikap Yang Jian membuat Qin Lienhua melongo dengan mulut terbuka sedikit. Statusnya sebagai putri Kaisar Qin tampak tak ada harganya di mata Yang Jian. Membuat Qin Lienhua meringis ngilu.


Hanya beberapa saat setelah Yang Jian meninggalkan lokasi Qin Lienhua, kini dirinya di hadang oleh tiga orang cultivator Sekte Ular Sembilan. Sekitar Yang Jian tampak beberapa mayat tergeletak di tanah. Darah yang belum mengering menguar ke udara menghasilkan bau amis yang menyengat. Yang Jian tampak tidak terganggu akan pemandangan menjijikkan di sekitarnya dan malah menatap lurus kedepan.


Sedangkan orang yang di tatap mengepalkan tangan kencang berusaha menahan amarahnya. "Apa yang kau lakukan bocah? Beraninya sampah sepertimu membunuh putraku?" Seorang pria paruh baya mengeram marah. Menatap nyalang Yang Jian seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Yang Jian tidak bergeming, masih dengan menatap datar ketiga pria paruh baya yang tampaknya berusaha menahan diri untuk membunuh Yang Jian.


"Tidak perlu banyak bicara Saudara Leng Shaoting. Dengan membunuh putramu, itu sama artinya mengibarkan bendera perang terhadap kehormatan Sekte Ular Sembilan!" Salah seorang dari pria paruh baya di sebelah kanan Leng Shaoting mempropokasi, menambah minyak amarah bagi Leng Shaoting.


Mendengar itu, air muka Leng Shaoting semakin menggelap. Kuku-kuku yang tajam menembus telapak tangannya yang masih terkepal kuat.

__ADS_1


"Kau sampah tidak berguna!" Geram Leng Shaoting seraya menarik gagang pedang yang masih terselip di sarung pedang yang bertengger di sabuk pinggangnya. Emosi Leng Shaoting tampak telah di ambang batas, aura pembunuh pekat melingkupi tubuh Leng Shaoting. Sehingga dia tampak seperti pembunuh berdarah dingin yang akan mencincang habis seluruh anggota tubuh Yang Jian.


'Sringgg!'


Bunyi tarikan pedang Leng Shaoting saat pedang itu telah berhasil lepas dari sarungnya. Mengacungkan pedang ke hadapan Yang Jian yang hanya berjarak lima meter. Saat Leng Shaoting mulai bergerak menghampiri Yang Jian, tiba-tiba saja dirinya berhenti bergerak saat mendengar ucapan Yang Jian.


"Pedang itu telah patah, Tuan Leng." Ucap Yang Jian polos seraya memiringkan kepala ke kanan menatap pedang berwarna putih pendek yang tersisa setengah karena telah kehilangan setengah bagiannya.


"Tuan Leng tentu tidak berniat membunuhku menggunakan pedang cacat, bukan?" Lanjut Yang Jian polos yang entah mengapa terdengar seperti ejekan di telinga Leng Shaoting. Rasa malu bercampur amarah tercetak jelas di muka Leng Shaoting membuat mata Yang Jian berkilat sesaat.


Ketiga pria paruh baya di hadapan Yang Jian tampak seperti berusia pertengahan empat puluh tahun, dengan tubuh tegap dan raut wajah tegas. Aura cultivator yang menguar dari tubuh mereka adalah cultivator grandmaster tahap menengah.


Leng Shaoting kini mulai menstabilkan amarahnya, "Sombong!" Leng Shaoting berludah, tatapan malu kini berubah menjadi tatapan meremehkan. "Sejujurnya aku tidak peduli, tetapi bermain-main sedikit dengan sampah sepertimu tampaknya akan sedikit menyenangkan." Ucap Leng Shaoting terkekeh pelan. Amarahnya saat mengetahui Yang Jian membunuh putranya tampaknya hanya omong kosong belaka.


"Apa tujuan kalian?" Yang Jian yang merasa bahwa pria di hadapannya banyak omong membuat Yang Jian mengeluarkan pertanyaan yang selama ini tertahan di tenggorokan. Walaupun Yang Jian tidak berharap akan memperoleh informasi, setidaknya ia ngin mencoba.


"Ha ha ha... Apa ini ucapan perpisahanmu?" Sarkas Leng Shaoting dengan nada menjengkelkan. "Baiklah baiklah. Anggap saja ini sebagai penghormatan terakhir bagimu."

__ADS_1


Yang Jian terdiam, menunggu Leng Shaoting melanjutkan ucapannya.


"Kami ingin mengacaukan Kota Batu, tentunya. Dan juga untuk mencari Makhluk Buangan Klan Yang!"


Bertepatan dengan selesainya ucapan Leng Shaoting, saat itu juga kepala Leng Shaoting terpisah dengan tubuhnya. Tak ada satupun yang menyadari, semua terjadi hanya dalam satu kedipan mata. Kedua pria paruh baya yang berada di belakang mayat Leng Shaoting membeku. Mata melotot pertanda keterkejutan.


Kini tubuh Yang Jian di selimuti aura hitam yang pekat, aura yang mencekam seolah-olah menarik siapapun untuk masuk ke lingkar hitam kematian.


Tiba-tiba saja Yang Jian meninggalkan lokasi pertarungan. Terbang dengan kecepatan tinggi menuju timur kota. Yang Jian berhenti dan melompat ke puncak pohon tertinggi di pinggir kota tersebut. Dari tempat itu Yang Jian mampu melihat pertarungan.


Tiba-tiba tanda phoenix di kening Yang Jian bersinar dalam hitungan detik, bersinar indah bagaikan mentari. Namun hanya Yang Jian yang mampu melihat sinar tersebut. Sinar keemasan tersebut adalah pertanda jika Yang Jian baru saja mengaktifkan Dunia Surgawi.


Yang Jian tampak terdiam sebentar. Bukan karena Yang Jian benar-benar diam. Namun Yang Jian tengah melakukan komunikasi terhadap para bawahannya, para raja dan ratu siluman. Sudah saatnya bagi Yang Jian menguji para penghuni Dunia Surgawi tersebut.


Dalam hitungan detik aura di sekitar hutan berubah mencekam, kini hutan itu di isi oleh ratusan raja dan ratu siluman. Aura tirani yang kuat menguar dari tubuh masing-masing sang kepala siluman membuatnya terlihat seperti sekelompok predator pemangsa.


"Ku perintahkan kalian membunuh para cultivator aliran hitam itu!" Tegas nan berwibawa, aura kepemimpinan Yang Jian tampak jelas dalam setiap katanya.

__ADS_1


Seluruh raja dan ratu siluman secara serentak menunduk ke arah dimana Yang Jian berdiri, manik mata para siluman tersebut berkilat tajam sesaat sebelum berlari dengan kecepatan penuh membelah hutan hendak menembus kerumunan pertarungan.


Ratusan siluman yang berlari kencang membuat tanah sedikit bergetar, pepohonan yang menjadi jalur lintas para siluman seketika roboh dan rata dengan tanah. Manik biru Yang Jian berkilat tajam sesaat, menampilkan manik merah, semerah darah. Namun hal itu hanya berlangsung dalam satu detik, bahkan Yang Jian sendiri tidak menyadarinya.


__ADS_2