
"Anak itu berada di Kota Batu."
Seorang pemuda berjubah hitam menunduk seraya menekuk sebelah kakinya di hadapan seorang pria setengah baya, aura yang menguar tampak tajam dan berkharisma. Berdiri tegak dengan sorot mata tajam dan senyum penuh kelicikan.
"Apakah kau yakin?" Tanya pria itu kepada pemuda yang masih setia dengan posisi berlututnya. "Hamba yakin Yang Mulia, hamba dan beberapa rekan lainnya telah mengikuti jejaknya diam-diam. Dan dapat kami pastikan berdasarkan petunjuk yang sebelumnya Yang Mulia berikan, bahwa dialah orangnya." Jawab pemuda itu mantap.
Pria paruh baya tersebut tersenyum misterius. Memandang empat pemuda disatu ruangan dengannya. "Kaisar Quon, beri kami perintah!" Seorang pemuda dengan tato sayap putih di seluruh tangan kirinya berlutut disamping pemuda yang sebelumnya membawa berita mengenai keberadaan Yang Jian.
Panglima Chen, Panglima Jun, Panglima Wun dan Panglima Ming adalah empat palima utama serta panglima tertinggi Klan Yang, serta panglima besar kepercayaan Kaisar Quon, kaisar Klan Yang saat ini.
"Tidak perlu! Kalian tidak perlu turun tangan. Untuk saat ini kita hanya perlu memantau. 'Mereka' akan segera tiba di lokasi esok hari."
Keempat panglima tersebut mengangguk pelan mengerti siapa 'mereka' yang dimaksud oleh Kaisar Quon. Mereka adalah sekte yang turut bekerjasama dengan Kaisar Quon.
~~
Kota Batu tengah digemparkan dengan kedatangan beberapa cultivator muda dan tetua perwakilan sekte besar menengah aliran putih netral. Pemerintah Kota Batu juga telah memerintahkan beberapa pengawal dan cultivator Sekte Awan Putih untuk mengamankan masyarakat terutama manusia biasa.
Laporan mengenai manusia dengan kondisi tak sadarkan diri di depan gerbang kediaman pemerintahan Kota Batu semakin memicu kegaduhan. Masyarakat semakin was-was akan hal apa yang akan terjadi kedepannya.
Sebuah bangunan besar dan megah berdiri tegap di sisi hutan bagian selatan Kota Batu. Dihuni oleh manusia bertudung lainnya. Dan kini tengah di kepung oleh cultivator muda serta tetua perwakilan dari sekte aliran putih netral.
__ADS_1
"Wah, ada tamu tak diundang kemari!" Suara nyaring menggema di depan pintu bangunan megah tersebut. Seorang pria paruh baya mengenakan jubah putih ke hijau-hijauan, diikuti oleh manusia bertudung berjalan angkuh menatap tamunya.
"Kau..." Salah seorang tetua wanita perwakilan Sekte Vermilion api menunjuk pria paruh baya yang masih tersenyun jahat. " Patriak Zhao."
"Kau mengenalnya?" Tetua Tang menatap Tetua Yin Xia, dan dibalas anggukan kepala olehnya. " Dia adalah Patriak Zhao, patriak Sekte Kabut Hijau. Yang telah menyerang Kota Xemin beberapa tahun silam." Lanjut Tetua Yin Xia dengan muka memerah menahan amarah.
Tawa menggelegar keluar dari mulut Tetua Zhao. "Aku tidak menyangka, ternyata aku sesulit itu untuk kau lupakan, manis." Balas Tetua Zhao seraya mengerlingkan sebelah matanya.
" Gagal menaklukkan Kota Xemin, kini kau mengincar kota lain?" Tetua Fang dengan jubah kebesaran Sekte Harimau Merah miliknya berbicara tenang, mengukur kekuatan Tetua Zhao yang tidak berbeda jauh darinya. Mungkin jika dirinya memiliki kesempatan bertarung satu lawan satu, maka kemungkinan besar dirinya akan keluar sebagai pemenang.
Tetapi yang membuat Tetua Fang ragu, adalah kabar yang ia peroleh mengenai kekuatan aneh yang dimiliki kelompok aliran sesat yang lebih merepotkan dari cultivator aliran hitam.
Ditambah lagi jumlah pengikut kelompok sesat di hadapannya berkali-kali lipat lebih banyak jumlahnya dibanding mereka, dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan pengorbanan yang cukup banyak jika mereka ingin memenangkan pertandingan.
"Tidak perlu membuang waktu, segera serang mereka!" Bersamaan dengan kalimat Tetua Tang. Maka pertarungan dimulai.
Tetua Fang berhadapan langsung dengan Tetua Zhao. Masing-masing di antara mereka mengambil tempat strategis guna memperkecil kemungkinan pihak lain ikut campur dalam duel mereka.
Sedangkan Tetua Tang menangani dua orang bertudung sekaligus yang kekuatannya tidak jauh berbeda dari Tetua Zhao. Sementara itu, tetua lainnya beserta para cultivator muda mengambil tempat serta lawan pertarungan masing-masing.
Di sisi lain, lebih tepatnya pusat Kota Batu. Tiba-tiba saja diserang oleh sekelompok cultivator aliran hitam. Gedung-gedung tinggi, perumahan, serta banguna kecil lainnya menjadi sasaran pembantaian. Tangis jerita masyarakat tidak dapat dielakkan. Saat ini, kota hanya dijaga oleh sebagian besar cultivator Sekte Awan Putih dan pengawal pemerintahan.
__ADS_1
Sehingga para pembantai beraksi tanpa mendapat perlawanan yang berarti.
Beberapa pengawal pemerintahan berlari tergopoh-gopoh di sebuah aula sebelum akhirnya berlutut di hadapan seorang pria berjubah mewah khusus bangsawan. Dia adalah pemerintah Kota Batu, Jingmi.
"Ampun Tuan, pusat kota telah diserang oleh sekelompok cultivator aliran hitam." Ucap salah satu pengawal seraya menunduk. Dia menjelaskan kurang lebih kondisi pusat kota saat ini, dan juga bahwa kelompok itu berkisar lebih dari lima ratusan orang dari sekte yang berbeda.
Namun yang membuat Jingmi menahan sesak adalah saat mendengar penuturan terakhir dari pengawalnya tersebut.
"Kelompok cultivator aliran hitam tersebut berasal dari gabungan Sekte Cakar Iblis dan Sekte Ular Sembilan."
Tiba-tiba saja aura di seluruh aula berubah mencekam akibat dari hawa kemarahan Jingmi, namun hawa ketakutan serta kecemasan juga tercampur didalamnya. Sekte Cakar Iblis dan Sekte Ular Sembilan bukanlah sekte sembarang, sekte tersebut adalah dua sekte besar aliran hitam yang kekuatan dan keganasannya tidak perlu di ragukan lagi.
Jingmi mendudukkan dirinya di atas kursi kebesaran pemerintahan Kota Batu. Raut wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa, walaupun saat ini ada beberapa perwakilan sekte besar aliran putih netral di Kota Batu, namun tetap saja mereka kalah jumlah.
Ditambah lagi mengenai kasus kelompok aliran sesat yang masih mereka urus. " Apa yang mereka cari di tempat ini? Apa Sekte Awan Putih mencari masalah kepada mereka?" Nada suara Jingmi terdengan pelan, suaranya agak tercekat.
Ya, hanya itu alasan yang terlintas dipikirannya perihal kedatangan tamu tak diundang tersebut. Namun, jika ditelaah kembali, mengapa pusat kota yang dibantai? Dan bukan Sekte Awan Putih?
Hening. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Jingmi, beberapa bangsawan dan tetua yang berada di aula sama paniknya dengan Jingmi. Raut wajah mereka jelas dilanda kecemasan yang luar biasa.
"Kerahkan seluruh pengawal dan para pelindung kota untuk mengamankan masyarakat sebanyak mungkin. Pimpin pasukan penjaga kota agar menutup segala akses masuk menuju Kota Batu. Kirim surat perintah kepada Organisasi Bunga Mawar perihal penyerangan ini dan minta bantuan mereka, jangan lupa jelaskan juga mengenai imbalan yang akan mereka terima."
__ADS_1
Segera, tanpa menunggu dua kali, para pengawal bangkit berdiri dan menjalankan perintah Jingmi. " Kita berangkat ke pusat kota sekarang, sebaiknya kita bicarakan baik-baik mengenai masalah ini." Jingmi yang telah siap bangkit berdiri ditahan oleh suara salah satu bangsawan.