Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 109: Madu Murni


__ADS_3

"Aku tidak pernah melihat pil dalam bentuk ini sebelumnya." Ruangan aula yang dihuni kelompok sekte aliran putih netral tampaknya tengah merunding sesuatu. Pembicaraan yang mulanya membahas proposal pengajuan dana pembangunan Kota Batu beralih topik ke pembahasan sebuah pil.


"Bukankah sebuah pil tidak memiliki bentuk dalam cairan?" Timpal Tetua Fang dengan dahi mengernyit bingung. Itu jelas, sebab sebuah pil memiliki bentuk benda padat dan bukan benda cair. Kini di hadapan mereka semua, lebih tepatnya di atas meja terdapat sebotol kaca transparan seukurun jempol wanita dewasa. Di dalam botol kaca tersebut terdapat cairan berwarana cokelat muda sedikit berkilau. Aroma yang menguar dari dalam botol tersebut juga tidak biasa, seolah menantang bagi siapapun untuk segera mencicipinya.


"Dari mana kalian mendapatkan benda ini? Bagaimanapun benda ini bukan sesuatu yang mudah ditemukan di kekaisaran ini." Tanya Tetua Tang kepada keempat bersaudara yang merupakan murid dari Sekte Naga Awan.


"Seorang pemuda memberikannya kepada kami, Tetua Tang." Saudara pertama menjawab hormat setelah mengangguk singkat. Saudara pertama menjelaskan bagaimana pemuda yang di maksud menolong mereka saat terdesak kemudian menyerahkan botol tersebut, setelahnya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Itu sebabnya kami menyerahkan botol ini kepada Tetua Tang agar mengidentifikasi isinya lebih lanjut." Ucap saudara pertama menutup penjelasannya. Setelah saudara pertama selesai berbicara, pintu ruangan terbuka menampilkan dua cultivator muda.


"Kemarilah Hua'er!" Panggil Tetua Tang ketika melihat bahwa cultivator yang baru tiba tersebut adalah murid serta keponakannya Qin Lienhua. Mendengar itu Qin Lienhua segera menunduk dan memberi penghormatan, setelahnya berjalan cepat menuju sisi Tetua Tang.


"Guru dengar kau juga memiliki benda yang sama dengan benda ini. Bisakah kau menunjukkannya kepada kami." Ucap Tetua Tang seraya menunjuk botol kaca di atas meja. Qin Lienhua segera menatap ke arah meja. Saat melihat sebuah botol, Qin Lienhu tidak bisa tidak mengernyitkan dahi, menatap intens botol tersebut dan kembali bersuara,


"Bagaimana bisa guru mendapatkan botol ini?" Tanya Qin Lienhua bingung, namun setelahnya dia kembali mengingat jika keempat bersaudara sebelumnya menanyakan mengenai botol itu kepadanya.


Pertanyaan Qin Lienhua segera mendapat reaksi dari semua orang diruangan itu. Saat ini ruangan tersebut masih di huni oleh semua kelompok sekte aliran putih dan netral tanpa terkecuali. Jadi mereka semua dapat melihat benda langka dengan aura tidak biasa tersebut.

__ADS_1


Jawaban Qin Lienhua tentu membuat mereka merasa ada sesuatu, pasalnya Qin Lienhua menjawab seolah-olah dia tahu betul mengenai botol itu. Menyadari raut wajah bertanya dari setiap orang, Qin Lienhua menghela nafas panjang sebelum berucap,


"Aku akan menunjukkannya." Qin Lienhua mengeluarkan satu botol lainnya dari balik jubahnya dan meletakkan di atas meja. Botol yang sama persis dengan botol sebelumnya. Kini ruangan tersebut di isi aroma madu yang sungguh manis dan menggugah selera, namun tidak ada satupun diantara mereka yang bergerak untuk memiliki botol tersebut secara pribadi.


Memperhatikan intens botol, seorang tetua dengan penampilan seorang biksu sejati mengernyitkan kening seolah sedang berpikir keras. Tak butuh waktu lama, tetua tersebut seketika membulatkan mata dan menahan napas panjang.


Tindakan tetua tersebut segera menarik perhatian Tetua Tang dan Tetua Fang. "Apa ada sesuatu, Tetua Tuoli?" Mereka tidak bisa menahan untuk segera bertanya kepada Tetua Tuoli.


"Dari mana kalian mendapatkan benda ini?" Tanya Tetua Tuoli masih dengan ekpresi terkejut di wajahnya. Bahkan suaranya terdengar bergetar saat berbicara. Pertanyaan Tetua Tuoli tentu mengundang tanda tanya bagi mereka, terlebih Qin Lienhua.


Saudara tertua mulai menjelaskan ciri-ciri fisik Yang Jian. Dimulai dari jubah polos tanpa satu ukiranpun untuk menegaskan identitasnya, tinggi badan, warna rambut hingga warna kulit. Dari situ Qin Lienhua mengerti bahwa pemberi botol itu adalah orang yang sama dengan yang dirinya pikirkan.


"Kurasa aku punya satu nama di pikiranku, namun aku tidak begitu yakin sebab itu sudah lama sekali." Ucap Tetua Tang setelah saudara tertua selesai bicara. Tetua Tang menjelaskan sedikit tentang pemuda yang membantunya mengalahkan cultivator aliran sesat beberapa waktu lalu.


"Benar Tetua Tang, kurasa mereka adalah orang yang sama. Kami juga melihat pemuda itu sebelumnya." Jawab saudara kedua membenarkan pemikiran Tetua Tang. Siapa yang tidak mengingat pemuda bersurai perak yang melawan kelompok aliran sesat sebelumnya? Melihat bagaimana cara bertarung pemuda itu, mungkin kata pembantaian lebih tepat untuk menggambarkannya.


"Aku juga melihatnya mengalahkan puluhan cultivator aliran hitam dalam beberapa detik, Tetua Tang." Ucap salah satu cultivator muda lainnya. Dan ucapan pemuda itu dibenarkan oleh beberapa cultivator lainnya. Mereka menjelaskan bahwa ada seorang pemuda yang sesuai dengan ciri-ciri yang di jelaskan saudara pertama meembabat habis musuh dalam jumlah banyak di waktu yang bersamaan.

__ADS_1


"Mungkin mereka adalah orang yang sama. Namun yang ku maksud, aku pernah bertemu seseorang beberapa tahun silam dan kupikir itu adalah orang sama. Tetapi setelah menimbang beberap hal, mungkin mereka adalah orang yang berbeda." Ucap Tetua Tang kemudian, kini fokusnya beralih kepada Tetua Tuoli sepenuhnya, "Jadi aku tidak begitu yakin tentang itu, Tetua Tuoli. Apa ada sesuatu yang mengganggumu mengenai hal ini?" Lanjut Tetua Tang serius.


Mendengar pertanyaan Tetua Tang dan juga reaksi Tetua Tuoli yang masih menegang seolah itu adalah hal penting membuat Qin Lienhua menelan kembali ucapannya yang hendak menyebut nama Yang Jian. Biar bagaimanapun Qin Lienhua pernah memiliki perjanjian dengan Yang Jian dimasa lalu mengenai rahasia Yang Jian yang harus ditutup rapat olehnya.


"Aku pernah mendengar ini sebelumnya saat berkeliling daratan untuk berpetualang. Setelah mempertimbangkan banyak hal aku tidak mungkin salah. Botol itu berisi madu murni dari ratu siluman lebah yang legendaris." Ucap Tetua Tuolo masih dengan nada bergetar.


Mendengar itu, seketika saja Tetua Tang dan Tetua Fang menahan nafas dengan ekapresi terkejut. Tetua Tang dan Tetua Fang mengambil kedua botol tersebut masing-masing satu dengan tangan bergetar. Memegang hati-hati botol tersebut, menatap botol dengan mata memerah menahan haru.


Tindakan ketiga tetua itu membuat beberapa cultivator lainnya mengernyit heran, dan ada juga diantara mereka yang menahan nafas sambil bergetar, reaksi yang sama dengan ketiga tetua itu, salah satunya adalah Tetua Yin Xia.


Mereka juga pernah mendengar beberapa tetua di sekte menjelaskan tentang madu itu, bahkan ada juga bebrapa buku alchemi yang menjelaskannya. Madu murni yang diproduksi ratu siluman lebah adalah barang langka dan di incar oleh seluruh cultivator dimanapun.


Khasiat yang tinggi dan beragam, serta madu yang langka membuat madu itu begitu di incar oleh semua orang. Mereka rela menukar beberapa sumber daya tingkat tinggi hanya demi setetes madu saja. Bahkan berkantung-kantung koin emas tidak akan mampu untuk membelinya. Namun apa yang mereka lihat sekarang? Dua botol madu murni pemberian seorang pemuda secara cuma-cuma?


Memikirkannya saja membuat mereka hendak muntah darah tak percaya.


Siapa sebenarnya pemuda luar biasa yang dapat dengan mudahnya memberi barang langka secara gratis?

__ADS_1


__ADS_2