
Pertarungan di depan markas kelompok aliran sesat sempat terhenti sejenak, memandang sisi hutan yang ditutupi pepohonan rimbun, tempat pertarungan Tetua Tang dan tempat ledakan besar berasal, bahkan Tetua Fang dan Tetua Zhao sempat menghentikan aksinya.
"Berani sekali kau mengalihkan tatapanmu saat bertarung denganku." Geram Tetua Fang, dirinya juga penasaran perihal ledakan, namun manusia licik dihadapannya lebih penting untuk segera dituntaskan.
"Haha baiklah, baiklah. Aku akan terus padamu, Tetua Fang." Balas Tetua Zhao dengan seringai liciknya.
Kedua tetua yang sangat berpengaruh tersebut kembali bertukar jurus entah untuk yang keberapa kalinya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan siapa yang akan mengalah. Namun, dapat disimpulkan jika Tetua Fang yang lebih unggul
Kembali ke lokasi Yang Jian, ketiga manusia bertudung itu batuk darah. Rasa panas yang semakin menjalar berusaha mengobrak-abrik aliran qi mereka. Tetapi Yang Jian masih belum berhenti. Kali ini Yang Jian menyilangkan kedua pedang putihnya di depan dada, aliran petir berkekuatan tinggi menari-nari indah di permukaan pedang.
Sedetik kemudian, aliran petir tersebut terbagi menjadi tiga bagian dan melaju cepat menghantam tiga orang bertudung. 'Duarrr' Suara ledakan yang lebih kecil kembali terjadi, ketiga orang tersebut kembali terpental mundur dan dengan keras menghantam permukaan tanah.
Asap tipis menguar dari tubuh ketiga orang bertudung tersebut, darah segar merembes dari empat lubang di kepala mereka. Yang lebih memprihatinkan adalah bekas ledakan petir di dada setiap manusia bertudung meninggalkan luka bakar yang serius.
'Arghhh.' Ketiga manusia bertudung tersebut mengerang kesakitan. Luka bakar yang semula berukuran satu kepalan tangan orang dewasa perlahan-lahan menjalar membakar seluruh jaringan kulit mereka.
Tetua Tang membulatkan mata, menatap tak percaya pemuda di hadapannya. Kini Tetua Tang sedikit curiga bahwa pemuda bersurai perak itu adalah orang yang sama dengan yang ia pikirkan. Ya, dia adalah Yang Jian, salah satu murid Sekte Batu Giok. Sebab, keadaan tubuh ketiga manusia bertudung itu sama persis dengan keadaan Liu Xingsheng saat bertarung dengan Yang Jian.
Namun, dalam hati Tetua Tang merasa tidak yakin. Perbedaan kekuatan Yang Jian dengan yang terakhir kali mereka bertemu sungguh jauh. Tidak mungkin dalam kurun waktu yang sesingkat itu Yang Jian mampu mencapai tingkatan setinggi itu. Pasti mereka adalah orang yang berbeda, benar! Jurus seperti itu pasti tidak dimiliki oleh satu orang saja. Pikir Tetua Tang.
Tanpa peduli bagaimana kebingungan Tetua Tang, Yang Jian tidak ingin memberi celah sedikitput bagi ketiga manusia bertudung walau hanya sekedar menarik nafas. Tiba-tiba saja tiga kepala menggelinding di atas tanah dan diikuti dengan menghilangnya Yang Jian dari lokas. Meninggal Tetua Tang masih dengan keterkejutannya.
__ADS_1
Kini Yang Jian tiba di depan markas kelompok aliran sesat, di tempat itu, pertarungan masih terus berlanjut. Bermodal kedua pedangnya, Yang Jian memasuki barisan para manusia bertudung. Bergerak cepat menebas kepala manusia bertudung.
Satu persatu kepala manusia bertudung terlepas dari tubuhnya, sedangkan Yang Jian? Dirinya tampak menikmati pembunuhan yang ia lakukan. Bayang-bayang api besar yang melahap kediaman ibundanya, Ratu Yang Shui semakin membuat Yang Jian menggila.
Dengan membabi buta Yang Jian menebas tubuh manusia bertudung, tidak peduli bagian tubuh mana yang menyapa bilah pedangnya, Yang Jian terus melayangkan kedua pedangnya tanpa jeda dan tanpa memedulikan sekitar.
Perlahan-lahan aksi Yang Jian mulai disadari orang-orang, baik dari pihak kelompok aliran sesat maupun pihak sekte putih netral kini mengalihkan atensinya kepada Yang Jian yang menyerang seakan haus darah. Sorot netra birunya yang tajam tampak haus akan kematian, membuat lawan maupun kawan bergidik ngeri.
Yang Jian menghentikan aksinya saat melihat tidak ada satupun manusia bertudung dalam radiusnya. Yang Jian menyapu pandangannya. Menatap dingin orang-orang yang balik menatap Yang Jian dengan raut wajah tak terbaca.
"Fokus!" Tenang namun mencekam, satu kata dari Yang Jian kembali menyadarkan orang-orang. Mengingatkan mereka jika masih berada di medan pertarungan.
"Lawanmu adalah aku!" Tetua Fang kembali mengerahkan jurus-jurung tingkat tingginya. Petir-petir merambat cepat menyerang Tetua Zhao. Mengakibatkan Tetua Zhao kembali mundur sambil menghindari serangan Tetua Fang.
"Sial*n! Aku akan membereskan bocah itu setelah aku membunuhmu!" Tetua Zhao maupun Tetua Fang saling menyerang seraya melayang di udara. Pepohonan dan tanah yang berada di sekitar mereka kini hancur tak bersisa. Pertemuan dua kekuatan besar menimbulkan guncangan yang cukup hebat.
Sementara itu, empat cultivator muda yang mengikuti Turnamen Cultivator Muda beberapa tahun silam merasa tidak asing melihat sosok seorang pemuda haus darah tersebut. Namun tidak ingin membuang waktu, mereka kembali melanjutkan pertarungan mengabaikan rasa penasaran mereka akan Yang Jian.
Kini, angka manusia bertudung semakin menipis. Tetua Tang yang sudah sedikit lebih baik membantu rekan-rekannya. Ditambah dengan kehadiran Yang Jian yang cukup memberikan kontribusi besar. Menimbangi hal tersebut, Yang Jian meninggalkan hutan diam-diam dan bergerak cepat menuju pusat kota.
~~
__ADS_1
Kobaran api dan asap yang membumbung tinggi menjadi pemandangan pertama yang menyambut Yang Jian saat tiba di pusat kota. Tepat di satu titik Yang Jian melihat pertarungan tidak seimbang antara pihak cultivator Kota Batu dengan dua kelompok sekte besar aliran hitam.
Atensi yang jian beralih kesalah satu pria paruh baya dengan pakaian khusus bangsawan sedang terdesak. Salah seorang cultivator Sekte Cakral Iblis melayangkan serangan fatal yang mengincar pria tersebut.
Dengan cepat Yang Jian menghalau serangan tersebut. Sehingga serangan mereka bertemu di satu titik dan 'Duarrr!' bunyi ledakan menggema.
Pria yang sebelumnya Yang Jian selamatkan menghela nafas lega, menatap Yang Jian dengan tatap rasa terimakasih. "Anda baik-baik saja, Tuan Jingmi?" Seorang pria dengan pakaian mewah namun telah dihiasi darah berjalan tertatih-tatih menghampiri pria bangsawan yang dipanggil Tuan Jingmi.
Yang Jian menyadari bahwa dirinya baru saja menyelamatkan bangsawan Jingmi, pemerintah Kota Batu. "Sebaiknya Anda memulihkan diri terlebih dahulu, saya akan mengulur waktu dan menahan mereka!" Perkataan Yang Jian terdengar seperti sebuah perintah. Anehnya, Jingmi mengangguk. Tetapi sedetik kemudian tersadar. Bisa-bisanya seorang bangsawan besar sepertinya diperintah anak muda? Ah, sungguh memalukan.
"Lancang sekali kau mencampuri pertarunganku! Dasar bocah, biarkan senior ini mengajarimu bagaimana cara bertarung yang..."
'Crashhh!' Tak ingin menunggu pria itu menyelesaikan ucapannya, Yang Jian melayangkan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Menyisakan luka goresan yang cukup dalam di lengannya.
"Hei hei, aku belum selesai..."
'Crashhh!' Lagi-lagi Yang Jian tidak tinggal diam. Kali ini pedang Yang Jian mengenai perutnya, namun hanya jubahnya yang terpotong tanpa mengenai kulitnya.
"Kau! Benar-benar ya, Kau tidak tahu siapa aku? Aku..."
'Duarrr!' Bola api Yang Jian melayang cepat dan menghantam pria tersebut. Tampak beberapa bagian jubahnya mulai menggosong karena kerasnya ledakan. Pria itu mundur selangkah, pedangnya melintang di depan dada, menghalau serangan bola api Yang Jian. Sehingga hanya menimbulkan luka ringan.
__ADS_1