
Pemuda itu lagi-lagi mengulurkan tangan untuk membantunya. Aksi heroik dan sikap tanpa tolerannya membuat lawan merasa diintimidasi secara mati-matian. Aura dingin dan acuh tak acuh yang ia pancarkan membuat lawan sedikit skeptis. Bahkan Qin Lienhua sendiri merasa bergetar seketika.
Hingga pemuda itu memberinya sebuah botol berbau wangi, Qin Lienhua baru menyadari jika pemuda itu tidak lain adalah pemuda yang pernah menyelematkannya beberapa tahun yang lalu. Perasaan Qin Lienhua tampak rumit, untuk beberapa alasan Qin Lienhua tidak tahu harus berkata apa. Larut dalam lamunannya membuat pemuda itu pergi dari hadapannya. Setelah bertahun-tahun, Qin Lienhua akhirnya bertemu kembali dengan pemuda itu, Yang Jian.
Kembali ke Dunia Surgawi, Yang Jian melanjutkan latihannya. Namun kali ini Yang Jian meningkatkan porsi latihannya hingga dua kali lipat. Melewati batas tubuh dan batas kemampuannya hingga Yang Jian tidak mampu untuk berdiri lagi.
Setelah waktu berlalu, akhirnya Yang Jian menyudahi sesi latihannya. Kini pondasi Cultivator Awal Grandmaster Yang Jian telah berada di tingkat terkuat. Dan bagi cultivator setingkat Awal Legenda, tidak menutup kemungkinan jika Yang Jian akan memenangkan pertarungan tanpa sedikitpun goyah.
Setelah memulihkan energinya, Yang Jian kembali kedalam gua tempat dimana Yang Shui berbaring, tubuh Yang Shui telah pulih sepenuhnya, hanya saja energi kehifuoannya masih tampak lemah. Hanya masalah waktu agar dapat kembali ke kondisi semula.
Yang Jian tampak puas akan perkembangan kesembuhan Yang Shui. Tanpa sadar Yang Jian begitu menantikan hari dimana Yang Shui membuka kembali matanya. Banyak hal yang ingin Yang Jian tanyakan kepada Yang Shui. Bagaimana kehidupannya selama ini? Apakah ia tidur nyenyak? Apakah Yang Shui makan cukup? Atau...
Yang Jian menghela napas panjang, wajah tanpa ekspresi sedikit menunjukkan kerumitan. Yang Jian tidak pernah menyangka jika keadaan Yang Shui akan memberi emosi rumit terhadapnya.
"Enghhh..."
Erangan kecil dan halus terdengar samar, Yang Jian menatap Yang Shui dengan sedikit riak di wajahnya. Yang Shui mengerutkan keningnya dan bola matanya yang tertutup mulai berputar-putar dengan gelisah. Seolah-olah sesuatu yang menakutkan menghampirinya.
Melihat itu, tatapan Yang Jian sedikit rumit, ia buru-buru mengulurkan tangannya dan memancarkan qi ke dalam tubuh Yang Shui untuk membantunya tenang. Perlahan-lahan, wajah Yang Shui yang semula mengetat mulai mengendur.
__ADS_1
Sepasang bulu mata yang lentik berkedip seperti kipas kecil, mengangkat kelopak matanya, Manik hitam jernih Yang Shui perlahan terlihat dan segera bertemu dengan manik biru milik Yang Jian.
Perasaan tak terlukiskan segera memenuhi hati Yang Jian ketika bertemu dengan tatapan linglung Yang Shui. Namun hal itu hanya berlangsung sedetik, Yang Jian berdehem ringan dan kembali ke wajah biasanya. Seolah hal tersebut tak pernah terjadi sebelumnya.
"Apakah Ibu baik-baik saja?" Suara magnetis Yang Jian yang selalu dingin dan datar terdengar lebih lembut dari biasa.
Yang Shui masih berusaha untuk menstabilkan tenaganya sebelum bangkit duduk dengan bantuan Yang Jian. Melihat sekeliling, Yang Shui merasa asing, dan akhirnya menatap pemuda yang berada disisi dengan tatapan rumit.
Kerinduan, penyesalan, rasa bersalah bercampur menjadi satu. Bola mata Yang Shui sedikit bergetar, saat mendengar pertanyaan Yang Jian, Yang Shui sedikit tertegun. Manik hitam yang jernih perlahan memerah, hingga genangan air jernih memenuhi seluruh matanya. Dan tubuhnya mulai bergetar ringan berusaha menahan perasaan sesak yang perlahan menguar dari lubuk hatinya.
Yang Jian sedikit tertekan melihat penampilan tak berdaya Yang Shui. Namun Yang Jian tidak tahu harus berbuat apa, dirinya belum pernah mengalami masalah seperti ini. Walaupun Yang Jian telah mengingat kehidupannya bersama Yang Shui saat di Klan Yang, hal itu telah lama terjadi dan sedikit asing bagi Yang Jian.
Selama ini, yang menyegarkan di ingatan Yang Jian adalah bagaimana menghadapi lautan siluman ganas dan liar. Bagaimana sensasi menebas siluman satu demi satu dengan pedangnya hingga mati. Dan bagaimana menaklukkan sekumpulan makhluk tersebut menjadi genangan mayat.
Apakah Yang Jian harus memberitahu Yang Shui jika dirinya selama ini baik-baik saja dan memiliki banyak pasukan raja dan ratu siluman yang menemaninya?
Untuk sementara Yang Jian kebingungan.
"Yang Jian..." Panggilan lembut dan lirih menyadarkan Yang Jian dari pemikiran rumitnya. Tidak tagu kapan, kulit seputih salju Yang Shui telah lama basah oleh genangan air mata yang terus turun seperti air hujan. Bola mata berair menatap Yang Jian dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
"Yang Jian..." Sekali lagi panggilan itu terdengan tanpa tanggapan dari Yang Jian. Tubuh Yang Shui bergetar semakin hebat dan suara tangisan yang terisak membuat hati Yang Jian seolah di cubit oleh tangan-tangan tak terlihat.
Tiba-tiba pikiran Yang Jian melayang di saat dirinya bersama ayah angkatnya di Lembah Neraka, saat itu Yang Jian merasa tersesat dan menangis tersedu-sedu. Untuk menenangkan, Yang Jian dipeluk lembuh oleh ayah angkatnya. Yang Jian mengingat perasaan tenang saat dipeluk.
Yang Jian menatap Yang Shui yang tertunduk dan menangis terisak pelan. Tubuhnya tampak mungil, halus dan lembut. Kemudian Yang Jian beralih menatap lengannya yang kokoh dan kuat. Tanpa sadar Yang Jian mengerutkan keningnya.
Tubuh ibu terlalu mungil, apakah mampu menahan lengannya yang besar dan kuat? Bagaimana jika ibu merasa kesakitan dan menangis lebih keras? Apakah ibu akan kecewa padanya dan meningalkannya?
Yang Jian berpikir begitu lama hingga tiba-tiba Yang Jian merasakan sesosok lembut bersandar di bahu kokohnya, aroma murni dan menenangkan perlahan memasuki hidung Yang Jian. Ternyata Yang Shui bersandar di lengan Yang Jian dengan kepala tertunduk, seperti bola kapas yang lembut.
Mengangkat tangan perlahan, Yang Jian dengan hati-hati meletakkan salah satu tangannya ke punggung Yang Shui, seolah-oleh jika dia mengerahkan sedikit lagi kekuatan maka akan mematahkan punggung nya.
Setelah menyesuaikan kekuatannya, Yang Jian perlahan menepuk punggung Yang Shui perlahan untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa ibu." Yang Jian perlahan berkata.
"Semua akan baik-baik saja." Lanjutnya dengan nada yang lebih lembut namun mengandungkeyakinan yang kuat.
Mendengar itu membuat Yang Shui mulai tenang, tubuhnya yang bergetar perlahan mengendur dan air mata mulai berhenti mengalir.
__ADS_1
Waktu berlalu dan Yang Shui menghela napas ringan, tidak tahu berapa lama Yang Shui bersandar di lengan Yang Jian hingga dirinya tenang.
"Senang bertemu denganmu kembali." Lirih Yang Shui dengan suara sedikit serak sehabis menangis dalam waktu yang cukup lama.