
Setelah Mayleen memberikan aba-aba mereka masih saling menatap dalam diam seolah sedang mengukur kekuatan masing-masing lawan.
"Biarkan aku mencoba kekuatan putri mahkota kekaisaran Qin." Qin Fanfan tersenyum sinis, ada nada mengejek di setiap kata-katanya. Sementara Qin Lienhuan hanya tesenyum manis menanggapi ejekan Qin Fanfan.
Qin Fanfan mengangkat tangan nya ke udara, seketika pusaka berbentuk pedang bermata dua muncul di telapak tangan nya. Dengan gerakan penuh Qin Fanfan bergerak lincah menyerang Qin Lienhua.
Qin Lienhua masih dengan sikap tenang nya membiarkan serangan Qin Fanfan menghampiri nya, saat pedang milik Qin Fanfan berada sejengkal dari jantung Qin Lienhua seketika Qin Fanfan merasa dingin dari arah belakang leher nya.
'Crashhh." Karena terlambat menghindar leher kanan Qin Fanfan tergores belati milik Qin Lienhua. Gerakan Qin Lienhua sangat cepat sehingga sulit di prediksi Qin Fanfan.
Kaisar Qin tersenyum bangga ke arah putri nya, sementara itu tetua Qin, Qin Fen ayah dari Qin Fanfan menatap tajam ke arah putri nya, sorot matanya yang tajam seolah mengancam Qin Fanfan harus menang bagaimana pun caranya.
Qin Fanfan yang sempat melirik ke arah sang ayah mengepalkan tangan kuat, dia menggunakan qi nya untuk menghentikan pendarahan. Dia menatap Qin Lienhua yang masih bersikap tenang dengan sebilah pisau pendek di tangan nya.
"Naga membelah lautan." Tanpa menunggu, Qin Lienhua lebih dulu bergerak menyerang Qin Fanfan. Aura yang di pancarkan Qin Lienhua bagai seekor naga yang berputar-putar mengelilingi nya.
Sedetik kemudian Qin Lienhua melempar pisau nya setelah mengalirkan qi ke dalam pisau tersebut.
Pisau Qin Lienhua melesat cepat kemudian bergerak seperti mempunya jiwa sendiri, Qin Fanfan menggunakan pedang nya untuk menghalau serangan Qin Lienhua. Walaupun pisau tersebut di hempaskan namun akan kembali menyerang Qin Fanfan.
Tidak punya pilihan lain, Qin Fanfan mengumpulkan qi yang besar di kedua telapak tangan nya. Saat pisau tersebut hampir mencapai Qin Fanfan.
'Duarrr.' ternyata Qin Fanfan meledakkan senjata Qin Lienhua. Pisau Qin Lienhua meledak bersamaan dengan qi Qin Fanfan.
__ADS_1
"Lumayan." Seru Qin Lienhua tersenyum manis. "Tapi masih belum cukup." Setelah mengatakan itu Qin Lienhua kembali memunculkan pisau-pisau lain nya dari ruang hampa.
"Merepotkan." Qin Fanfan merapatkan gigi nya kuat. Dia kembali menghalau serangan Qin Lienhua sambil sesekali melancarkan serang ke arah Qin Lienhua. Setelah bertukar puluhan jurus mereka mundur untuk memberi jarak masing-masing.
"Putri mahkota memang tidak bisa di remehkan." Qin Fanfan mengatur nafas nya, dia terlalu menggunakan banyak qi untuk meledakkan pisau Qin Lienhua.
"Tapi masih belum cukup untuk melindungi posisi mu." Lanjut Qin Fanfan sambil tersenyum mengejek.
"Kau juga tidak bisa di remehkan." Balas Qin Lienhua, dia masih terlihat bugar seperti belum memulai pertandingan.
"Cukup bermain-main dengan pisau mu, sekarang giliranku." Qin Fanfan mengencangkan kunciran rambut nya.
Dia kembali memunculkan pedang bermata dua yang sempat dia simpan. Dengan lincah Qin Fanfan menyerang Qin Lienhua, kali ini serangan nya lebih halus dan tajam.
"Tapak naga." Tapak Qin Lienhua bersarang telak di punggung Qin Fanfan.
"Arghhh...uhuk uhuk." Qin Fanfan terpental lima meter ke depan sambil berteriak dengan suara tertahan, sesaat kemudian dia terbatuk karena sakit yang luar biasa di tubuh belakang nya.
Darah segar mengalir bersamaan dengan batuk Qin Fanfan, melihat itu rahang Qin Fen mengeras dia ingin sekali segera melompat ke arena namun dia urung melakukan itu karena hanya akan membawa masalah kepada Qin Fanfan.
Tidak ingin membuang waktu, Qin Lienhua mengalirkan qi ke telapak tangan nya dan bersiap kembali menyerang. Saat jarak mereka tinggal dua langkah lagi dengan cepat Qin Fanfan menyambut tapak Qin Lienhua dengan tapak nya juga.
'Duarrr.' Pertemuan jurus tapak mereka menimbulkan gelombang kejut yang kuat. Kedua nya sama-sama mundur dua langkah kebelakang dengan darah mengalir di ujung bibirnya.
__ADS_1
'Brakkk.' Semua orang terkejut melihat Qin Lienhua terjatuh lemas di lantai arena dan bukan nya Qin Fanfan, sementara Qin Fanfan masih berdiri dengan posisi sedikit membungkuk memandang Qin Lienhua namun tidak berusaha membantu nya.
Dengan sigap Mayleen mengangkat tubuh Qin Lienhua untuk memeriksa kondisi nya.
"Apa?" Pekik Mayleen kaget saat melihat sebelah tangan Qin Lienhua berubah warna menjadi warna hijau dan mulai menyebar perlahan. Dengan cepat Mayleen menotok tangan Qin Lienhua untuk pencegahan penyebaran nya.
"Apa yang terjadi?" Kedua wasit pria menghampiri Mayleen ketika mendengar teriakan nya.
"Racun?" Yang Jian bergumam pelan melihat kondisi tangan Qin Lienhua, Yang Jian memang memiliki pengelihatan yang tajam sehingga dia dapat melihat perubahan warna pada tangan Qin Lienhua. Namun beberapa cultivator yang memiliki praktik tinggi juga dapat melihat apa yang terjadi kepada Qin Lienhua.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Xinxin yang seperti mendengar suara samar-samar Yang Jian menoleh ke arah nya. Namun Yang Jian hanya menggeleng kan kepala sebagai jawaban.
"Apa yang terjadi, mengapa putriku tidak sadarkan diri?" Permaisuri Tang Rourou menangis menghampiri Mayleen yang sedang menggendong Qin Lienhua menuju ruangan pengobatan.
"Tenang lah sayang, kita akan tahu setelah nona Bai memeriksanya." Kaisar Qin berusaha menenangkan Permaisuri Tang sambil mengelus punggung nya lembut, dia juga sama khawatir nya saat melihat putri satu-satu nya tak sadar kan diri namun dia tidak mau terlihat lemah di depan sang istri.
"Untuk sementara ini pertandingan di tunda karena ada sedikit masalah yang harus kami selesaikan. Tidak ada pemenang sebelum kami menyelidiki hal ini lebih lanjut." Wasit pria yang paling tua berbicara serius.
"Kita akan kembali melanjutkan pertandingan dua hari lagi. Mohon kesediaan tamu terhormat untuk bersabar menunggu, masalah ini juga berada di luar kendali kami." Setelah selesai berbicara sang wasit melangkah pergi meninggalkan arena pertarungan.
Penonton merasa sedikit kecewa karena pertandingan di hentikan namun mereka tidak berani menyuarakan pendapat, mereka yakin ada alasan yang kuat di balik keputusan wasit tersebut.
Di tambah lagi ada kemungkinan Qin Lienhua terkena racun, jadi walaupun Qin Lienhua tumbang tapi Qin Fanfan tidak bisa di anggap menjadi pemenang karena menggunakan racun selama pertanding adalah hal tabu bagi aliran putih netral dan juga menjadi salah satu peraturan yang tidak di perbolehkan.
__ADS_1
Semua orang membubarkan diri dan kembali ke kediaman masing-masing, begitu juga dengan Chang An dan kelompok nya juga memutuskan kembali ke penginapan untuk beristirahat.