
"Duar..." Tak lama kemudian terdengar ledakan qi dari dalam tubuh Yang Jian. Yang Jian mulai membuka kelopak matanya, manik biru Yang Jian memancarkan energi yang lebih besar dari sebelumnya. Tanpa Yang Jian duga kini praktiknya semakin menguat dan tidak menutup kemungkinan untuk melangkah ke tingkat selanjutnya.
Tetapi Yang Jian sadar tidak akan mudah untuk mencapai hal tersebut, karena walaupun berbeda satu tahap menuju tingkat selanjutnya. Setiap satu alam tingkatan praktik cultivator perbedaannya bagaikan langit dan bumi. Apalagi menuju ranah selanjutnya, hal itu tentu dua kali lipat lebih sulit.
Yang Jian berdiri tegak melonggarkan otot-ototnya, tidak tahu sudah berapa jam dia melakukan meditasi. Pancaran energi dari dalam tubuhnya kini lebih kuat. "Aku sendiri tidak mampu mempercayainya." Gumam Yang Jian pelan mengagumi khasiat pil buatannya bisa sebesar ini.
"Aku membutuhkan lebih banyak pil penambah qi lagi." Hanya itu yang bisa Yang Jian lakukan, dia harus bergantung pada pil penambah qi untuk menstabilkan qi dalam tubuhnya agar tidak habis di serap oleh segel Dunia Surgawi.
Mulai hari itu Yang Jian meracik lebih banyak pil penambah qi, dia membuat pik dengan jumlah yang cukup banyak hingga Yang Jian tidak menyadari sudah berapa lama dia berada di Dunia Surgawi. Yang jelas Yang Jian ketahui bahwa malam telah bekali-kali berganti dengan siang, begitu juga sebaliknya.
"Sepertinya ini juga berguna untuk Jiji dan Yiyi." Ucap Yang Jian memandang tumpukan pil buatannya yang telah dia susun di dalam toples kaca transparan. Pil buatan Yang Jian tampak seperti mutiara-mutiara indah dan berkilauan.
Yang Jian hanya beristirahat sebentar saat dia mengkonsumsi pil saja kemudian melanjutkannya dengan meracik pil kembali.
"Melelahkan." Gumam Yang Jian saat dia telah berhasil menambah jumlah pil hingga ratusan butir. Kini pil Yang Jian telah memenuhi lima toples kaca sekaligus. Sungguh stok yang banyak.
Yang Jian bangkit dari kediamannya, dia menyapu pandangannya ke seluruh Dunia Surgawi sejauh pandangan matanya. Qi yang terdapat dalam dunia tersebut masih sangat tipis. Ini adalah tempat dengan jumlah qi paling tipis yang pernah Yang Jian temui.
"Aku masih tidak mengerti mengapa aku yang terpilih." Hingga kini Yang Jian masih sulit menerima kenyataan tentang jati dirinya sebagai pewaris Dunia Surgawi.
"Apa ini ada hubungannya dengan orangtua kandungku?" Yang Jian sempat berpikir bahwa Yang Jian mewarisi Dunia Surgawi karena garis keturunan keluarganya. Tapi Yang membuat Yang Jian merasa bingung yaitu tanda phoenix di dahinya yang muncul saat dia berhasil menjadi tuan dari Dunia Surgawi.
__ADS_1
"Tanda phoenix, Dunia Surgawi, pedang suci, token pedang dililit naga, dan juga segel Dunia Surgawi. Apa hubungan semua ini?" Yang Jian mengerutkan dahinya, mengapa begitu banyak teka-teki dalam hidupnya yang sulit sekali dia pecahkan.
Yang Jian memunculkan sebuah token yang dia bawa ketika pertama kali menginjakkan kaki di Lembah Neraka. Medali tersebut di yakini adalah pemberian orangtua Yang Jian, agar suatu saat dia dapat mencari tahu darimana asal-usulnya.
Token tersebut berbentuk mendali namun ukurannya lebih kecil dari medali pada umumnya. Medali tersebut bergambar sebuah pedang dengan ukiran phoenix serta seekor naga besar yang melilit pedang tersebut.
"Ini mirip seperti..." Yang Jian tampak berpikir keras mengingat kemiripan benda tersebut, seketika Yang Jian menjetikkan jarinya. Mata nya membulat besar dan raut wajahnya tampak berubah.
Yang Jian kemudian berlari menuju kediamannya hingga sampai ke kolam air qi miliknya, Yang Jian mendongangkan kepalanya sedikit ke atas air untuk melihat pantulan wajahnya. Dengan menyibakkan sedikit poninya, Yang Jian dapat melihat dengan jelas tanda phoenix yang terlukis indah diantara kedua alisnya.
"Benar, ini sungguh mirip." Yang Jian membandingkan tanda phoenix di jidatnya dengan tanda phoenix di ukiran pedang medali Yang Jian. Setelah itu, Yang Jian mengambil pedang suci pemberian Xiao Ming tempo hari.
Dan benar saja, ukiran phoenix yang tergambar indah di atas pedang suci sama persis dengan ukiran phoenix milik Yang Jian serta ukiran phoenix di medali tersebut. " Apa arti semua ini?" Bingung Yang Jian sambil menatap ketiga ukiran tersebut secara bergantian.
"Dragon? Tidak mungkin, mereka tidak mirip." Yang Jian menggelengkan kepalanya pelan. Ukiran naga di dalam medali tersebut tampak berbeda, ukiran naga di dalam medali tampak mengintimidasi jika di tatap dalam jangka waktu yang lama, dan naga itu juga tampak gagah dan menakutkan. Seolah ada aura yang membuat bulu kuduk meremang hanya dengan menatap gambarnya saja.
"Aku harus memecahkan teka-teki ini."
~~
Kini Yang Jian berdiri tegak di depan segel Dunia Surgawi yang berada di ujung kediaman dragon. Tampak segel tersebut seperti sebuah pintu air dengan aliran-aliran listrik di permukaan segel tersebut. Tampak sulit untuk di tembus. Seperti segel pelindung, namun segel di hadapan Yang Jian dapat di lihat jelas karena tidak transparan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku memikul beban seberat ini?" Lesu Yang Jian menghela nafas berat memikirkan betapa banyak masalah yang dia hadapi dan harus dia selesaikan seorang diri tanpa ada yang memegang tangannya erat atau seseorang yang hanya sekedar mengatakan 'semua akan baik-baik saja.'
Terkadang dia merasa bahwa semesta terlalu kejam kepada bocah seusianya. Dan ini sungguh tidak adil bagi Yang Jian.
Namun sesungguhnya semesta bukan jahat, Yang Jian lah yang harus lebih kuat. Bukannya semesta pilih kasih, Yang Jian lah yang harus lebih banyak mengerti.
Belajar untuk lebih lapang dada, karena bumi terus berputar bukan cuma untuk Yang Jian seorang, namun ada juga orang lain yang harus merasa senang juga.
Karena hidup Yang Jian memang tanggung jawab dirinya sendiri, namun hidupnya bukan miliknya sendiri.
"Ya benar, semesta tidak salah. Yang salah hanya beberapa orang di dalamnya." Yang Jian terus menatap segel tersebut, tanpa sadar setitik bulir kristal terjatuh dari sudut matanya, mengalir dengan anggunnya disetiap jengkal kulit pipi putihnya.
Dengan kasar Yang Jian mengusap wajahnya sambil menghela nafas berat. Bukan saatnya Yang Jian berdiam diri dan hanya meratapi nasib saja. Dia harus bangkit dan mulai melangkah hingga mencapai puncak tertinggi jalan hidupnya.
Melangkah satu langkah lebih baik daripada hanya berdiam diri tanpa ada usaha dan kerja seras. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Yang Jian harus mampu melewati segala rintangan dan tantangan dalam hidupnya hingga dia menemukan seseorang.
Seseorang yang dengan tulus menopangnya, mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemarinya dengan penuh kasih sayang, dan tersenyum kepadanya sambil berkata " Kau terbaik."
Dengan langkah gontai, Yang Jian menapaki jalan kecil melewati kediaman dragon. Yang Jian mengabaikan tatapan penuh tanya raja kingkong dan raja kalajengking.
"Ada apa dengan Tuan Yang?" Tanya raja kingkong sambil menatap punggung Yang Jian penuh selidik.
__ADS_1
"Semakin sedikit yang kau ketahui semakin baik untukmu." Bukan raja kalajengking yang menjawab, namun dragon lah yang berbicara tanpa melihat lawan bicaranya.