Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 86: Perbudakan


__ADS_3

Yang Jian menatap hidangan yang telah tersedia di hadapannya. Tertata rapi dan memesona, walaupun hanya ada manisan, buah segar dan air putih saja.


"Apa kalian tidak menyukainya?" Tanya Yang Jian merasa bingung melihat Ibu Meng dan anak-anak panti asuhan hanya diam membisu menetap sajian makanan tanpa sedikitpun menyentuhnya.


"Ah tidak! Kami sangat menyukainya. Terimakasih atas kebaikan Tuan Muda." Ucap Ibu Meng, kemudian dia meminta agar anak-anaknya mulai duduk dan menyantap hidangan. Ibu Meng tahu sedari awal jika Yang Jian bukan orang sembarangan. Dan tampaknya hal seperti ini bukan hal baru bagi Ibu Meng, itu sebabnya dia tidak mempertanyakan dari mana asal makanan tersebut.


Saat Ibu Meng sudah menyendokkan suapan pertama kedalam mulutnya, barulah diikuti oleh anak lainnya. Yang Jian melihat jika anak-anak itu makan tanpa satupun yang berebutan walaupun dalam kondisi lapar.


"Ini ada sedikit hadiah dariku. Komohon jangan menolaknya." Yang Jian menyerahkan sebuah kantong hitam besar ketangan Ibu Meng. Ibu Meng ingin menolak, namun Yang Jian menjelaskan jika sebentar lagi akan memasuki musim dingin, dan anak-anak membutuhkan pakaian yang lebih hangat untuk mereka gunakan.


"Terimakasih banyak Tuan Muda, kami tidak tahu apa yang harus kami berikan untuk membalas semua kebaikan, Tuan Muda."


"Ingin membalasnya? Maka jangan menolak ini." Jawab Yang Jian. Yang Jian juga mengatakan jika dirinya berniat untuk merenovasi kediaman mereka agar lebih layak untuk dihuni, dan Yang Jian juga berencana untuk melengkapi berbagai fasilitas penunjang bagi mereka.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Ibu Meng mengalah dan mengikuti keinginan Yang Jian merenovasi kediaman mereka. Tidak lupa juga, Ibu Meng meminta anak-anak panti asuhan untuk mengucapkan terimakasih kepada Yang Jian dan tidak lupa untuk mengingat kebaikan Yang Jian.


Keesokan paginya, Yang Jian mendatangi toko bangunan yang tidak terlalu terkenal di Kota Batu, letak toko tersebut tidak berada jauh dari lokasi panti asuhan Ibu Meng. Hal ini agar memudahkan pengangkutan material bangunan serta agar menghemat waktu.


"Kami akan mulai bekerja esok hari, Tuan Muda. Anda bisa membayar biaya muka terlebih dahulu untuk upah pekerja dan membayar pembelian material bangunan selambat-lambatnya saat proses pembangunan telah berlangsung setengah jalan."

__ADS_1


Jelas manager toko tersebut kepada Yang Jian. Saat ini mereka sedang berbicara di ruang tunggu milik manager. Hal tersebut bukan karena Yang Jian adalah tamu penting, namun dikarenakan Yang Jian bukan hanya membeli material mereka saja, namun juga menggunakan jasanya.


"Semoga tidak mengecewakan." Yang Jian akhirnya membayar seluruh biaya pembangunan selain biaya untuk pekerja. Bukan Yang Jian tidak memiliki uang, namun dirinya ingin melihat sejauh mana tanggung jawab para pekerja tersebut akan kewajibannya.


~~


"Ha ha ha. Tidak masalah, aku akan menunggunya lebih lama lagi. Lagipula, aku sangat memiliki banyak waktu luang hari ini. Jadi, anda tidak perlu mencemaskannya."


Di sebuah ruangan yang mewah, kediaman milik bangsawan sedang kedatangan tamu. Tamu tersebut tak lain adalah Mu Weng, putra sulung dari keluarga besar Mu yang berhasil menjadi salah satu murid luar Sekte Awan Putih.


Sesuai janji Weng, saat ini dia akan menemui seorang Tuan yang kebetulan memiliki hubungan kerjasama dengan Weng. Salah satu tangan kanan Tuan itu meminta Weng agar menunggunya sebentar lagi dikarenakan Tuannya masih memiliki kepentingan lain yang segera dia urus.


"Berani-beraninya dia membuat Senior menunggu!" Geram salah satu pengikut Weng seraya mengepalkan kuat tangannya di bawah meja.


"Bertahanlah sebentar lagi. Ini tidak akan lama, setelah aku berhasil dalam bisnis ini maka akan kupastikan menginjak dia di bawah telapak kakiku." Suara Weng sedikit bergetar karena menahan amarahnya.


Setengah jam kemudian terdengar bunyi derap kaki menuju ruangan yang di tempati Weng, saat pintu ruangan terbuka tampaklah seorang pria dengan rupa dan perawakan pertengahan dua puluh tahun, namun tidak tahu sudah berapa ratus kali dia melewati tahun-tahun hidupnya. Pria itu berjubah hijau panjang dan diikuti dua lelaki yang masing-masing berdiri di samping kiri dan kanannya.


Jubah panjang pemuda tersebut menyapu lantai, pandangannya tajam, setajam elang. Dan pria itu secara terang-terangan mengeluarkan aura pembunuhnya yang lumayan pekat, sepertinya dia telah banyak mencabut nyawa semasa hidupnya.

__ADS_1


"Lama menunggu?" Tanya pria itu berbasa-basi setelah duduk dengan nyaman di kursi paling depan meja tersebut. Tidak sedikitpun dia mengurangi aura pembunuh yang keluar dari tubuhnya.


"Tidak masalah Tuan Jiang. Ini bukan masalah besar." Weng tertawa sumbang dan diikuti oleh kedua temannya. Pria yang dipangil Tuan Jiang itu hanya menampilkan wajah datarnya. " Tuan Weng memang lihai dalam bercanda." Balas Jiang sambil meneguk segelas anggur di hadapannya secara perlahan.


"Jadi, ada tujuan apa sehingga Tuan Muda Weng mendatangi kediaman kecilku ini. Kurasa tidak sesederhana berkunjung bukan?" Tanya Jiang kemudian saat segelas anggur merah tandas.


Weng sediki tertawa sebelum menjelaskan tujuan kedatangannya. Weng menjelaskan jika baru-baru ini dia telah mengirim lima belas anak untuk di jual ke Kaisaran sebelah. Transaksi jual beli budak yang Weng dan Jiang lakukan telah berlangsung hampir satu tahun lamanya.


Itu sebabnya pihak pembeli mulai percaya terhadap Weng dalam bidang bisnis tersebut. Dan berniat menawarkan bisnis yang lebih luas lagi. Yaitu, bukan hanya perbudakan anak-anak saja. Tetapi juga wanita-wanita muda untuk bekerja di rumah bordil dan pria-pria kuat untuk pelayan atau bahan percobaan suatu organisasi tertentu. Yang jelas pihak pembeli menjelaskan jika harga yang mereka bayar bisa mencapai dua sampai tiga kali lipat dari sebelumnya, tergantung dari bakat, kecantikan atau ketampanan orangnya nanti.


Mendengar penuturan Weng membuang Jiang sedikit berdehem berusaha menetralkan raut wajahnya yang sudah jatuh cinta akan berapa koin yang akan dirinya dapatkan di masa depan.


"Bagaimana? Apakah Tuan Jiang tertarik." Tanya Weng sambil menaik turunkan salah satu alisnya.


"Sepertinya pembicaraan kalian sungguh menarik." Belum sempat Jiang membalas ucapan Weng, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar dan menampakkan seorang pemuda tampan dengan mata biru tajam dan aura dingin dan membekukan.


"Siapa kau? Beraninya tamu tak diundang menginjakkan kakinya ke dalam kediamanku tanpa seizinku. Pengawal!" Jiang mengeram marah melihat kedatang Yang Jian yang tiba-tiba. Bagaimana bisa ada orang asing memasuki kediamannya tanpa bisa dia deteksi.


"Siapa yang coba kau panggil?" Yang Jian mulai melangkahkan kakinya, sorot matanya yang tajam serta aura membunuh yang perlahan menguar dari tubuh Yang Jian membuat jantung Weng, Jiang dan para pengikutnya berpacu cepat.

__ADS_1


__ADS_2