Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 105: Tuan Monster Siluman


__ADS_3

"Bukankah kalian lebih licik dibanding kami,Tetua Tang?" Terselip nada menahan amarah dalam setiap ucapan salah satu cultivator legenda aliran hitam. Menatap tajam Tetua Tang seraya melirik sedikit kebawah, tepatnya ke arah dimana para raja dan ratu siluman menyerang secara membabi buta.


"Bukankah terlambat jika kami adalah pelaku di balik kedatangan para monster siluman itu?" Balas Tetua Tang sengit. Sorot mata tajam dan seriusnya membuat cultivator aliran hitam itu mulai mempertimbangkan banyak hal.


Jika memang monster siluman dikendalikan oleh cultivatir aliran putih, maka mereka tidak akan menunggu hingga hari kedua untuk mengeluarkan para monster siluman tersebut. Mendengar hal tersebut, ekspresi tetua cultivator aliran hitam sedikit melunak.


'Ini tidak bisa dibiarkan lebih lanjut. Kedatangan Organisasi Bunga Mawar saja sudah membuat kami kewalahan. Jika bertahan sedikit lebih lama mungkin kami akan pulang hanya dengan nama saja.' Tetua tersebut tampak berpikir keras.


Gerak-gerik tetua itu tak lepas dari pengawasan Tetua Tang. Dia berpikir jika cepat atau lambat, pihak cultivator aliran hitam akan segera menarik mundur pasukannya. Dan benar saja, asumsi Tetua Tang segera dikuatkan oleh pernyataan tetua cultivator aliran hitam tersebut.


"Mengingat hari sudah mulai malam sebaiknya pertarungan kita akhiri disini." Ucap tetua cultivator aliran hitam tersebut seraya membuang tatapannya dari Tetua Tang. Sementara itu, Tetua Tang hanya mendengus kecil pertanda tidak setuju akan alasan yang tetua itu buat.


Tanpa aba-aba, tetua cultivator aliran hitam itu melemparkan serbuk racun dengan dosis tinggi, serbuk itu melesat cepat membelah udara hingga sedetik kemudian meledak bagai granat.


'Duarrr!'

__ADS_1


Suara ledakan disusul oleh kabut tipis berwarna hijau, menghalangai jarak pandang Tetua Tang. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh tetua cultivator aliran hitam itu. Secepat kilat, dirinya melesat meninggalkan Tetua Tang dan terbang menuju lokasi Tetua Kaibo berada.


Saat Tetua Tang berhasil lepas dari jerat serbuk beracun tersebut, dirinya tak lagi menemukan tetua yang bertarung denganannya. 'Ck, sungguh merepotkan!' Batin Tetua Tang, kemudian dia bergerak cepat menuju daratan untuk membantu Tetua Yin Xia beserta cultivator aliran putih netral lainnya.


Akibat dari kedatangan monster siluman secara tiba-tiba, membuat pertarungan terpaksa di hentikan lebih awal. Mengingat banyaknya korban dari pihak cultivator aliran hitam membuat mereka mau tidak mau harus mundur secepatnya.


Kesempatan itu digunakan sebaik mungkin oleh pihak cultivator aliran putih, tak terkecuali kelompok dari Organisasi Bunga Mawar. Awalnya mereka tidak mengerti akan situasi darurat saat ini, mereka bahkan mulai berpikir untuk menarik mundur seluruh pasukan Organisasi Bunga Mawar di saat pasukan monster siluman mulai mendekati mendan pertarungan.


Hal itu karena kelompok mereka di panggil hanya untuk membantu pemerintahan Kota Batu melawan kekacauan yang di akibatkan oleh Sekte Ular Sembilan dan Sekte Cakar Iblis. Dan bukan untuk mengatasi kekacauan yang di sebabkan oleh pasukan monster siluman.


Organisasi Bunga Mawar bukanlah kelompok dibawah naungan kekaisaran maupun sekte besar lainnya. Namun mereka adalah kelompok yang memiliki kekuasaan tersendiri yang bahkan pihak kekaisaran sekalipun akan menaruh hormat.


Hal itu tentu mengundang perhatian dari kelompok Organisasi Bunga Mawar. Kejadian langka di hadapan mereka membuat mereka tidak percaya apabila tidak dilihat secara langsung. Akibatnya, mereka mulai melupakan keinginan untuk menarik mundur pasukan dan masuk kembali ke dalam medan pertarungan.


Hingga hari menjelang sore, pertarungan semakin tidak seimbang. Banyak cultivator dari aliran hitam meregang nyawa, bahkan beberapa di antara mereka membunuh diri mereka sendiri. Raut muka keputusasaan mulai tercetak jelas dari wajah mereka.

__ADS_1


Hingga sebuah aba-aba dari Tetua Kaibo menggema di seluruh Kota Batu. Saat aba-aba selesai, para cultivator aliran hitam segera melemparkan serbu racun yang akan meledak dan menghasilkan kabut hijau untuk mengelabui lawan.


Serbuk tersebut sepertinya telah disiapkan sebelumnya apabila hal ini terjadi. Saat kabut hijau mulai menyelimuti para cultivator aliran putih dan beberapa kawanan raja dan ratu siluman, maka kesempatan itu mereka gunakan untuk melarikan diri secepat mungkin.


Namun hal tersebut tidak berlaku bagi semua raja dan ratu siluman, bagi siluman yang memiliki racun dalam tubuh mereka tampaknya tidak terganggu, misalnya raja siluman kalajengkin, mereka tampak tak terpengaruh sedikitpun. Bagaimanapun juga, dibanding serbuk racun milik cultivator aliran hitam, racun yang mereka hasilkan jauh lebih kuat dan mematikan.


Tak butuh waktu lama hingga Kota Batu kembali terlepas dari lingkup pertarungan. Setelah kabut perlahan-lahan memudar, bersamaan dengan itu para raja dan ratu siluman menghilang secara tiba-tiba tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Pihak cultivator aliran putih netral, pasukan Kota Batu serta kelompok Organisasi Bunga Mawar kembali berkumpul di satu titik. Mereka mengabaikan sementara rasa terkejut akibat hilangnya para raja dan ratu siluman secara misterius akibat dari pemandangan Kota Batu kini tak jauh bagaikan kota mati sehabis pertempuran.


Rumah-rumah, bangunan tinggi serta pepohonan di beberapa tempat telah rata dengan tanah, lengkap dengan tanah yang berubah warna menjadi kemerahan, kemudian di sempurnakan dengan beberapa tumpuk mayat dari cultivator aliran hitam dengan kondisi yang memprihatinkan bekas menggilanya raja dan ratu siluman yang entah siapa dalang dibalik semuanya.


Kini jumlah luka dari pihak mereka jauh berkurang. Dan hanya ada sedikit angka kematian pada pertarungan kali ini. Jelas, bahwa ini merupakan pencapaian yang mengagumkan. Namun mereka semua menyadari bahwa kemenangan ini tidak akan bisa mereka peroleh tanpa campur tangan sosok misterius yang mengendalikan monster siluman tersebut.


Kini pikiran mereka semua terfokus pada sosok misterius tersebut yang tidak lain adalah Yang Jian. Bahkan Yang Jian sendiri tak menyadari bahwa tindakannya kali ini akan membawa pengaruh besar bagi nama besarnya di masa depan. Tanpa sepengetahuan Yang Jian juga bahwa kini dirinya dijuluki Tuan Monster Siluman. Yang bahkan orang-orang tidak tahu siapa gerangan Tuan Moster Siluman tersebut.

__ADS_1


Jika Yang Jian mengetahuinya mungkin dirinya akan tersedak ludah sendiri karena tidak mampu mempercayainya. Begitu juga dengan orang-orang, mereka mungkin akan memukul kepala sendiri jika Tuan Monster Siluman yang membuat mereka penasaran setengah mati adalah sosok Yang Jian, pemuda tampan yang baru menginjak dua puluh satu tahun.


Siapapun akan sulit menerima hal ini. Anak semuda itu tidak akan mungkin mampu mengendalikan ratusan raja dan ratu siluman, kecuali jika mereka benar-benar gila dan menyaksikannya secara langsung.


__ADS_2