
Para tetua kota beramai-ramai menyanggah pendapat Bangsawan Jingmi untuk mengikutsertakan Yang Jian kedalam pertemuan. Dan hal itu tentu membuat Bangsawan Jingmi semakin dilema. Dirinya sedikit penyesali ucapan implusifnya yang mengajak Yang Jian kedalam pertemuan tanpa perpikir sebelumnya.
"Itu Tuan Muda, bagaimana jika-" Bangsawan Jingmi yang berusaha berbicara untuk menengahi di potong oleh ucapan Yang Jian. "Sampai kapan kalian akan berdebat? Kalian akan menyesali perbuatan kalian ini jika tidak mengijinkanku untuk masuk."
Ucapan Yang Jian yang terkesan sombong disambut tatapan tak suka dan raut wajah remeh dari para tetua. Sedangkan Bangsawan Jingmi yang mendengar itu sedikit pucat, dirinya berpikir jika Yang Jian berencana mengacaukan kediaman ini jika berani
menyinggungnya.
"Baiklah silahkan, Tuan Muda. Maaf jika membuatmu menunggu lebih lama." Bangsawan Jingmi mempersilahkan Yang Jian menuju ruangan lain untuk mengadakan pertemuan yang langsung disambut baik oleh Yang Jian, beberapa tetua tampak hendak.melayangkan protes namun di balas pelototan tajam oleh Bangsawan Jingmi.
Sikap Bangsawan Jinggi yang begitu berhati-hati terhadap Yang Jian membuat para tetua akhirnya mengalah. mereka mau tidak mau berjalan mengikuti Bangsawan Jingmi dan Yang Jian menuju aula pertemuan lainnya. Mereka juga penasaran, hal apa yang akan membuat mereka menyesal jika tidak mengikutsertakan Yang Jian.
Kini mereka telah duduk rapi di sebuah ruangan yang cukup besar, meja dan kursi berbentuk lingkaran dengan salah satu kursi di ujung paling depan tampak kuat dan gagah. Kursi tersebut ditempati oleh Bangsawan Jingmi. Sementara itu di meja lain diisi oleh para tetua kota dan tangan kanan Bangsawan Jingmi. Untuk Yang Jian sendiri duduk di salah satu kursi menghadap Bangsawan Jingmi.
Bangsawan Jingmi mulai membuka rapat, setelah rapat dibuka seseorang tiba-tiba berkata lantang. "Bisakah kau mengatakan apa maksud dari perkataanmu sebelumnya? Ku harap kau tidak hanya mencari sensasi dan meremehkan tetua ini!" Ucap tetua sepuh seraya menatap tajam Yang Jian.
__ADS_1
Yang Jian diam, memandang Bangsawan Jingmi dan mengabaikan tetua sepuh tersebut. "Aku sudah mengetahui sedikit banyaknya kendala yang kalian alami saat ini." Ucap Yang Jian tenang. Tak ada rasa takut sedikitpun dari raut wajahnya walaupun dirinya dikelilingi oleh orang-orang berpengaruh di Kota Batu.
"Dan kurasa tetua bukan di tempat dimana tetua bisa bersikap remeh terhadap saya." Lanjut Yang Jian yang kini beralih menatap para tetua yang mengejeknya sebelumnya.
Bangsawan Jingmi menghela napas panjang. Tak ada satupun di kota ini yang tidak tahu bagaimana parahnya kondisi Kota Batu dan bagaimana tidak beruntungnya kondisi keuangan mereka. Mengabaikan sikap tak suka para tetua, Bangsawan Jingmi mulai menjelaskan banyaknya kekurangan dana dan pangan yang mereka butuhkan saat ini.
"Saat ini, bantuan dana yang telah kami kumpulkan hanya mampu menutupi kerugian sekitar tiga puluh persennya saja." Ucap Bangsawan Jingmi. Dia mulai menjelaskan apa-apa saja biaya yang mereka harus tutupi untuk pemulihan Kota Batu.
Yang Jian mendengarkan penjelasan Bangsawan Jingmi dengan seksama hingga akhir. Yang Jian berspekulasi jika dia menutupi kekurangan biaya tujuh puluh persennya lagi dari harta yang diberikan Xiao Ming di cincin dimensinya maka Yang Jian masih memiliki harta yang tersisa. Lagi pula Yang Jian masih memiliki satu cincin dimesi lainnya pemberian Yang Shui, namun Yang Jian tidak berniat menggunakan cincin tersebut karena Yang Jian akan menggunakannya ketika dirinya berhasil merebut kembali Klan Yang dari pamannya.
"Walaupun kami berhasil mengumpulkan dan memperoleh tujuh puluh persen bantuan lainnya, tetap saja kami tidak mampu mengembalikan Kota Batu seperti sedia kala." Dengan kata lain, seluruh dana yang telah mereka kalkulasikan adalah seluruh biaya bagi seluruh masyarakat Kota Batu yang tersisa. Dan itu belum termasuk dana untuk modal awal mereka untuk kedepannya.
"Cara lain seperti apa yang tetua maksud? Bukankan setiap waktu kita telah memikirkan cara lain bahkan mengemis bantuan dari pihak lain? Tapi lihatlah apa yang kita dapat? Mereka seolah menutup mata akan kesusahan kita." Jawab Bangsawan Jingmi putus asa. Pernah suatu malam Bangsawan Jingmi berencana hendak memindahkan masyarakatnya kebeberapa kota yang cukup kaya dan makmur namun tak satupun dari mereka yang bersedia menampung masyarakat Kota Batu.
Hal itu membuat Bangsawan Jingmi begitu kecewa dan putus asa. Bahkan bangsawan Jingmi dan beberapa bangsawan lainnya yang masih memiliki aset yang tertinggal mengeluarkan seluruh kekayaannya untuk membantu Kota Batu namun tidak membawa perubahan yang berarti.
__ADS_1
Bangsawan Jingmi sesungguhnya tidak terlalu berharap lebih terhadap Yang Jian, namun keputus asaannya membuat Bangsawan Jingmi yang entah mengapa berkeinginan untuk menjelaskan kondisi keuangan Kota Batu kepada Yang Jian.
Aura dan Kharisma yang dikeluarkan Yang Jian membuat Bangsawan Jingmi begitu tertarik sekaligus penasaran dalam waktu yang bersamaan. Yang Jian juga sadar jika Bangsawan Jingmi meragukannya, namun melihat bagaimana Bangsawan Jingmi tidak mengabaikannya dan memilih untuk mempercayainya membuat Yang Jian merasa puas. Akhirnya Yang Jian juga memilih untuk mempercayai Bangsawan Jingmi.
"Aku bisa menutupi kekurangan dananya."
Satu kalimat membuat Bangsawan Jingmi dan para tetua membeku. Raut wajah para tetua kota tampak tercengang, namun tidak mengurangi pandangan remeh dari mereka bahkan kini mereka menganggap Yang Jian seorang idiot yang tidak tahu tempat.
"Ini bukan taman bermain anak muda. Jangan mencoba untuk membohongi kami." Ucap salah satu tetua kota begitu tersadar dari rasa terkejutnya dan diikuti oleh anggukan kepala dari para tetua lainnya.
Berbeda dengan para tetua kota, Bangsawan Jingmi tidak sedikitpun menunjukkan rasa tak suka terhadap Yang Jian, bahkan kini tatapannya bagaikan tengah menemukan secercah harapan.
"Bagaimana kami bisa menerima kemurahan hatimu, Tuan Muda?" Sahut Bangsawan Jingmi yang membuat para tetua serta tangan kanan Bangsawan Jingmi melongo tak percaya.
Sedangkan Yang Jian sendiri tersenyum tipis. 'Keputusan yang bagus!' Gumam Yang Jian dalam hati, kini tekat Yang Jian semakin bulat untuk membantu Kota Batu. Jika saja sebelumnya Bangsawan Jingmi meragukan Yang Jian, maka Yang Jian juga akan meragukan mereka. Namun setelah mendengar respon Bangsawan Jingmi, membuat Yang Jian merasa lebih baik.
__ADS_1
Para tetua kota hendak protes, namun setelah melihat bagimana Bangsawan Jingmi menaruh harapan kepada Yang Jian mengurungkan niat mereka.
"Tetapi, tentu aku tidak akan memberikannya secara cuma-cuma." Lanjut Yang Jian santai.