Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 45: Organisasi Bunga Mawar II


__ADS_3

Yang Jian menunggu di sebuah ruangan minimalis yang telah disediakan khusus bagi setiap tamu. Ruangan tersebut mewah dengan perabotan yang khas berukiran bunga mawar. Sungguh totalis. Segala sesuatu yang berada di organisasi tersebut tidak lepas dari ukiran bunga mawar.


Tidak butuh waktu lama, datanglah seorang pria yang berbeda lagi memasuki ruangan dimana Yang Jian berada. "Sudah lama menunggu?" sapa pria tersebut berbasa-basi.


"Tidak tuan, aku juga baru menunggu beberapa saat yang lalu." Yang Jian cukup terkesan terhadap pelayanan organisasi ini, walaupun Yang Jian masih sangat muda dan dengan praktik yang terbilang masih rendah, namun Yang Jian tidak di anggap remeh atau bahkan sampai di abaikan.


Bahkan Yang Jian juga di suguhkan makanan dan minuman mewah sebagai teman menunggunya.


"Baiklah, jadi apa tujuanmu datang kemari anak kecil?" pria tersebut masih terlihat sangat muda, suaranya juga terdengar berat namun tegas. Dia memandang Yang Jian dari atas ke bawah mencoba mencari tahu identitasnya dari jubah atau apapun yang dia kenakan, namun tidak ada tanda khusus yang menerangkan siapa Yang Jian.


Pria tersebut juga memeriksa tingkat praktik Yang Jian, 'puncak warior' pikir pria tersebut mengangguk pelan.


Sebelum meninggalkan Sekte Naga Awan, Yang Jian memang sudah terlebih dahulu mengganti pakaiannya dengan mengenakan salah satu jubah pemberian Xiao Ming.


"Aku membutuhkan informasi ini secepatnya, bahkan informasi sekecil apapun jangan sampai terlewatkan. Berapa lama aku harus menunggu tuan?"


Yang Jian menyerahkan secarik kertas berisikan informasi mengenai hal apa saja yang harus di cari tahu oleh Organisasi Bunga Mawar. Pria tersebut meraih kertas dari tangan Yang Jian, kemudian membacanya secara perlahan.


"Ini? Kau beruntung anak kecil, kau tidak perlu menunggu waktu kami untuk mengumpulkan informasi ini karena kami sudah memilikinya sejak lama, bahkan sejak kejadian ini terjadi."


Yang Jian menatap pria tersebut dengan tatapan penuh tanya, pasalnya yang Yang Jian ketahui bahwa informasi yang akan kita beli akan di selidiki terlebih dahulu sebelum di serahkan kepada pelanggan. Dan itu butuh waktu selama proses pengumpulan informasi selesai.


"Tunggu sebentar." pria tersebut meninggalkan Yang Jian yang membuat kerut di keningnya semakin bertambah. Namun Yang Jian tidak membantah, dia tetap duduk manis di kursi tersebut.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama pria tersebut kembali dengan gulungan di tangannya. "Mungkin kau bingung, tapi biar ku jelaskan. Sebelum kau ada orang yang juga mencari tahu informasi ini. Jadi, kami masih menyimpan salinanya." ucapnya sambil meletakkan gulungan tersebut di atas meja.


Yang Jian memandang gulungan tersebut sambil mengangkat sebelah alisnya, ada noda debu yang sudah menghitam di atas gulungam tersebut. Ini pertanda bahwa gulungan tersebut di simpan dalam jangka waktu yang lama.


"Tapi, kau tentu mengetahui peraturan organisasi bukan? Setiap pelanggan, informasi, dan siapa-siapa saja yang terkait di lindungi oleh organisasi sebaik mungkin." sorot mata pria tersebut yang semula teduh berubah tajam, Yang Jian yang mengerti maksud perkataan pria tersebut mengangguk pelan.


Yang Jian memang sama sekali tidak berniat menanyakan siapa gerangan yang mencari informasi yang sama dengan yang dia cari sebelumnya.


Yang Jian mulai meraih gulungan itu dari atas meja, dia mengibaskan tangannya pelan ke arah gulungan, seketika muncul angin yang cukup kencang dari kibasan tangan Yang Jian hingga menyapu bersih noda hitam tersebut.


Hal ini membuat pria di hadapan Yang Jian merasa kagum, karena walaupun praktik Yang Jian masih berada di puncak warior namun tehnik pengendalian qinya sudah matang.


Tidak mudah mengendalikan qi sebaik yang baru saja di lakukan Yang Jian. Pria tersebut mencoba memeriksa praktik Yang Jian sekali lagi, namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya, puncak warior.


'Apa dia memiliki ilmu khusus pengendalian qi?' pikir pria tersebut sambil mengelus dagu mulusnya.


"Liu Changhai dari Sekte Harimau Merah." seorang pria muda dengan gaya gagah nya berjalan memasuki aula pertarungan, dia adalah saudara kembar dari Liu Xingsheng yang sebelumnya dikalahkan Yang Jian.


"Li Wei dari Sekte Lotus Putih." gadis muda berparas manis menjadi lawan Liu Changhai. Li Wei berasal dari Sekte Lotus Putih dimana sekte tersebut hanya dihuni oleh cultivator perempuan.


Setelah penyelenggara turnamen kembali membuka pertandingan, yang menjadi peserta pertama adalah Liu Changhai dan Li Wei. Mereka sama-sama memberi hormat ke arah wasit yang telah mengambil posisi ditengah-tengah mereka berdiri.


Kali ini yang menjadi wasit pertandingan adalah, pria yang masih tampak berusia muda dengan jubah hitam kebesarannya, dia adalah Tetua Zhang.

__ADS_1


Saat wasit selesai memberi aba-aba, Liu Changhai tidak langsung menyerang. Dia berdiri tegak menunggu Li Wei untuk melancarkan serangannya. Li Wei yang tidak mau membuang waktu dia segera mengeluarkan qi yang dahsyat dari dalam tubuh nya, seketika pancaran kekuatan puncak warior merembes dari tubuh Li Wei.


Lie Wei memunculkan sebuah cambuk di telapak tangannya, perlahan-lahan cambuk tersebut mulai di aliri oleh qi yang besar. Sedetik kemudian Li Wei melecut Liu Changhai dengan cambuknya. Cambuk yang semula berlipat seketika berubah menjadi setajam pedang yang baru diasah.


Liu Changhai tidak mau tinggal diam, dia melompak ke udara untuk menghindari lecutan Li Wei. Kemudian dia menukik tajam ke arah Li Wei sambil mengarahkan telapak tangannya.


'Boommm!'


Pertemuan serangan keduanya menghasilkan gelombang kejut yang cukup keras, mereka sama-sama mundur dan menatap dalam kekuatan masing-masing. Untuk beberapa detik mereka masih setia dengan posisi mereka yang saling menatap dalam diam.


"Mari kita akhiri ini secepat mungkin." setelah itu, Liu Changhai maju dan mulai menyerang untuk pertama kalinya. Dia menggunakan tapak nya untuk menaklukkan serangan cambuk Li Wei.


Pertarungan ini berlangsung cukup lama, tidak ada yang tampak akan mengaku kalah terlebih dahulu. Tetapi setelah melihat kondisi keduanya, dapat dinilai bahwa Liu Changhai jauh lebih unggul, hanya saja Liu Changhai masih menghargai Li Wei sebagai cultivator wanita.


" Senior memang sehebat yang pernah terdengar." ucap Li Wei di sela-sela pertarugannya.


"Terimakasih karena telah mengenalku."


"Hanya pernah mendengar, bukan berarti mengenal."


"Tetapi aku cukup terkesan. Sebagi perkenalan, aku akan mengakhirinya dengan baik."


Setelah percakapan singkat tersebut, Liu Changhai tampak tidak ingin membuang waktu lebih lama. Dia menarik nafas dalam untuk mengumpulkan energinya.

__ADS_1


Setelah itu Liu Changhai mengumpulkan qi yang besar di tangan kanannya. Qi yang awalnya kecil perlahan-lahan membesar, semakin besar hingga memunculkan naga biru yang bergejolak hebat di tangan Liu Changhai namun dalam ukuran kecil.


Semua orang terpana melihat naga petir Liu Changhai yang tampak indah menari-nari di telapak tangannya, tak terkecuali untuk Li Wei sendiri.


__ADS_2