Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 29: Turnamen Cultivator Muda IV


__ADS_3

Suasana arena pertarungan berubah menjadi mencekam, Liu Xingsheng yang melihat perubahan Yang Jian menelan ludah kasar bahkan jantung nya berdegup kencang tidak beraturan. Aura yang di pancarkan Yang Jian membuat nyali nya ciut.


Yang Jian mengibaskan tangan nya ke arah Liu Xingsheng. Seketika kilat merah yang berasal dari telapak tangan Yang Jian muncul lalu melesat cepat dan tanpa ampun menghantam bahu kiri Liu Xingsheng.


"Arghh....!"


Seketika pusaka yang di pegang Liu Xingsheng terlepas dari tangan nya bersamaan dengan tubuh nya yang jatuh berlutut sambil memegangi bahu nya yang terasa panas membakar.


Luka yang berasal dari kilat merah tadi melebar dengan cepat membakar jaringan kulit Liu Xingsheng.


Meskipun sama-sama memiliki elemen murni namun penguasaan Liu Xingsheng terhadap elemen petir masih lemah sedangkan untuk Yang Jian kasus nya berbeda, darah nya tercampur langsung dengan darah si pemilik elemen api murni tersebut.


"Ini turnamen bukan pertarungan hidup dan mati. Aku tidak ingin membunuh siapa pun jadi ku anggap kau kalah karena harga diri mu yang tinggi pasti melarang mu untuk mengakui itu."


Yang Jian menahan diri untuk tidak mencabut nyawa Liu Xingsheng, karena akibat nya akan buruk bagi kelangsungan sekte nya.


"Bagaimana menurut anda tetua Mayleen?"


Tetua Mayleen tersentak kaget mendengar pertanyaan Yang Jian tiba-tiba karena sedari tadi dia melongo melihat luka bakar di bahu Liu Xingsheng yang dengan cepat melebar ke tangan nya, untung saja Liu Xingsheng masih memiliki sisa qi untuk menahan penyebaran luka tersebut sehingga hanya bahu dan sedikit tangan nya yang melepuh.


"Pemenang nya adalah Yang Jian dari sekte batu giok." Seru Mayleen setelah mendapat persetujuan dari kedua wasit pria di kursi nya.


Yang Jian menuruni arena pertarungan dengan tenang, orang-orang kini mulai memperhatikan Yang Jian mereka semua menebak pasti Yang Jian memiliki kekuatan yang besar yang masih dia sembunyikan.


Tetua Fang, guru Liu Changhai dan Liu Xingsheng mengangkat tubuh Liu Xingsheng dari arena, raut wajah nya menunjukkan kekhawatiran.


Saat berpapasan dengan Yang Jian, Yang Jian menunduk hormat. Tanpa mengatakan apapun tetua Fang langsung berjalan meninggalkan Yang Jian, tujuan utama nya sekarang adalah secepat nya mengobati luka murid nya tersebut.

__ADS_1


"Biar ku lihat kondisi nya." Seorang wanita berjubah serba putih menghampiri tetua Fang. Dia adalah seorang tabib kepercayaan kaisar, tidak ada satupun yang meragukan kemampuan nya dalam hal pengobatan.


"Terimakasih Nona Bai." tetua Fang mengangguk pelan dan membawa Liu Xingsheng menuju ruangan khusus yang di sediakan untuk mengobati peserta turnamen yang terluka untuk menerima pengobatan.


"Sesuai harapan." Han Li mengangkat jempol nya ke arah Chang An, sementara Chang An hanya menampilkan senyum manis nya.


"Jangan tersenyum seperti itu, kau membuat pertahanan ku goyah." Goda Han Li sambil bertingkah manis layak nya wanita muda yang baru jatuh cinta.


'Plakkk.' Chang An memukul bahu Han Li kesal. "Aku ragu bahwa sebenarnya kau bukan lelaki normal."


"Ckk, selera humor mu benar-benar payah."


~~


"Selamat kau hebat, Yang Jian." Xinxin yang menyambut kedatangan Yang Jian memberikan selamat tetapi saat mengucapkan nama Yang Jian dia agak terbata, mungkin karena aura yang di keluarkan Yang Jian berbeda dari sebelum nya atau karena melihat pertarungan nya.


Yang Jian hanya mengangguk kecil menanggapi Xinxin, sedangkan Feng Yu dia bahkan tidak berani menoleh ke arah Yang Jian.


~~


Di tempat lain, tempat yang jauh dari jangkauan pemerintah telah terjadi pembantaian terhadap beberapa desa kecil. Api yang menyala, jeritan yang menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar dan aliran darah yang membasahi tanah kekaisar Qin.


"Apa yang kalian inginkan?" seorang pria paruh baya sedang memeluk wanita dan dua orang anak kecil yang sedang menangis.


"Kami tidak melakukan kesalahan apapun kepada kalian tetapi mengapa kalian membunuh seluruh warga desa?" tanya nya lagi dengan raut wajah marah.


Dia melihat mayat-mayat warga nya yang tergeletak di tanah. Mereka di bunuh dengan keji, ada yang kehilangan kepala, kaki, tangan bahkan di tusuk-tusuk dengan kejam.

__ADS_1


"Salah kalian apa? Ha ha ha..." seorang pria yang mengenakan jubah hitam panjang tertawa kencang, di belakang nya juga terdapat sekelompok orang berjubah yang sama dengan nya dengan senjata yang telahberlumuran darah. Seperti mereka memang berasal dari kelompok yang sama.


"Lemah! Itulah kesalahan kalian." pria itu tersenyum mengejek dan tanpa aba-aba langsung menebas kepala pria paruh baya tersebut di susul dengan menikam istrinya tepat di jantung.


"Tidak... Ayah ibu." kedua anak kecil yang melihat kematian ayah dan ibu nya berteriak histeris, mereka memeluk mayat orang tuanya yang telah berlumuran darah.


"Anak yang manis." pria berjubah hitam tersebut memandangi anak yang sedang menangisi kematian orang tua nya. Anak tersebut terlihat seperti baru berusia enam tahun. Dan untuk ukuran anak desa mereka memiliki wajah yang manis.


"Ayo pergi!" pria itu mengajak kelompoknya meninggalkan desa tersebut.


"Tapi ketua bagaimana dengan kedua anak itu." salah satu pengikut pria yang di panggil ketua tersebut berbicara sambil menunjuk kedua bocah di depan mereka.


"Biarkan saja. Suasana hati ku sedang baik , lagi pula mereka tidak akan mampu bertahan hidup tanpa makan dan minum." Sekelompok orang yang mengenakan jubah hitam memang telah merampas seluruh harta benda masyarakat sebelum membakar desa tersebut.


Kedua anak yang menangis tersebut memandang sekelompok pembunuh yang hendak pergi itu, menatap lekat wajah nya dengan tatapan amarah penuh dendam dan kebencian. Sorot mata mereka seolah mengatakan akan ku balas semua ini.


~~


Kembali ke turnamen, suasana pertandingan kali ini sedikit berbeda dari sebelum nya. Bahkan sebelum pertandingan di mulai suasana di arena sudah tidak bersahabat.


Seorang gadis muda berjubah biru muda berdiri tenang dengan rambut setengah di ikat dan sisa nya di biar kan tergerai indah, angin yang berhembus pelan menerpa rambut hitam gadis muda itu seolah-olah sedang melambai menyapa penonton turnamen.


Sementara itu gadis di depan nya mengenakan jubah cokelat dengan rambut di kuncir kuda, tatapan mata nya tajam dan raut wajah nya menunjukkan permusuhan.


"Qin Lienhua dari Sekte Naga Awan." Gadis berjubah biru lebih dulu memperkenalkan diri, suara nya yang lembut membawa ketenangan di tambah wajah nya yang manis membuat siapa pun merasa gemas. Dia adalah putri mahkota kekaisaran Qin.


"Qin Fanfan dari Sekte Harimau Merah." Gadis muda satu nya lagi memperkenalkan diri, wajah nya bulat dengan pipi merah muda, dia juga berparas manis namun tidak seindah Qin Lienhua.

__ADS_1


__ADS_2