
"Calon ibu mertuaku telah mengucapkan terimakasih dan memberimu kesempatan untuk meminta hadiah, namun dengan lancang kau ingin pergi dan menolaknya? Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?" Pria itu memarahi Yang Jian sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Sudahlah Wang'er jika Yang Jian memiliki kepentingan lain tidak baik jika kita menahannya terlalu lama. Nak, maaf telah merepotkanmu dan maaf juga atas perkataan Wang, dia tidak bermaksud menyinggungmu." Dengan lembut ibu Meimei mencoba menenangkan keadaan.
"Aku akan dengan senang hati jika kau bersedia menerima hadiah kami Yang Jian." Kali ini ayah Meimei yang berbicara, dia mencoba mengalihkan fokus Yang Jian yang sedang menatap tajam Wang. Insting ayah Meimei mengatakan bahwa dia secepatnya harus mengambil tindakan.
"Maafkan aku paman, bukannya aku lancang tetapi aku tulus membantu Kakak Meimei. Anggap saja jika aku telah menerima hadiah tersebut." Bukannya Yang Jian maif dengan menolak hadiah dari keluarga Meimei. Hanya saja dia tidak mau menerima hadiah tersebut atas dasar imbalan karena telah menolong Meimei.
"Baiklah jika itu maumu, kami tidak bisa memaksa. Tapi tolong tinggallah sebentar lagi untuk makan siang Yang Jian, baru setelah itu kau boleh pergi." Meimei menatap Yang Jian penuh harap dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Wang yang meliat calon istrinya begitu peduli terhadap Yang Jian dan begitu menginginkan Yang Jian tinggal lebih lama membuat wajahnya masam, dia mencubit lengan Meimei sebagai peringatan agar menjauh dari Yang Jian, namun Meimei terlihat seolah tidak peduli dan kembali menatap Yang Jian dengan sorot mata penuh harap, dan itu sukses membuat Wang bertambah geram.
Aksi Wang tidak lepas dari pengawasan Yang Jian, dia jelas tahu bahwa calon suami Meimei tidak menyukainya. Namun bukankah itu terlalu kekanak-kanakan? Cemburu terhadap anak kecil terlalu berlebihan menurut Yang Jian. Lagipula Wang tidak memiliki alasan untuk melalukan hal tersebut.
"Aku sangat berterimakasih. Tapi aku tetap tidak bisa menunda perjalananku lebih lama lagi." Tolak Yang Jian halus, dia benar bahwa ini bersangkutan antara hidup dan matinya. Tentu saja Yang Jian harus secepatnya melanjutkan perjalanan.
"Sudahlah Mei'er jangan memaksanya, masih banyak waktu untuk kita bisa membalas kebaikan Yang Jian." Sahut ibu Meimei pasrah. "Dan juga..."
"Tunggu ibu, mengapa ibu malah membiarkannya. Dia sudah berani menolak kebaikan ayah dan ibu. Itu artinya dia telah menolak kebaikan keluarga kita. Ini penghinaan besar untuk kita." Potong Wang dengan berapi-api. Entah apa alasan dia begitu marah kali ini, apakah karena murni penolakan Yang Jian atau cemburu kepadanya.
Memang benar, bahwa jika seseorang menolak kebaikan kita merupakan suatu penghinaan karena menganggap remeh kita. Namun berbeda dengan Yang Jian, dia tidak ingin menerima kebaikan setelah melakukan sesuatu. Itu tidak ada bedanya dengan bayaran atas perbuatannya. Dan tentu saja tidak pantas disebut kebaikan.
__ADS_1
Yang Jian memandang dingin ke arah Wang, dia bersikap seolah seperti bagian dari keluarga Meimei padahal mereka belum menikah. Dan yang membuat Yang Jian tidak mengerti adalah, mengapa Wang berada dirumah calon mertuanya disaat Meimei menghilang dan bukannya mencari calon istrinya tersebut?
"Aku permisi." Pamit Yang Jian pada akhirnya sambil melangkahkan kakinya. Namun baru selangkah tangannya sudah dicekal oleh Wang sambil mengucapkan kata-kata kasar dan menghina Yang Jian
"Kau hanya berpura-pura jual mahal kan, agar kami mau memberi koin dan barang berharga kami? Aku sudah bertemu banyak orang sepertimu yang berlindung dibalik status anak-anakmu dan wajah polosmu untuk mengincar kekayaan orang lain dengan dalih membantu. Cih, sungguh hina."
Wang tersenyum licik, entah ada dendam apa Wang terhadap Yang Jian. Yang jelas sekarang dia tampak sedang mempropokasi orangtua Meimei untuk membuat citra Yang Jian buruk di depan mereka.
Dan benar saja, orang tua Meimei tampak sedikit terpengaruh akan ucapan Wang. Pandangan mereka sedikit berubah kepada Yang Jian. Menjadi sorot penuh selidik, bahkan Meimei sedikit mundur untuk menjaga jarak dari Yang Jian.
Kemudian ayah dan ibu Meimei berbisik pelan, tentu saja Yang Jian mampu mendengar bisikan mereka dengan jelas. Yang Jian kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Wang.
Wang membuka dengan mulut terbuka, dia bahkan tidak berani untuk sekedar berteriak. Tubuhnya gemetar, kedua tangannya meremas eras sisi jubah yang dia kenakan. Bahkan ayah, ibu dan Meimei sendiri menahan nafas sejenak dan mematung melihat Yang Jian dengan aura yang berbeda.
"Kau membuang waktuku."
Yang Jian menarik pedangnya menjauh, kaki kanannya perlahan bergeser untuk melakukan ancang-ancang untuk menyerang. Dan dalam hitungan detik, pedangnya terayun mengincar lengan Wang.
'Crashh Crashh.'
'Arghhh.'
__ADS_1
Seketika kedua tangan Wang terjatuh dari tempatnya. Bahkan gerakan Yang Jian tidak mampu ditangkap oleh kedelapan pasang mata yang berada di ruangan tersebut. Suara jeritan tertahan menggiring setiap tetesan darah yang mengalir dari lengan terpotong Wang. Yang Jian memotong tangan Wang bagaikan sedang memotong sebuah tahu.
"Seharusnya kau memilih membiarkanku saja tadi, dengan begitu kematianmu akan sedikit tertunda." Ucap Yang Jian dingin dengan pedang masih melintang indah di leher Wang yang melotot ketakutan.
Lalu Yang Jian mengarahkan tangannya yang bebas mengarah ke sebuah guci indah di sudut ruangan tersebut. Dalam hitungan detik, guci tersebut hancur menjadi serpihan kecil berukuran telapak tangan bayi. Seolah ada energi besar yang menghantam guci tersebut.
Mendadak pecahan guci tersebut melayang ke udara. Bukan hanya satu, tetapi lima pecahan melayang di udara sambil berputar-putar dengan cepat. Perlahan pecahan guci itu diselubungi percikan-percikan api merah menyala, lalu detik berikutnya melesat cepat menghantam dada dan perut Wang.
'Arghhh, uhuk uhuk.'
Darah segar menyembur dari mulut Wang, napasnya semakin berat dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Kelima bekas luka tempat pecahan guci tertancap membakar hangus jubah Wang hingga menampilkan bagian kulitnya yang berdarah. Perlahan-lahan bekas luka tersebut menyebar membakar jaringan kulit Wang.
Air mata Meimei dan kedua orang tuanya pecah, mereka begitu ketakutan hingga berlutut di samping Wang memohon pengampunannya agar menghentikan siksaan yang Wang derita dan memberinya kesempatan untuk hidup.
"Sebelumnya bukankah aku sudah memberi dia kesempatan?" Tanya Yang Jian dingin.
Meimei yang tidak tahan lagi akhirnya jatuh pingsan kemudian disusul oleh ibu Meimei. Kini hanya ayah Meimei yang berusaha mempertahankan kesadarannya walaupun keringat dingin telah membanjiri tubuhnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Yang Jian berjalan meninggalkan Wang yang masih terus menjerit kesakitan. Bahkan kini dia sudah memohon agar Yang Jian mencabut nyawanya, namun Yang Jian tidak mengindahkan permohonan Wang. Dia terus berjalan hingga mencapai bibir pintu ruangan.
"Ini peringatan." Ucap Yang Jian sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
__ADS_1