
Dragon menyadari ada keanehan, tidak ada decakan kagum maupun pujian? Pikir dragon. Dia menundukkan kepalanya mencoba melihat reaksi kedua raja siluman.
Pemandangan selanjutnya membuat dragon melongo. Kedua raja siluman yang dia harapkan akan menyembah-nyembahnya bagaikan dewa malah tertidur pulas berdampingan.
Dan itu sukses membuat dragon merasa di remehkan.
"Hei, kalau sampai seluruh kekuatanku kembali lagi, oh tidak... Kalau sampai setengah saja kekuatanku kembali. Ku pastikan kalian berdua akan menjadi percobaan pertama untuk kekuatan dahsyatku."
Dragon mengerang marah, kalau bukan karena Yang Jian mungkin sekarang dia sudah menjadikan kedua raja siluman tersebut sebagai menu makan siangnya.
"Bukan hanya kalian, tetapi seluruh bangsa kalian akan kuburu dan kujadikan mainanku!" ucap dragon kembali saat menyadari kedua raja siluman tersebut masih tetap tidak bergeming dari posisinya.
"Sudahlah dragon kami percaya. Bisakah kau diam dan kembali tidur? Suaramu malah mempercepat kematianku."
Yang Jian sebenarnya ingin sekali tertawa sekarang, namun dia urung melakukan itu karena takut malah memancing emosi dragon.
"Ya tuan benar, kami mempercayaimu. Jadi sebaiknya kita beristirahat sekarang dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk membantu tuan di Hutan Terlarang nanti." kali ini raja kalajengking mencoba menghibur dragon, bukan karena dia benar-benar percaya namun karena rasa kasihan.
Mendengar itu dragon mendengus kesal dan kembali keposisi ternyamannya untuk melakukan ritual tidur yang sudah menjadi rutinitasnya sepanjang hari.
"Aku tau kalian tidak benar-benar mempercayaiku. Tetapi kalian akan menyesalinya setelah melihat langsung kehebatanku." setelah mengatakan hal tersebut, baru dragon benar-benar tenang dan kembali tidur.
~~
Sementara itu di Sekte Naga Awan, Turnamen Cultivator Muda masih terus berlangsung. Pertandingan Qin Lienhua dan Qin Fanfan yang kembali di ulang menjadikan Qin Lienhua menjadi pemenang.
Dan Xinxin juga telah kalah dengan Feng Yu yang keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan Jian Tian dari Sekte Pedang Naga. Dengan keluarnya Feng Yu sebagai pemenang sudah membuat nama Sekte Batu Giok semakin di kenal oleh masyarakat luas, hal ini juga tentu membuat patriak Feng merasa bangga atas prestasi putra semata wayangnya tersebut.
Peserta-peserta lainnya tidak sehebat peserta sebelumnya, sehingga dapat dengan mudah dikalahkan oleh bintang lapangan saat ini.
__ADS_1
Kini hanya tersisa Liu Changhai yang akan melawan Qin Lienhua untuk merebut posisi juara pertama dan juara kedua turnamen. Serta Feng Yu yang akan melawan Tao Shilin dari Sekte Gunung Suci untuk menentukan juara ketiga dan keempat.
Karena pertandingan selanjutnya adalah penentu juara Turnamen Cultivator Muda pada musim ini, maka pihak penyelenggara turnamen memutuskan akan melanjutkan pertandingan sehari setelahnya. Hal ini bertujuan agar peserta turnamen mempunyai waktu untuk memulihkan diri.
"Selamat Yu'er kau memang hebat. Tidak salah guru melatihmu mati-matian selama ini. Dan untukmu Xin'er, walaupun sedikit mengecewakan...yah setidaknya kau cukup berguna juga. Kuharap kedepannya kau tidak sepayah saat ini."
Setelah pertandingan selesai Feng Yu dan Xinxin langsung pergi menuju kursi khusus perwakilan dari Sekte Batu Giok. Saat berbicara dengan Feng Yu, Tetua Shing tersenyum bangga sambil menepuk-nepuk pundanya. Sedangkan untuk Xinxin, Tetua Shing hanya meliriknya dengan sinis.
Melihat perlakuan Tetua Shing terhadap kedua muridnya membuat tetua Chang An dan tetua Han Li menahan kecewa dan amarah. Tidak sepantasnya seorang guru membedakan perlakuannya kepada muridnya sendiri hanya dari prestasinya saja. Hal itu dapat membuat Xinxin merasa berkecil hati dan dapat berpengaruh terhadap perkembangan pelatihannya untuk kedepannya.
"Terimakasih guru. Ini semua berkat bimbingan guru, aku akan lebih berusaha lagi untuk memenangkan pertandingan lusa." Feng Yu menunduk hormat kepada Tetua Shing, sementara Xinxin hanya menunduk dalam tanpa berani menjawab perkataan Tetua Shing.
"Kau benar, seorang murid tidak akan pernah berhasil tanpa campur tangan gurunya. Ada pepatah yang mengatakan, kualitas guru menentukan kualitas murid." Tetua Shing sengaja menekan kata-katanya sambil sedikit melirik Chang An dengan senyum sinisnya.
Feng Yu yang menyadari hal itu munundukkan kepalanya, dia merasa tidak enak hati kepada Tetua Chang An.
~~
"Terimakasih Xinxin. Aku juga tidak pernah menyangka akan lolos sampai sejauh ini."
"Seandainya Yang Jian masih mengikuti turnamen, aku yakin dia juga akan menempati salah satu posisi juara turnamen." Feng Yu mengangguk membenarkan ucapan Xinxin, setelah itu mereka sama-sama terdiam sambil berperang dengan pikiran masing-masing.
"Emm, apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?" ucap Feng Yu kemudian sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil bersandar di kursi.
Xinxin memiringkan kepalanya sambil menatap Feng Yu dalam mencoba mencerna maksud perkataan Feng Yu. Kemudian setelah itu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku bahkan tidak tau apa yang sedang kau pikirkan."
"Ckk kau ini. Maksudku seperti ini ya, tidak mungkin ayahku menunjuk Yang Jian menjalankan misi darurat disaat ada banyak murid yang jauh lebih senior dan lebih mampu di sekte? Kedua, apa harus disaat Yang Jian mengikuti turnamen?"
__ADS_1
"Oh itu, mungkin karena hanya Yang Jian yang mampu melakukannya." Xinxin berpikir bahwa Yang Jian melakukan misi yang berhubungan dengan Yang Jian sendiri, itu sebabnya misi tersebut tidak dapat diwakilkan oleh siapapun.
"Entahlah, hanya saja aku memiliki pemikiran yang berbeda akan hal ini."
"Apa kau mulai menyukainya Feng Yu? Emm maksudku menyukai Yang Jian?"
"Apa maksudmu?"
"Oh, kupikir kau tidak menyukai Yang Jian."
"Bukankah kau juga sama?"
"Hufttt, awalnya mungkin iya tetapi dia tidak seburuk yang Tetua Shing katakan. Dia sedikit misterius dan unik."
"Sedikit? Mungkin kalau kau berkata segala tentang Yang Jian adalah misterius dan unik, baru aku akan menyetujuinya."
Setelah itu mereka saling memandang kemudian detik selanjutnya tertawa terbahak-bahak.
"Apa kami melewatkan sesuatu?" Tiba-tiba saja Tetua Chang An dan Tetua Han Li memasuki kamar penginapan Feng Yu dan Xinxin.
"Salam tetua." Ucap Feng Yu dan Xinxin serentak.
"Selamat Yu'er, kami bangga padamu." ucap Chang An mengelus puncak kepala Feng Yu lembut.
"Terimakasih tetua, Yu'er akan berusaha lebih baik lagi."
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Tetua lihat kau tidak tampak seperti seseorang yang baru saja memenangkan sebuah pertandingan." ucap Chang An melihat raut wajah Feng Yu yang sendu, bukankah seharusnya dia berbahagia akan kemenangannya?
Feng Yu tiba-tiba mengangkat kepalanya memandang Chang An, kemudian dia menyapu pandangannya ke seluruh orang yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tetua Chang, Tetua Han Li, Xinxin. Ini tentang Yang Jian. Sebenarnya..."