Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 84: Perbudakan.


__ADS_3

Bunyi gemericik air yang ngelair deras, hawa yang menyejukkan di tambah dengan aroma khas bunga-bunga yang manis dan aroma herbal yang menenangkan menjadi penyambutan Yang Jian.


Yang Jian mengerjap-erjapkan kelopak matanya berusaha untuk menetralkan pandangannya. Yang Jian mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Kamar yang terbuat dari kayu herbal dan perabotan kayu namun elegan dengan ukiran indah.


Ya, kini Yang Jian berada di kediamannya di Dunia Surgawi.


'Erghhh.' Yang Jian mengerang, suara serak khas bangun tidur. Yang Jian berusaha merentangkan tangannya untuk meregangkan ototnya yang agak kaku.


Seiring dengan membaiknya kondisi Yang Jian, dia kembali mengingat kejadian yang terjadi sebelum tertidur. Tampak raut wajah Yang Jian lega memikirkan bagaimana dirinya berhasil menyelamatkan dragon. "Syukurlah" Gumam Yang Jian seraya beranjak dari tempat peristirahatannya dan memutuskan untuk kembali ke penginapan Kota Batu.


Sesampainya Yang Jian di penginapan, dia disambut oleh pemandangan Jiji dan Yiyi yang fokus saling mengobati luka masing-masing. Hal itu membuat Yang Jian mengerutkan kening. Yang Jian berusaha menajamkan penciumannya. Dia bisa merasakan kehadiran beberapa orang di kamarnya dan juga masih terasa sisa racun di udara.


Sepertinya telah terjadi pertarungan beberapa saat yang lalu di tempat ini, pikir Yang Jian memandang kondisi kamar yang berantakan.


"Obati luka kalian!" Perintah Yang Jian seraya melemparkan beberapa pil penyembuhan ciptaannya. Jiji dan Yiyi tersentak kaget melihat kedatangan tiba-tiba Yang Jian. Karena terlalu fokus mengobati, hingga mereka tidak menyadari kehadiran Yang Jian.


"Tidak seharusnya kalian mengendurkan kewaspadaan sedikitpun" Ucap Yang Jian kemudian, dan di angguki oleh Jiji dan Yiyi.


Yang Jian memandang ke luar jendela, hari masih begitu gelap. Tidak ada satupun tampak warga yang masih berada di luar. Lampu-lampu penerang di jalan membuat suasa kota tidak menakutkan sedikitpun. Walaupun beberapa warga sengaja mematikan lampu rumahnya.

__ADS_1


Yang Jian menelurusi kota mencari tahu informasi apapun yang dirinya butuhkan terkait penyerangan Jiji dan Yiyi secara tiba-tiba. Yang Jian tahu, hal ini pasti ada hubungannya dengan Keluarga Mu, yaitu Mu Weng sebagai tokoh utama di balik penyerangan ini.


Yang Jian menghentikan langkah kakinya ketika dirinya tiba di sebuh lorong sempit tanpa ada cahaya lampu sedikitpun. Langkah kaki Yang Jian menuntutnya untuk menyusuri lorong tersebut.


"Bagaimana dengan tangkapan hari ini?"


Yang Jian semakin waspada ketika dia mendengar suara yang familiar di indera pendengarannya, dengan langkah hati-hati, Yang Jian bersembunyi di balik bebantuan dan menajamkan pengelihatannya untuk melihat sesuatu yang mengusiknya.


"Ada sekitar lima belas anak, Tuan Muda. Sebelum matahati terbit, kami akan mengirim anak-anak ini." Sahut seorang lelaki berbadan kekar dengan raut wajah menyeramkan dengan penuh hormat.


'Weng!' Gumam Yang Jian dalam hati. Ada ruangan sempit dengan dua obor di masing-masing tembok lorong yang menjadi penerangannya. Sementara itu, di hadapan Weng tampak sebuah jeruji besi dengan gembok baja dilapisi kawat berduri di sekitar gembok tersebut.


"Kalain harus berhati-hati. Jangan sampai ada yang melihat kalian atau curiga akan pergerakan kalian. Dan ingat! Jangan sampai bayaran yang kuterima berkurang satu koin pun. Paham!" Tampak orang-orang di belakang Weng menunduk kepala menjawab perintah Weng.


Bawahan Weng yang akan menjual para anak itu untuk dijadikan budak, mengatakan jika mereka akan mengirim anak-anak tersebut saat tengah malam. Dimana saat penjagaan sedikit mengendur dan orang-orang sedang pulas tertidur di kediaman masing-masing.


"Besok aku akan menemui Tuan Jiang di kediamannya untuk membicarakan bisnis yang lebih menggiurkan lagi. Kuharap kalian bisa mengabarkan Tuan Jiang perihal pertemuan ini." Ucap Weng disertai senyum iblisnya yang membuat anak-anak di dalam jeruji semakin beringsut ketakutan.


Weng tertawa sambil memutar tubunya dan berbalik meninggalkan lorong diikuti kedua anak buahnya. Kini hanya tersisa lima lelaki yang akan menjual para anak-anak tersebut untuk di jadikan budak. "Segera siapkan kereta kuda! Kita akan berangkat satu jam lagi." Ucap salah satu pria berbadan kekar.

__ADS_1


"Bukankah kalian yang seharusnya menyiapkan pemakaman? Kalian akan berangkat menuju alam baka satu menit lagi!" Yang Jian muncul dari tempat persembunyiannya seraya mengeluarkan aura guanghuannya dan mengintimidasi kelima pria itu. Membuat mereka tidak bisa bergerak, hanya memelototkan mata terkejut melihat kedatangan Yang Jian secara tiba-tiba tanpa bisa mereka prediksi.


Yang Jian melangkahkan kaki yang secara perlahan. Matanya setajam elang seolah akan menguliti kelima pria yang berdiri dengan kaki gemetar dan keringat dingin di dahi mereka.


Saat Yang Jian sampai di depan jeruji besi, dia melihat anak-anak tersebut menatap Yang Jian dengan raut wajah tak terbaca. Seolah Yang Jian menjadi salah satu bagian dari para penjual budak tersebut.


"Semua akan baik-baik saja." Seulas senyum tipis Yang Jian layangkan demi menenangkan kelima belas anak berbeda jenis kelamin tersebut. Seperti terhipnotis, anak-anak itu mengangguk pelan dan kini menatap Yang Jian dengan tatapan penuh harap.


Yang Jian menoleh kebelakang dan memiringkan sedikit kepalanya menatap satu persatu kelima pria itu, pria itu menelan saliva saat menyadari bahwa nyawa mereka kini dipertaruhkan. Namun tatapan mereka seolah sedang menahan amarah karena Yang Jian mengganggu bisnis mereka.


Yang Jian kembali mengalihkan tatapannya, kini mengarah ke arah gembok baja yang disekelilingnya terdapat kawat berduri. Tangan Yang Jian terulur menyentuh gembok tersebut. 'Trakkk.' Dengan satu gerakan, Yang Jian berhasil menghancurkan gembok tersebut tanpa melukai tangannya.


Hal itu sontak membuat kelima pria di belakangnya membulatkan mata dan diikuti dengan punggung gemetar. Bahkan Weng sekalipun tidak mampu menghancurkan gembok itu semudah yang Yang Jian lakukan. Apalagi gembok itu telah dilapisi oleh kekuatan Weng agar tidak mudah untuk di hancurkan.


"Keluarlah terlebih dahulu." Yang Jian membuka pintu jeruji dan mempersilahkan kelima belas anak untuk keluar dari dalam. Tanpa diperintah dua kali, anak-anak tersebut dengan cepat keluar.


Setelah dirasa semua anak sudah keluar dari lorong, Yang Jian menatap kelima pria penjual anak yang membuat kelima pria tersebut ketakutan setengah mati. Seolah Yang Jian adalah malaikat pencabut nyawa.


" Satu, dua, tiga, empat!" Yang Jian menempelkan tangannya ke kepala para pria tersebut dan mengalirkan energi yang cukup besar untuk menghancurkan organ dalam mereka. Darah bercucuran deras sebelum pria-pria itu tumbang dengan kondisi tak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2