Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 89: Kelompok Ilmu Sesat


__ADS_3

'Jleb!' Jantung Weng seolah tertusuk ribuan panah. Semenit sebelumnya dia merasa lega karena masih memiliki tameng dam memiliki kesempatan untuk bertahan hidup, namun semenit setelahnya dia mendapat kenyataan pahit bahwa Yang Jian telah membuat daftar kematian baginya.


"Kau benar-benar sulit di prediksi." Jiang tidak habis pikir atas jawaban Yang Jian, dia bahkan tidak bisa menebak jalan pikiran pemuda misterius di hadapannya itu.


Mengabaikan ucapan Jiang, Yang Jian bergerak cepat seraya mengangkat salah satu pedang di tangan kanan dan sebuah racun ditangan kiri. Jiang yang melihat hal tersebut berusaha mengelak. Namun kecepatan Yang Jian yang bagaikan kilat tidak mampu dihadang oleh Jiang hingga


'Duarrr." Ledakan besar disertai kabut hijau melingkupi tubuh Jiang selama beberapa detik, hingga kabut hijau itu perlahan memudar yang diikuti oleh tubuh Jiang yang terjatuh tak bernyawa di atas lantai.


"Giliranmu!" Seringai kejam terbit dari bibir Yang Jian seraya menatap dingin Weng.


Weng menelan ludah kasar dan menggelengkan kepala cepat, detak jantungnya tak beraturan dengan mata melotot ketakutan. Sedetik kemudian kepala Weng terlepas dari batang lehernya dan menggelinding di atas lantai.


Masih di posisi yang sama Yang Jian membersihkan bercak darah Weng yang mengenai jubahnya. Dengan satu kibasan kecil mampu membuat jubahnya kembali bersih tanpa noda.


"Keluar!" Tanpa mengalihkan pandangan, Yang Jian berseru dingin yang setelahnya diikuti dengan munculnya seorang pria paruh baya dari balik pintu ruangan tersebut. Dengan langkah gemetar, pria itu berjalan pelan mendekati Yang Jian, dirinya tidak menyangka bahwa Yang Jian dapat merasakan kehadirannya walaupun telah berusaha menyembunyikan aura kehadirannya sebaik mungkin agar tidak dapat di deteksi oleh siapapun.


"Tunjukkan jalan!" Pria paruh baya itu tersentak kaget mendengar penuturan Yang Jian, namun dia masih tetap berusaha untuk bersikap tenang. " Aku tidak mengerti tujuan dari perkataanmu." Balas pria paruh baya tersebut.


"Bisakah untuk tidak bersikap bodoh! Atau aku akan membuatmu benar-benar bodoh." Yang Jian berjalan perlahan menuju pria paruh baya itu dengan tatapan mengintimidasi. " Tunjukkan jalannya!" Ulang Yang Jian.

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut menelan ludah kasar dengan kepala semakin menunduk dalam. Dirinya tidak menyangka bahwa Yang Jian telah mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari Jiang, pengguna ilmu sesat tersebut.


~~


Saat ini tampak beberapa rombongan berjubah khusus memasuki gerbang Kota Batu. Mereka adalah utusan dari kelompok sekte besar aliran putih yang sedang menjalani misi dari Kaisar Qin.


"Bagaimana perkembagan kasusnya?" Tanya seorang pria jangkung dengan perawakan besar dan gagah setelah mereka sampai di sebuah penginapan besar di kota tersebut. Pria tersebut adalah Tetua Tang, tetua dari Sekte Naga Awan.


"Saat ini kelompok aliran sesat tersebut semakin meresahkan banyak masyarakat. Ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah angka menghilangnya penduduk desa mulai dari anak-anak hingga orang tua." Salah seorang tetua Sekte Awan Putih, sekte yang bernaung di Kota Batu menjelaskan kondisi terkait aksi kelompok aliran sesat yang semakin menjadi-jadi.


Dijelaskan bahwa, kelompok ini semakin besar dan jumlah pengikutnya juga semakin banyak. Pergerakan mereka juga rapi dan mulus sehingga menyulitkan pihak pemerintahan setempat dan pihak sekte dalam menangani kasus tersebut.


"Bagaimana dengan lokasi persembunyian mereka? Mereka pasti memiliki satu tempat khusus dalam menjalani pemujaannya bukan?" Timpal salah satu tetua lainnya, dia adalah Tetua Fang. Tetua yang mewakili Sekte Harimau Merah.


"Saat ini ada dua tempat yang kami yakini sebagai markas besar mereka." Tetua Sekte Awan Putih tersebut menjelaskan bahwa melalui penyelidikan, ada dua lokasi yang di yakini kuat menjadi tempat pemujaan kelompok aliran sesat tersebut. Satu lokasi berada di hutan dekat perbatasan dengan Hutan Terlarang dan lokasi lainnya berada di tepi hutan bagian selatan Kota Batu yang paling dekat dengan pemukinan warga.


Mendengar penjelasan tetua tersebut, mereka mulai menyusun rencana strategis yang akan dijalankan esok hari. Karena hari sudah malam dan mereka juga baru tiba di Kota Batu membuat mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.


Sementara itu, masih di ruangan yang sama tampak beberapa pemuda-pemudi yang memiliki paras indah mendengarkan para tetua yang sedang membahas menganai rencana penyerangan mereka.

__ADS_1


Seorang wanita muda berusia dua puluh dua tahun yang masih tampak berusia belasan tahun dengan jubah cokelat dengan rambut kuncir kuda, memiliki kulit sawo matang dan wajah bulat, dia adalah Qin Fanfan. Dua pemuda lainnya mengenakan jubah yang sama, memiliki rambut panjang sebahu berwarna hitam legam dan sorot mata tajam, mereka adalah si kembar Liu Changhai dan saudaranya Liu Xingsheng.


Di kursi lainnya ada pemuda botak dengan jubah putih dan kalung batu berwarna serupa dengan jubahnya. Walaupun tidak memiliki surai, tidak mengurangi aura ketampanan yang terpancar dari pemuda yang tampak masih muda. Dia adalah Tao Shilin dari Sekte Gunung Suci.


Yang paling mencolok adalah wanita muda dengan jubah khusus Sekte Naga Awan, rambut yang di kuncir sebagian dan sebagain lainnya diurai, wajah putih bening dan pembawaan yang serius. Dia adalah putri mahkota Kekaisaran Qin, Qin Lienhua.


Diruangan tersebut juga ada beberapa tetua lainnya dan murid-murid dari sekte lain yang turut serta ambil andil dalam mejalankan misi untuk memberantas kelompok aliran sesat di Kota Batu.


~~


"Apa kau yakin ini tempatnya?" Saat ini Yang Jian telah tiba di sebuah hutan yang berada di lokasi dekat dengan Hutan Terlarang, hutan yang menjadi tempat perburuan Yang Jian selama kurang lebih delapan tahun.


"Be benar. Sesuai janjimu, kau akan melepaskanku jika aku membawamu kesini bukan?" Jawab pria paruh baya tersebut terbata. Entah apa yang dilakukan Yang Jian untuk menaklukkan pria tersebut. Yang Jian mengamati bangunan tinggi di hadapannya. Tembok berwarna hitam dan menjulang tinggi menjadi tempat manusia berhati iblis melakukan pemujaannya.


Bangunan tersebut berada di balik gua sempit yang ditutupi rumput, wajar saja jika sulit untuk menemukan tempat tersebut.


"Aku tidak pernah berjanji, kalau kau lupa!" Jelas Yang Jian yang sukses membuat pria di belakangnya menegang. "Aku hanya akan melepaskanmu jika kau memberitahu informasi menganai kelompokmu."


Dengan cepat pria tersebut membeberkan semua informasi mengenai kelompoknya. Tidak banyak yang ia ketahui karena dirinya hanya bagian kecil dari besarnya kelompok tersebut. " Aku sudah menepati janjiku kini giliranmu untuk melepaskanku." Ucap pria paruh baya tersebut bernegosiasi.

__ADS_1


"Baiklah!" Ucap Yang Jian pelan, sedetik kemudian, Yang Jian menancapkan pisau kecil yang telah yang telah dilumuri racun tepat didadanya. "Melepasmu kembali ke tangan pencipta."


__ADS_2