
Kini tersisa satu orang lagi yang diyakini Yang Jian sebagai ketua kelompok tersebut. Dia menatap Yang Jian dengan tatapan takut dan memohon agar Yang Jian mau mengampuni nyawanya. Namun Yang Jian seolah tidak melihat tatapan pria tersebut.
"Dan selesai!" Satu kata terakhir mencabut nyawa pria itu dengan cara yang sama. Mereka meregang nyawa dengan cara organ dalam hancur. Sungguh kejam dan mengenaskan. Bau anyir darah tercium di seisi lorong.
Akhirnya Yang Jian pun keluar untuk melanjutkan tugasnya, menyelamatkan kelima belas anak itu.
"Dimana rumah kalian?" Tanya Yang Jian saat dirinya telah berada di jalanan yang sudah ada penerangannya bersama dengan kelima belas anak itu.
Salah satu anak lelaki yang tampak lebih besar dari mereka dan memberanikan diri menjawab pertanyaan Yang Jian. " Rumah kami berada di ujung jalan sana, Tuan Muda." Ucap anak itu seraya menunjuk jalan di sebelah kiri mereka. " Kami semua berasal dari panti asuhan Ibu Meng."
"Terimakasih atas bantuan Tuan Muda, kami tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai ucapan terima kasih kami." Lanjut anak itu sambil menunduk.
"Aku menolong kalian bukan untuk menerima imbalan. Tunjukkan jalannya maka aku akan mengantar kalian sampai ke tujuan."
Anak-anak itu tampak saling memandang, dan beberapa saat kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan agar mengijinkan Yang Jian untuk mengantarkan mereka pulang. Dengan begitu mereka bisa membalas kebaikan Yang Jian.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, barulah mereka sampai di sebuah pondok tua. Tampaknya mereka kekurangan harta untuk memberikan perawatan yang bagus bagi bangunan tua tersebut. Dinding-dinding yang tampak mulai lapuk dan genteng yang sudah tua dan kotor.
"Disini?" Tanya Yang Jian memastikan, yang dibalas anggukan oleh mereka. "Silahkan masuk Tuan Muda, biarkan kami sedikit untuk menjamu Anda."
__ADS_1
Yang Jian menatap anak-anak tersebut, dari tutur bahasa mereka, sepertinya pemilik panti asuhan ini begitu mengajarkan tata krama dan tutur bahasa yang sopan dan santun kepada mereka.
Yang Jian mengangguk pelan mengiyakan ajakan anak itu, bukan karena dirinya ingin dijamu. Namun karena dia begitu penasaran dengan kondisi tempat berlindung anak-anak itu.
"Ibu Meng!" Anak-anak itu berseru bahagia ketika melihat seorang ibu paruh baya keluar dan berlari ke arah mereka dengan raut wajah bahagia dan penuh syukur. Tampak beberapa anak sampai meneteskan air matanya karena berhasil selamat.
"Syukurlah kalian tidak apa-apa. Maafkan ibu yang tidak menjaga kalian dengan baik. Ibu janji, apapun yang terjadi, ibu akan selalu melindungi kalian walaupun nyawa ibu yang menjadi taruhannya." Ucap wanita paruh baya, yang diyakini Yang Jian adalah pemilik panti asuhan tersebut, Ibu Meng.
"Tidak apa-apa ibu, yang penting sekarang kami sudah berada di sini. Di hadapan ibu, dan kondisi kami baik-baik saja." Balas salah satu bocah wanita. Mereka pun kembali berpelukan seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.
Yang Jian menatap kehangatan itu, melihat bagaimana seorang ibu yang bukan ibu kandungnya begitu menyayangi anak-anak tersebut. Bahkan rasa khawatir dan keinginan kuat melindungi anak-anak itu begitu tulus di mata Ibu Meng.
Jika dewa memberinya kesempatan itu sekali saja untuk merasakan hangatnya pelukan seorang ibu kembali, merasakan bagaimana dikhawatirkan. Yang Jian berjanji, dia tidak akan pernah sekalipun menyia-nyiakannya.
Ibu Meng tersenyum bahagia dan mengucapkan terimakasih berkali-kali. Kemudian dia mengundang Yang Jian masuk ke dalam agar bisa di jamu oleh Ibu Meng.
"Beginilah kondisi rumah kami. Kuharap, Tuan Muda tidak merasa keberatan" Tampak ada rasa bersalah di nada bicara Ibu Meng.
"Ini bukan hal besar bagiku. Silahkan lanjut kegiatan Anda." Balas Yang Jian meyakinkan.
__ADS_1
Ibu Meng yang mendengar itu tersenyum tulus. Tidak menyangka seorang Tuan Muda yang berpakaian layaknya bangsawan kelas atas merasa biasa saja terhadap kondisi tempat mereka. Hal itu semakin menguatkan hati Ibu Meng bahwa Yang Jian bukanlah orang jahat.
Ibu Meng menyuruh Yang Jian agar menunggunya sebentar di salah satu ruangan yang lebih bersih dari ruangan lainnya. Namun karena rasa penasaran, Yang Jian meminta ijin untuk melihat-lihat. Dan diangguki oleh ibu Meng.
Yang Jian berjalan perlahan menyusuri bangunan tua berlantai satu tersebut. Tampak beberapa tembok yang ditambal, ada juga beberapa lubang menghiasi tembok lainnya. Belum lagi genteng yang bocor semakin jelas terlihat. Dan lantai yang hitam, dan tidak terawat.
Yang Jian menghela nafas pelan, melihat bagaimana kondisi kelima belas anak yang dirinya tolong tadi. Tidak mengherankan jika kediaman mereka juga seburuk ini. Namun, yang menjadi beban pikiran Yang Jian adalah, apakah pemerintah setempat tidak menyalurkan bantuan dana bagi panti asuhan ini? Atau mereka memang sengaja mengabaikannya?
"Sungguh keterlaluan." Geram Yang Jain yang merasa tidak terima. Bagaimana bisa kota sebesar dan sekaya Kota Batu bahkan tidak mengulurkan tangan membantu panti asuhan ini?
"Apa itu artinya aku akan merampas jatah maka malam anak-anak itu malam ini?" Gumam Yang Jian tersadar. Dilihat dari kondisinya, itu artinya bahkan untuk makan sekalipun mereka begitu kesusahan. Namun apabila malam ini Ibu Meng menjamu Yang Jian. Itu artinya dirinya akan merampas jatah makan malam mereka bukan.
Tidak bisa, Yang Jian menggelengkan kepalanya pelan. Kedatangan dirinya ke tempat ini adalah untuk memberi bantuan bukan untuk menerima bantuan. Dengan langkah cepat Yang Jian masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya di tempatkan untuknya.
Sesampainya di kamar, Yang Jian memasang pelindung di sekitar kamar kemudian menghilang begitu saja sekejap mata.
Kini Yang Jian telah berada di kediamannya di Dunia Surgawi. " Pertama, aku harus menyediakan sesuatu untuk dimakan."
Tak ingin membuang waktu, Yang Jian mengambil beberapa buah-buahan manis dan segar di taman samping kediamannya. Kemudian Yang Jian membuat manisan yang sering dibuatkan Xiao Ming setelah Yang Jian selesai latihan.
__ADS_1
Manisan tersebut terbuat dari buah apel,pir dan anggur yang diberikan sedikit madu untuk menambah rasa manisnya. Tidak tanggung-tanggung, Yang Jian membuat begitu banyak manisan. Tidak lupa, Yang Jian mengisi kendi-kendi minumannya dari air terjun yang berada di lokasi hancurnya segel Dunia Surgawi.
"Apalagi ya." Gumam Yang Jian tampak berpikir. Seketika mata Yang Jian membulat. Kemudian dia mengambil begitu banyak helai pakaian miliknya ketika kecil dulu untuk dia berikan kepada anak-anak panti tersebut.