
Berulang kali Jiang berusaha memanggil para bawahannya, namun tidak seorangpun yang menyahut. Diam membisu.
"Apa Anda berpikir jika orang mati dapat berbicara?" Tanya Yang Jian tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan mematikannya dari orang-orang di meja itu. Seolah mereka adalah mangsa yang tidak boleh dia lepaskan.
Mendengar itu, ketakutan Jiang mulai tampak. Biasanya dia tidak perlu memanggil dua kali hingga bawahannya menampakkan diri. Ini bahkan dia sudah tidak dapat menghitung sudah berapa kali dia memanggil dan berapa lama dia menunggu. Itu membuktikan bahwa para bawahannya sudah...
Jiang menelan salivanya kasar, selama ini dirinya tidak pernah merasa terintimidasi. Hanya pernah mengintimidasi. Selama ini Jiang selalu merasa di atas dan di puncak, namun kini dia merasakan bagaimana menjadi orang kecil di hadapan Yang Jian.
Tatapan itu, aura itu. Benar-benar membuat Jiang merinding. Bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki aura aneh seperti milik Yang Jian? Aura mematikan yang lebih mematikan dari aura pembunuh. Bahkan Jiang sendiri tidak mampu menatap manik mata biru itu lebih dari tiga detik.
Bunyi derap kaki Yang Jian menjadi melodi di keheningan ruangan itu, setiap kali Yang Jian melangkahkan kakinya satu langkah, itu artinya adalah hitungan mundur akan kematian orang-orang di meja tersebut.
Jantung mereka semakin berdetak tak beraturan seiring dengan Yang Jian memangkas jarak diantara mereka. Bulir-bulir putih membanjiri tubuh mereka, disertai dengan punggung gemetar.
'Perasaan macam apa ini?'Gumam Jiang dalam hati.
Tanpa ada yang menyadari, Yang Jian telah memunculkan Pedang Suci miliknya serta mengalirinya dengan qi yang panas. Pedang Yang Jian tampak seperti bara api yang siap menghanguskan apapun.
__ADS_1
"Anggap saja ini sebagai penghormatan terakhir." Ucap Yang Jian dingin. Pedang Suci sengaja dirinya gunakan untuk membunuh para manusia tak berperasaan itu sebagai bentuk penghormatan, dan sudah seharusnya mereka bersyukur akan hal itu.
'Crashhh.' Tiga kepala sekaligus jatuh menggelinding di atas lantai putih. Tidak ada yang mampu melihat bagaimana Yang Jian melakukannya, yang terpenting kini tiga nyawa telah melayang. Mereka adalah tiga bawahan Jiang. Kini hanya tersisa Jiang, Weng, dan dua anak buah Wenh yang gemetar ketakutan.
Tidak berhenti disitu, Yang Jiang kembali melayangkan pedangnya mengincar dua leher sekaligus. 'Crashhh.' Kedua bawahan Weng menghembuskan nafas terakhir dengan cara yang sama seperti bawahan Jiang. Yang Jian menebas kepala cultivator warior star seperti memotong sebuah tahu. Kini di ruangan tersebut tersisa Weng, Jiang dan Yang Jian.
Yang Jian menghentikan aksinya, dia memandang Weng dan Jiang. Satu-satunya lawan yang harus dia antisipasi adalah Jiang. Ada sesuatu yang membuat Yang Jian berpikir bahwa Jiang bukan orang biasa, dia memiliki sesuatu yang harus Yang Jian waspadai.
"Setelah membunuh bawahan kami, maka kau merasa tinggi hati dan menganggap bisa melakukan hal yang sama dengan kami." Tampak suara Weng sedikit bergetar berusaha melawan rasa takutnya. "Kami tidak perlu maju berdua untuk mengajari bocah ingusan sepertimu." Lanjut Weng seraya menatap Jiang seolah memberi kode bahwa dia dapat menyelesaikan Yang Jian sendiri.
"Majulah bocah ingusan. Kau kuberi kesempatan tiga kali menyerangku. Anggap saja ini anugerah terakhirmu sebelum menemui ajal." Ucap Weng dengan gaya angkuhnya.
"Sombong!" Ketakutan Weng kini berubah menjadi kemarahan karena Yang Jian menghinanya secara terang-terangan. Sedangkan Jiang, dia duduk layaknya seorang wasit sedang menonton sebuah pertandingan.
"Beginikah caramu membalas kebaikan seseorang? Br*ngs*k!" Maki Weng seraya bangkit dari kursinya. "Aku memberimu kesempatan namun kau menyia-nyiakannya? Maka jangan harap aku mengasihanimu lagi."
"Aku tidak menerima kebaikan palsumu. Lagipula, kematian secepat itu tidak sebanding akan perbuatanmu!" Yang Jian masih bersikap tenang. Namun, jauh di lubuk hatinya. Betapa besarnya keinginan untuk mencabik-cabik Weng. Kematian dalam tiga serangan terlalu mudah bagi orang seperti Weng. Yang Jian tidak boleh mengasihani Weng sedikitpun.
__ADS_1
Tak ingin menunggu Weng, Yang Jian melayangkan pukulan yang telah dilapisi qi telak ke arah dada Weng. 'Buakkk.' Kepalan tangan Yang Jian bersarang indah di dada Weng hingga mementalkannya mengenai meja.
Tetapi sebelum tubuh Weng benar-benar mengenai meja, dengan cepat Yang Jian menangkan kerah jubah Weng dan melemparkan tubuhnya ke udara. Saat tubuh Weng berada di udara, tepat di atas Yang Jiang. Kaki kanan Yang Jiang melesat cepat menghantam perut Weng.
'Krakkk. Arghhh' Bunyi tulang putah bersamaan dengan teriakan memekakan dari mulut Weng. Beberapa tulang rusuk Weng patah, tubuh Weng terlempar jauh menghantam atap ruangan tersebut yang tingginya mencapai kurang lebih tujuh meter.
Tubuh Weng yang menghantam atap hingga menimbulkan suara benturan yang lumayan keras, darah segar tersembur dari mulut Weng. Kemudian tubuh Weng yang mulai melemas terjatuh ke bawah menghantam meja dengan keras.
Tatapan Yang Jian masih sama dinginnya seperti sebelumnya, tak ada kehangatan sedikitpun. Sedangkan Jiang, dia sama sekali tak berniat membantu Weng. Tetapi dia juga tidak berusaha untuk melarikan diri. Entah apa yang dia rencanakan sekarang. Namun Yang Jian tidak memperdulikannya, bahkan jika Jiang menyerangnya secara diam-diam, dia tetap akan membunuh Weng dan kemudian menargetkan Jiang setelahnya.
Weng seperti orang linglung, sebelumnya dia masih melihat Yang Jian berdiri tenang di seberang meja. Namun entah apa yang terjadi, tanpa bisa dia prediksi, dalam hitungan detik dirinya merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dan kini dirinya terjatuh keras di atas meja dengan seteguk darah membasahi meja yang telah retak itu.
Tiba-tiba Yang Jian menendang meja hingga terbelah dua, dan Weng yang masih berada di atas meja terjatuh mencium lantai.
Yang Jian mengulurkan tangannya keudara, dengan satu gerakan, meja yang telah terbelah dua melayang dan melesat cepat menghantam tubuh Weng yang masih berusaha berdiri. 'Arghhh.' Weng berteriak kesakitan dengan mata melotot. Bagaimana bisa Yang Jian tidak memberinya waktu barang satu detik saja untuk bernafas.
Nafas Weng mulai tersengal, tubuhnya mulai sulit dia gerakkan dan darah segar semakin banyak membasahi tubuhnya. "Aku tidak pernah menyangka dapat dengan mudah kau kalahkan. Pantas saja, Wang tidak berdaya di hadapanmu." Ucap Weng terbata. Dirinya juga yakin bahwa Yang Jian bahkan belum mengeluarkan sepuluh persen kekuatannya.
__ADS_1
"Aku akan sedikit lega mati di tangan orang kuat sepertimu. Tetapi, aku juga merasa hina jika mati di tangan orang yang telah melukai adikku." Weng berusaha tertawa samar.
Perkataan Weng sama sekali tidak mengusik Yang Jian, namun sebelum Yang Jian mulai bergerak melanjutkan penyiksaannya terhadap Weng. Sesuatu hal terjadi di luar perkiraan Yang Jian.