Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 117: Pertemuan II


__ADS_3

"Bagaimana bisa kau mengatakan hal semudah itu, bocah kecil! Kau sama sekali tidak berniat membantu kami sejak awal bukan? Jika itu benar maka kau tidak akan meminta imbalannya." Tetua sepuh mengeram marah hingga mata melotot tajam. Namun amarahnya hanya ditanggapi kekehan kecil dari Yang Jian. Tanggapan Yang Jian yang tampak seperti cemoohan membuat para tetua melotot marah.


"Apa aku pernah mengatakan jika aku akan membantu kalian?"


"Apa maksudmu? Bukankah tadi kau mengatakan untuk membantu-"


"Aku berkata jika aku bisa menutupi kekurangan dana pemulihan Kota Batu. Lalu dari mana tetua bisa mengambil kesimpulan seperti itu?"


Hening!


Ruangan pertemuan yang semula tegang berubah hening, tak ada satupun dari tetua menunjukkan keberatan secara terus terang, namun aura ketiaksukaan terhadap Yang Jian tampaknya masih kental.


"Sistem tarik ulur yang memuakkan." Desis Yang Jian pelan. Bagaimana tidak, para tetua sebelumnya bersikap remeh dan menganggap jika Yang Jian hanya membual, namun kini mereka bersikap sombong memaksa Yang Jian untuk serius akan bantuan yang ditawarkan. Sungguh naif!


"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya salah satu tetua berusaha tenang.


"Apa yang kau tawarkan?"


"Kami akan memberi kompensasi yang pantas, Tuan Muda. Kau tidak perlu khawatir. Namun kami juga perlu memastikan segala sesuatunya untuk mempertimbangkan imbalan yang dapat memuaskanmu." Kali ini dijawab oleh Bangsawan Jingmi.

__ADS_1


Yang Jian diam dan hanya mengangguk pelan untuk menanggapi. Kemudian Yang Jian mengangkat jari kirinya kedepan wajah, tampak dua cincin elegan melingkar indah, satu di jari telunjuknya dan satu lagi di jari jempolnya.


Bangsawan Jingmi dan para tetua mulai menahan napas mereka menunggu Yang Jian membuktikan ucapannya. Rasa penasaran yang tinggi membuat suasana sedikit menegang.


Yang Jian mengusap pelan cincin dengan ukiran phoenix berwarna perak di jari telunjukkannya, sedetik kemudian cincin tersebut mengeluarkan cahaya keemasan yang mengendar di sekeliling cincin. Bersamaan dengan menghilangnya cahaya, saat itu juga barang-barang yang berada dalam cincin itu keluar dan memenuhi meja bundar.


Koin-koin emas yang menggunung, koin perak serta koin perunggu yang tak kalah jumlah dengan koin emas. bahkan beberapa perhiasan mahal dan juga sumber daya tingkat rendah muncul satu persatu dari ruang hampa dan mengisi meja bundar tersebut hingga membentuk bukit harta. Ruangan tersebut kini tampak berkilau indah akibat pantulan koin dan perhiasan dari atas meja.


Melihat itu semua, sontak saja para tetua dan Bangsawan Jingmi melompat dari kursi diikuti dengan tubuh bergetar. Mata mereka melotot melihat begitu banyaknya harta yang terpampang di atas meja. Bahkan tinggi bukit harta tersebut mampu menghalangi pandangan para tetua tersebut walaupun sudah dalam posisi berdiri.


"Ehmm!" Yang Jian berdehem pelan, menyadarkan para tetua dan Bangsawan Jingmi dari rasa terkejut mereka yang masih mengangumi harta di hadapan mereka. Mendengar deheman Yang Jian membuat mereka mulai menetralkan ekpresi.


Walaupun orang-orang yang hadir di pertemuan tersebut adalah orang-orang yang termasuk jajaran orang kaya yang memiliki harta melimpah, itu tidak sebanding dengan kekayaan kecil yang dimiliki Yang Jian di dalam kedua cincin dimensinya. Wajar saja jika para tetua dan Bangsawan Jingmi terkejut melihat harta yang menggunung tersebut.


Di kursi sebelah kanan Yang Jian, tampak seorang tetua pria paruh baya bersikap gelisah bahkan gerak-gerik kecilnya tampak mencurigakan. Yang Jian yang memiliki pengelihatan dan insting yang kuat mampu menangkap pergerakan kecil tersebut. Tanpa diduga, tetua tersebut mulai mengangkat tangannya berniat menyentuh koin emas di hadapannya.


Seringai kejam terbit di sudut bibir Yang Jian saat melihat pemandangan itu, mengambil salah satu koin emas di hapannya dan mengarahkan kepada tetua tersebut. Sebuah koin emas melesat cepat bagai kilat dan menghantam keras dada sang tetua kota hingga menembus jantungnya.


"Arghhh!" Darah segar mengucur deras dari dadanya dan diikuti dengan mata melotot sempurna. Bersamaan dengan itu, gunungan harta yang berada di atas meja seketika menghilang dalam sekejap mata karena ditarik kembali oleh Yang Jian.

__ADS_1


Kini atensi semua orang beralih kepada seorang pria paruh baya yang tengah menahan kesakitan, darah yang mengucur derah dan nafas yang tersendat-sendat membuat sensasi mengeriakan.


"Brakkk!"


Sedetik kemudian tubuh pria paruh baya tersebut roboh ketanah.


Ruangan pertemuan berubah mencekam, tak ada satupun yang mengeluarkan suara bahkan untuk bernapas sekalipun mereka tampak berhati-hati. Hanya satu orang diruangan ini yang mereka yakini pelaku dari pembunuhan itu, yaitu Yang Jian.


"Dia berniat mencuri koinku. Jadi aku mencuri nyawanya." Ucap Yang Jian polos. Raut wajahnya yang tenang sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia baru saja mencabut nyawa seseorang.


Ucapan Yang Jian membuat orang-orang diruangan tersebut menelan salivanya dengan kasar, tubuh mereka tampak membeku dengan keringat dingin yang mulai membasahi punggung mereka. Bahkan beberapa tetua yang memiliki pandangan serakah terhadap koin emas Yang Jian mulai melemas. Sekilas tampak rasa kelegaan di mata mereka karena tidak bertindak gegabah.


Kini tak ada satupun di ruangan tersebut yang memiliki pandangan meremehkan terhadap Yang Jian, hanya ada tatapan horor yang jelas menunjukkan ketakutan yang mendominasi.


Walaupun Bangsawan Jingmi dan para tetua kota termasuk cultivator namun praktik mereka berhenti setelah menjabat di pemerintahan Kota Batu, mereka jelas tahu bagaimana cara main seorang cultivator. Membunuh seorang cultivator hanya dengan melemparkan sebuah koin jelas menunjukkan jika cultivator tersebut memiliki praktik dan qi yang tinggi. Bahkan Bangsawan Jingmi yang memiliki praktik paling tinggi di ruangan tersebut tidak mampu melakukan itu.


Pemuda ini jelas bukan orang sembarangan. Memiliki harta yang melimpah saja sudah menunjukkan jika Yang Jian memiliki identitas yang tidak tidak mudah, kini mereka dikejutkan kembali oleh tindakan Yang Jian yang dapat dengan mudahnya membunuh hanya dengan sebiji koin.


"Uh, aku sungguh tidak menyukai seorang pencuri." Gumam Yang Jian seraya menundukkan bokongnya ke atas kursi dengan tenang tanpa terusik sedikitpun akan perubahan sikap orang-orang disekitarnya.

__ADS_1


"Kuharap kalian tidak mengecewakanku. Atau aku tidak akan berbaik hati." Ancam Yang Jian menatap tajam para tetua kota itu. Tatapan Yang Jian yang berubah serius membuat para tetua membeku. Hawa mencekam yang menguar dari tubuh Yang Jian membuat mereka kesulitan bernapas dan hanya mampu mengangguk pelan untuk menanggapi.


"Baiklah mari kita bicarakan masalah ini lebih lanjut." Setelah itu Yang Jian menarik kembali auranya dan mulai berdiskusi lebih lanjut mengenai perencanaan pemulihan Kota Batu.


__ADS_2