
"Ada... Ada, silahkan tuan muda. Saya akan menyediakan makanan terbaik kedai saya khusus untuk tuan muda. Silahkan ikuti saya!"
Yang Jian menganggukkan kepala pelan kemudian berjalan mengikuti wanita paruh baya tersebut memasuki penginapan lantai satu yang cukap rapi dan bersih.
"Aku memiliki tamu penting. Kuharap kalian menjaga sikap dan jangan membuatnya merasa tidak nyaman!" wanita itu melotot tajam kepada warga desa yang masih setia mengikuti Yang Jian.
Warga desa yang melihat itu merasa kecewa tidak sedikit juga terlihat raut marah di wajah mereka. Tetapi mereka malah berbalik dan kembali ke kegiatan masing-masing setelah menoleh Yang Jian dan tersenyum hangat kepadanya.
Sepertinya wanita tersebut memiliki pengaruh yang cukup kuat di desa tersebut, sehingga warga desa mau mengalah dan mendengarkan ucapannya.
"Maaf atas sikap mereka tuan muda, silahkan!" Ucap wanita tersebut sambil tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya kedepan untuk menyuruh Yang Jian berjalan di depannya.
Wanita paruh baya tersebut merasa bahwa dia terlalu lancang kalau berjalan mendahulu Yang Jian. Sungguh, kekuasaan berada di atas segalanya, pikir Yang Jian.
Dari arah belakang, wanita paruh baya tersebut mengamati Yang Jian. Kilat mata nya berubah melihat jubah yang dikenakan Yang Jian. Tampak mahal dan mewah. Sudah jelas, dia harus memperlakukan Yang Jian sebaik mungkin dan tidak boleh menyinggungnya walau sedikitpun.
Kedai tersebut memiliki pagar yang terbuat dari kayu jati yang cukup kuat. Sepertinya dia membeli kayu tersebut dari penebang kayu dari hutan yang Yang Jian lewati sebelumnya. Rumah yang tidak tarlalu luas namun cukup ideal berdiri tegak di hadapan Yang Jian.
Saat wanita paruh baya tersebut membuka pintu masuk kedainya, aroma makanan menguar mengisi seluruh ruangan. Terdapat tujuh buah meja dengan empat buah kursi di masing-masing meja, sama-sama tebuat dari kayu jati.
Di dalam kedai tersebut tampak dua buah meja yang terisi dan dua pelayan wanita yang sepertinya anak buah wanita pemilik kedai tersebut.
Saat suara pintu berderik dan memunculkan wajah Yang Jian, serentak mereka menghentikan aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Tatapan yang sama Yang Jian dapatkan kembali seperti saat dia memasuki desa sebelumnya. Sepertinya tadi mereka tidak mengetahui kedatang Yang Jian di gerbang desa karena pintu kedai yang ditutup rapat.
"Ehmm, silahkan tuan muda!" Wanita paruh baya tersebut menunjuk sebuah meja yang paling besar untuk Yang Jian tempati. Yang Jian mengangguk pelan, kemudian Yang Jian berjalan menuju meja tersebut dan memilih duduk di kursi paling pinggir dekat dengan jendela yang mengarah ke arah jalanan.
"Siapa bocah itu? Dia cukup tampan, tetapi sangat sombong dan arogan, bahkan Nyonya Meng memperlakukannya seperti tamu kehormatan dari kekaisaran."
Seorang gadis kecil yang tampak baru berusia sebelas dua belas tahunan tersebut melirik ke arah Yang Jian. Wajahnya dan matanya bulat serta rambut hitam yang hanya sebatas puncak bahu tersebut dilengkapi gaun merah jambu setinggi lutut.
Diantara warga desa yang Yang Jian temui, selain wanita pemilik kedai, gadis yang baru saja membicarakannya dan dua orang lainnya yang berada satu meja dengannya mengenakan pakaian yang tergolong mahal bagi masyarakat kelas bawah.
"Sudahlah Jing'er, jaga bicaramu! Ibu tidak ingin kau mendapatkan masalah di hari bahagiamu." Wanita yang mengaku ibu Jingjing juga telah mengamati Yang Jian sejak dia menginjakkan kaki kedalam kedai tersebut. Melihat rupa dan pakaian Yang Jian jelas menunjukkan bahwa dia bukan anak sembarangan.
"Apa yang kau takutkan ibu. Apa hanya karena pakaian mewahnya? Ayah juga bisa membelikanku sepuluh pakaian mewah melebihi milik bocah itu. Siapa yang tau dia mengambil barang milik orang lain."
"Jing'er benar bu, siapa yang tau dia mengambil milik siapa. Hanya pakaian mewah saja, tidak terlalu sulit bagiku."
Jingjing yang mendapat dukungan dari sang ayah semakin merasa bangga dan angkuh. Dia tahu bahwa ayahnya pasti akan selalu membela nya saat kapan dan dimana pun itu.
"Bisakah kalian diam! Jangan membuat selera makanku hilang." Nada suara ibu Jinjing berubah ketus, dia memelototi sepasang ayah dan anak dihadapannya.
"Mengapa ibu yang marah, ini kan hari ulang tahunku jadi sudah sewajarnya ayah dan ibu menuruti semua keinginanku." Gerutu Jinjing sambil mengerucutkan kedua bibirnya.
"Tetapi bukan berarti kau dapat bertindak sesuka hatimu Jing'er. Makan sambil berbicara bukanlah tindakan yang beradab. Cepat selesaikan makanmu, kau belum membuka hadiah-hadiah pemberian pemuda desa."
__ADS_1
"Huh, mereka lagi mereka lagi. Ibu, aku sungguh tidak menyukai para pemuda miskin itu. Aku ingin pergi ke kota dan mencari pemuda tampan dan kaya raya yang akan menjadi suami masa depanku kelak. Lagipula masih terlalu muda bagiku untuk memikirkan pendamping hidup."
"Itu sudah menjadi tradisi Jing'er, dimana kau harus menjadi seorang istri dan menjadi tanggungjawabnya."
"Itulah yang selalu menjadi jawaban ibu."
Jingjing mengalah, dia tidak ingin berdebat dengan sang ibu dimana akan berakhir kekalahannya hanya dengan jawaban 'sudah menjadi tradisi'.
Di desa itu memang memiliki tradisi dimana setiap gadis desa akan di pinang untuk diperistri dan tanggungjawab gadis tersebut akan beralih kepada suaminya.
Pria-pria yang akan bekerja keras mencari koin atau makanan untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mereka. Begitulah kehidupan di desa tersebut, bahkan mereka tidak ada yang menjadi cultivator atau menjadi seorang sarjana yang bekerja di pemerintahan atau kekaisaran.
Hanya bergantung pada alam. Namun jika beruntung akan memiliki kesempatan untuk pergi ke kota terdekat desa tersebut, yaitu Kota Batu.
"Silahkan tuan muda, ini adalah hidangan terbaik kami. Semoga tuan muda menyukainya." Lamunan Yang Jian akibat perdebatan keluarga di meja sebelahnya segera terhenti. Dia menoleh kearah sebuah nampan penuh makan. Cukup sederhana namun tidak kalah dengan makan yang dia temui sebelumnya.
"Nyonya Meng bahkan secara khusus mengantarkan makanan ke mejanya dengan hidangan terbaik yang dia miliki. Apa bocah itu memang orang penting?"
Ayah Jinjing tidak bisa dibuat tidak penasaran akan identitas Yang Jian. Pasalnya Nyonya Meng tidak pernah sekalipun menghidangkan makanan kepada pelanggannya sebelumnya seperti yang dia lakukan kepada Yang Jian.
"Seperti dia sudah mempengaruhi Nyonya Meng agar menuruti semua keinginannya." Sahut Jingjing.
Saat semua makanan sudah tertata rapi, Nyonya Meng mendekat kearah Yang Jian dan membisikkan sesuatu kepada Yang Jian agar tidak berurusan dengan orang-orang yang membicarakan tentangnya barusan.
__ADS_1
"Sebaiknya tuan muda berhati-hati, sebisa mungkin jangan terlibat masalah dengan keluarga itu. Karena mereka adalah..."