
Tak terhitung berapa kali dirinya menghela nafas. Hanya berdiri dan bernafas tanpa melakukan apapun. Orang tersebut adalah Yang Jian. Berdiri di sebuah ruangan kosong tanpa penghuni, hanya di sinari oleh sang rembulan. Benar-benar hampa.
Jubah yang masih bersimbah darah yang mulai mengering dibiarkan begitu saja. Tatapannya masih saja lurus kedepan. 'Hufttt!' Yang Jian kembali menghela nafas panjang. Tatapannya kosong, namun pikirannya jauh berkelana.
Membayangkan memori indah saat masih berada di istana bersama sang ibunda. Berulang kali Yang Jian mencoba memikirkan dan mencari jawabannya, namun tidak ada yang terpikir di kepalanya sedikitpun.
"Apa ini ulah ibunda?" Tanya Yang Jian pada dirinya sendiri seraya menatap surai perak panjang miliknya yang melambai indah diterpa angin. Surai peraknya tampak bersinar di bawah sinar renbulan. "Tetapi untuk apa?" Tanyanya kembali. Yang Jian ingat betul, dirinya dahulu tidak seperti saat ini. Surai perak dan manik mata biru, benar-benar bukan seorang Yang Jian.
Dirinya masih ingat betul, surai hitam legamnya yang segelap malam. Ditambah dengan manik matanya yang semerah darah bagai bara api di tengah kegelapan. Manik mata yang membuat dirinya di cap sebagai iblis, makhluk buangan, dan manusia terkutuk.
Manik mata yang membuatnya di kucilkan, di tatap remeh dan di caci maki. Tentunya penghinaan tersebut dia peroleh di saat sang ibunda tidak berada di sisinya. Walaupun Ratu Yang Shui membuat kesalahan fatal, namun tidak menutup kemungkinan jika dirinya adalah pemimpin tertinggi Klan Yang.
Menghina Yang Jian sama dengan menghina Yang Mulia Ratu Yang Shui, yang artinya menghina Klan Yang. Bagi seseorang yang melakukan kesalahan tersebut akan dihukum mati tanpa ampun.
Sementara itu, di sebuah ruangan mewah nan megah tampak suasana keruh. Orang-orang diruangan tersebut sesekali menghela nafas kasar dan berperang dengan pikiran masing-masing.
"Apa tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai ini?" Setelah sekian lama akhirnya salah seorang akhirnya buka suara. "Sebelas cultivator legenda? Apa itu masuk akal?" Lanjutnya.
Hening!
__ADS_1
Tidak ada yang menyahut seorangpun, bukan tidak menghargai namun tidak ada seorangpun yang mengerti situasinya. Bahkan Tetua Fang dan Tetua Tang yang terkenal dengan kecerdasannya menutup mulut.
"Mereka hanya mengatakan jika sedang mencari seseorang." Kali ini bangsawan Jingmi yang berbicara. "Tuan muda mereka." Perkataan bangsawan Jingmi disambut raut wajah kebingungan. Tidak sedikit juga yang berbisik mempertanyakan kejelasan informasi tersebut.
"Aku mengerti ini sulit diterima, bahkan aku sendiri merasa bodoh saat mendengarnya. Konspirasi yang mereka lakukan jelas memiliki motif yang tidak sederhana."
Mengingat dua kelompok sekte besar aliran hitam dan cultivator legenda sendiri yang datang sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa mereka memiliki tujuan besar di Kota Batu.
"Tapi apa? Apa kalian menyembunyikan salah satu penerus sekte mereka?" Sahut Tetua Tang memperjelas.
"Kami sudah menyelidiki kasus ini. Sejauh yang kami ketahui, tidak ada bagian dari kelompok Sekte Ular Sembilan ataupun Sekte Cakar Iblis di tempat ini."
Merasa di perhatikan, salah seorang dari mereka angkat bicara,"Kami di panggil secara mendadak." Jawab salah satu pria bertato kelopak mawar berwarna cokelat. Satu tingkat di bawah kelopak hitam. Pernyataan pria tersebut menjelaskan bahwa mereka juga tidak memiliki informasi berarti untuk dibagikan.
Perkumpulan orang-orang yang berada di ruangan tersebut adalah gabungan dari kelompok Tetua Tang dan Tetua Fang, Organisasi Bunga Mawar dan dari pihak Kota Batu sendiri. Mereka memutuskan untuk beristirahat sementara di kediaman Bangsawan Jingmi. Kediamannya cukup luas hingga mampu menampung semua orang.
~~
Matahari mulai menampilkan wujudnya. Setelah terbang jauh dengan kecepatan tinggi, akhirnya Yang Jian tiba di sebuah desa. Desa yang tentram dan damai, dikelilingi pepohonan rimbun. Yang Jian akhirnya tiba di desa dimana tempat Yang Jian bertemu Jiji dan Yiyi untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Kedatangan Yang Jian disambut hangat oleh penduduk desa, begitu juga dengan Nenek Po sebagai ketua desa. "Sudah lama Tuan Muda Yang." Ucap Nenek Po sambil tersenyum. Tampak kerutan mulai menghiasi wajahnya. Yang Jian hanya berdehem seraya mengangguk kecil menanggapi sapaan Nenek Po.
"Silahkan duduk Tuan Muda, biar yang tua ini mengambilkan beberapa kudapan teman bersantai." Saat Nenek Po meninggalkan ruangan, Yang Jian mengaktifkan segel Dunia Surgawi. Kemudian, ruangan yang hanya dihuni dirinya sendiri telah ditambah oleh beberapa orang.
Jiji dan Yiyi, beserta sepasang ibu dan anak muncul di hadapan Yang Jian. Kedua orang baru tersebut tampak lebih sehat dan bugar dari sebelumnya. "Sepertinya kalian merawatnya dengan baik." Ucap Yang Jian memulai pembicaraan.
Sepasang ibu dan anak tersebut menunduk hormat, banyak hal baru yang mereka temui selama di Dunia Surgawi. Tentu hal tersebut menambah rasa kagum dan hormat yang tinggi bagi sosok Yang Jian. Tampak dari cara mereka berdiri dan menatap Yang Jian, penuh dengan kehati-hatian. Takut jika salah sedikit saja akan menyinggung Yang Jian.
"Tidak perlu kaku." Ucap Yang Jian tenang seraya menyilangkan kedua kakinya. Sorot mata yang tenang mampu menghipnotis ibu dan anak tersebut. "Mohon maaf jika kami membuat Tuan Muda merasa tidak nyaman."Ucap wanita itu seraya menunduk dalam.
Yang Jian tidak menjawab. Perhatiannya kini beralih kepada Jiji dan Yiyi. "Aku tidak memiliki cukup banyak waktu yang terisa. Tugas kalian adalah melindungi desa ini." Ucap Yang Jian tegas. Sontak Jiji dan Yiyi mengangguk cepat. "Tentu Kakak Yang, kami tidak akan mengecewakanmu."
Tidak menunggu lebih lama, Yang Jian segera beranjak dari kediaman Nenek Po tanpa berpamitan. Setelah keluar dari desa, Yang Jian segera melayang di udara dan dalam hitungan detik melesat cepat meninggalkan desa.
Butuh berjam-jam lamanya bagi Yang Jian menempuh jarak hingga mendekati Kota Batu, bunyi pertarungan menyapa indera pendengaran Yang Jian. Bahkan lokasi yang menjadi pertarungan kedua kubu besar tersebut semakin melebar.
Yang Jian turun menghampiri pohon rindang, mengeluarkan sebotol madu. Aroma madu berkhasiat tinggi menghampiri indera penciuman Yang Jian. Tidak menunggu waktu lebih, Yang Jian segera mengkonsumsi sebotol madu tersebut.
Kini qi dan energi Yang Jian kembali terisi penuh setelah menguras qi yang cukup banyak. Setelah itu, Yang Jian beranjak menghampiri lokasi pertarungan. Namun belum sampai beberapa langkah, Yang Jian tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
"A-apa itu?" Gumam Yang Jian dengan tubuh menegang.