Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 110: Bertemu Yang Shui


__ADS_3

Insting Yang Jian yang begitu kuat memudahkannya dalam mendeteksi sesuatu, bahkan dalam jarak jauh sekalipun. Pelatihan demi pelatihan yang dirinya jalankan membuat instingnya kian menajam. Seperti saat ini, ada perasaan aneh dalam diri Yang Jian. Perasaan yang bahkan Yang Jian sendiri begitu sulit untuk menebaknya.


Mungkin ini tidak pantas disebut insting, melainkan batin. Batin Yang Jian yang begitu aneh memaksa Yang Jian terus berjalan ke sebuah rumah kosong yang sempat ia datangi sebelumnya. Seolah ada suara yang memanggilnya dari rumah tersebut. Meminta Yang Jian untuk segera mendatanginya.


Berjalan perlahan, Yang Jian terus melangkah. Membuka gagang pintu yang telah tua. Suasana rumah kosong dan bau rayap menyambut Yang Jian. Yang Jian terus menyusuri ruangan tersebut hingga tanpa sadar dirinya menemukan sebuah portal tak kasat mata di dinding salah satu ruangan.


Portal yang bahkan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan tidak dapat dengan mudah untuk dideteksi oleh sembarangan orang. Namun berbeda dengan Yang Jian, dirinya dapat menemukan portal tersebut menggunakan mata dewanya.


Mengalirkan qi yang cukup besar akhirnya Yang Jian berhasil memasuki portal tersebut. Keluar dari portal, Yang Jian menemukan tangga menuju ke bawah dengan lebar kurang lebih satu meter. Dinding bebatuan dan beberapa obor menjadi penerang.


Semakin turun kebawah maka semakin luas juga tangga yang Yang Jian tapaki. Hingga tanpa sengaja Yang Jian menginjak sesuatu di tanah,


"Sringgg sringgg!"


Bersamaan dengan Yang Jian mengangkat kakinya, saat itu juga jeruji-jeruji besi dengan ujung runcing dan tajam keluar dari tembok batu. Reflek Yang Jian menghindari jeruji tersebut satu persatu, sambil berputar dan berguling, Yang Jian dengan gesit menghindari jeruji tersebut.


Ada sekitar sepuluh jeruji tajam yang keluar, setelah Yang Jian berhasil mengamankan diri, dia kembali berjalan perlahan namun kali ini lebih waspada dan berhati-hati.

__ADS_1


Di sisi lain, Yang Shui yang sedang bermeditasi untuk memulihkan energi seketika memasang sikap waspada dan siaga. Yang Shui bisa merasakan sebuah aura yang bukan miliki Hongli dan Zhisu mendekati kediaman mereka.


Yang Shui, sebagai pewaris Klan Yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi aura seseorang. Kemampuan tersebut adalah kemampuan turun temurun dari Kaisar Klan Yang terdahulu. Namun, karena kondisi dan energi Yang Shui melemah, dirinya menjadi sulit untuk mendeteksi dengan akurat.


Aura tersebut semakin mendekat, namun Yang Shui merasakan jika aura yang dirinya rasakan begitu familiar dan entah kenapa Yang Shui tidak merasakan bahaya dari aura tersebut sedikitpun. Hingga tanpa sadar Yang Shui menangkap siluet pemuda yang berada di ujung tangga.


Tatapan mata Yang Shui beradu dengan manik biru pemuda di ujung tangga tersebut. Spontan Yang Shui berdiri, tubuhnya menegang dan matanya bergetar kuat. Sementara pemuda itu, pemuda bermanik biru itu menatap Yang Shui dengan tatapan tak terbaca.


Pemuda itu adalah Yang Jian. Setelah berhasil melewati tangga demi tangga akhirnya Yang Jian tiba di sebuah ruangan. Rungan yang jauh lebih terang, ruangan yang dihuni oleh seorang wanita. Wanita dengan gaun biru muda, surai hitam sepunggung dan manik biru terang yang cerah.


Jantung Yang Jian tiba-tiba berdetak dua kali lebih kencang. Tubuhnya bergetar hebat kala mata mereka beradu pandang. Wanita itu menatap dalam mata Yang Jian. tatapan itu, tatapan khas yang dirindukan Yang Jian selama bertahun-tahun lamanya.


Waktu kini seolah berhenti berjalan. Membiarkan kedua insan hanyut dalam tatapan dan perasaan masing-masing. Yang Shui terpaku, seolah tidak memiliki energi untuk bergerak, seolah ada energi kuat yang mengikat kuat kakinya ketanah.


Sedangkan Yang Jian, dia melangkah perlahan, begitu lambat. Rasanya energi dalam tubuh Yang Jian terkuras habis hanya dengan menatap manik biru itu. Berapa lama? Setahun, sepuluh tahun? Yang Jian tidak tahu, berapa lama dirinya tidak menatap mata itu.


Kaki Yang Jian terus melangkah, namun tatapan matanya terus mengarah kepada wanita itu, Yang Shui. Bahkan untuk berkedip sekalipun tidak Yang Jian lakukan, khawatir jika Yang Jian menutup mata sedetik maka wanita itu akan menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Tak terasa kini Yang Jian telah berdiri di hadapan Yang Shui. Tak ada satupun diantara mereka yang memulai untuk berbicara. Baik Yang Shui maupun Yang Jian sama-sama terdiam. Hingga tiba-tiba tubuh Yang Jian roboh kebawah, Yang Shui tersentak melihat Yang Jian berlutut diatas lantai batu dengan bahu bergetar hebat.


Sekuat tenaga Yang Jian menahan gejolak di dalam dadanya, Masih dengan posisi menunduk, Yang Jian mengulurkan kedua tangannya kemudian menggenggam pergelang kaki Yang Shui dan tanpa aba-aba mencium punggung kakinya sembari berucap lirih,


"Ibu- aku pulang." Ucap Yang Jian dengan suara tercekat.


Ucapan Yang Jian diikuti dengan setetes kristal bening yang lolos dari kelopak matanya. Sementara Yang Shui, pertahanannya pun runtuh dan akhirnya menangis, isakan tangis yang begitu lirih dan menyakitkan keluar dari mulutnya. Isakan tangis penuh kerinduan kepada Yang Jian, isakan tangis yang menyanyat hati Yang Jian.


"Aku merindukanmu Bu." Lanjut Yang Jian pelan masih dengan posisi berlutut. Suaranya bahkan terdengar seperti bisikan. Bisikan lirih yang membuat tubuh Yang Shui merosot kebawah sejajar dengan Yang Jian. Sekuat tenaga Yang Shui mengangkat kedua tangangan kemudian merengkuh tubuh putra semata wayangnya tersebut kedalam dekapannya. Yang Jian membalas pelukan Yang Shui, menenggelamkan kepalanya dan mencari kehangatan dalam pelukan Yang Shui.


Yang Shui memeluk erat tubuh kokoh Yang Jian. Melihat perawakan dewasa putranya, tangis Yang Shui semakin kencang.


Sesakit apapun perasaan seorang wanita yang tidak memiliki kesempatan untuk memiliki anak dan menjadi seorang ibu. Bagi Yang Shui, jauh lebih menyakitkan di saat wanita memiliki kesempatan menjadi seorang ibu namun tidak memiliki kesempatan untuk menjadi ibu yang sesungguhnya untuk menemani tumbuh kembang sang anak.


Yang Shui tidak memiliki kesempatan itu. Dia hanya berkesempatan ntuk mengandung dan melahirkan serta melihat pertumbuhan Yang Jian hingga berumur tujuh tahun. Setelahnya Yang Jian berusaha sendiri untuk bertahan hidup tanpa campur tangannya. Yang Shui merasa gagal, gagal menjadi ibu sesungguhnya bagi Yang Jian.


Yang Shui mengelus lembut punggung Yang Jian, berusaha untuk menenangkannya. Banyak hal yang ingin Yang Shui katakan. Ingin rasanya Yang Shui berteriak kencang dan mengatakan bahwa dirinya juga merindukan putranya. Namun kini apa? Yang Shui bahkan tidak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Yang Shui berusaha melepaskan kedua tangannya untuk menatap wajah Yang Jian. Namun tangan Yang Shui berhenti di udara saat mendengar ucapan Yang Jian kembali.


"Sebentar saja, sebentar saja ibu. Biarkan aku dalam dekapanmu dan mengobati rasa rinduku."


__ADS_2