Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 101


__ADS_3

Kembali dari liburan di Bali, mereka semua disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Jessie lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama Ardi. Kebetulan sekali Ardi memindah bisnisnya yang di Australia menjadi di Solo. Untung saja beberapa klien dari Australia, yang sudah kontrak kerjasama dengannya tidak mempermasalahkan hal itu.


Pagi itu Ardi sengaja ingin mengantarkan Jessie ke kampusnya. Selain untuk menghabiskan waktu dengannya, dia juga ingin memberitahukan kepada dunia, bahwa Jessie adalah miliknya. Begitu Jessie masuk ke dalam gedung kampus, Ardi bermaksud segera ke kantornya. Namun belum juga mobil dijalankan, sebuah mobil menabraknya dari belakang. Ardi segera turun dan melihat siapa yang menabraknya.


" Kenapa? Merasa tidak terima aku menabrak mobilmu," seru Adam dengan kesal.


"Apa maksud Kak Adam?" tanya Ardi masih dalam hati yang tenang.


Adam tersenyum sinis menatap Ardi dengan tajam. "Kamu masih mau bertanya? Setelah kamu merebut kasih sayang Mama, kamu juga merebut Jessie dariku," jawab Adam sedikit emosi.


Ardi sedikit terkejut dengan pernyataan Adam. Dia baru menyadari kalau mereka mencintai perempuan yang sama. " Dari awal Jessie adalah milikku. Bahkan sejak SMA, Jessie adalah kekasihku. Apakah Kak Adam tak tahu hal itu?" ledek Ardi.


Adam semakin merasa kesal yang mendalam. "Sial! Ternyata mereka pernah menjadi pasangan kekasih," gerutunya dalam hati.


"Aku mendengar Jessie tak memiliki kekasih, ketika kalian akan bertunangan," ucap Adam.


"Sudahlah Kak! Aku tak mau ribut denganmu." Ardi masuk ke mobilnya dan meninggalkan Adam yang masih berdiri di tempat yang sama.


Pertengkaran Adam menjadi gosip hangat bagi para mahasiswa. Mereka semua berspekulasi, kalau kekasih Adam baru saja direbut oleh seorang lelaki yang lebih muda. Tak ketinggalan juga di group para penggemar Adam. Mereka semua pada heboh sendiri.


Jessie yang duduk di depan kelasnya juga mendengar gossip itu.


"Jess! Kamu tahu gossip paling baru tentang Adam?" tanya Lusia yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


Jessie tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Aku sedikit penasaran, siapa yang diajaknya ribut?" tanya Jessie penasaran.


"Sayangnya video yang beredar tidak terlalu jelas. Lelaki itu pun juga tak kelihatan wajahnya," jawab Lusia.


Jessie dan Lusia kemudian masuk ke kelas, setelah melihat Dosen pengajar berjalan ke arahnya. Saat sedang membawakan materi kuliah, Dosen itu berdiri di samping Jessie dan memberikan secarik kertas untuknya. Jessie membuka kertas, yang diberikan oleh Dosen itu. Isinya adalah Jessie diminta menemui Adam begitu kelasnya selesai. Dia pun sedikit bingung, ada urusan apa Adam dengannya. Bukankah semua sudah selesai.


Kelas pun selesai, Jessie dengan perasaan sedikit resah berjalan menuju ruangan Adam.

__ADS_1


"Permisi Pak Adam," sapanya dibalik pintu.


Adam pun membuka pintu dan mempersiapkan Jessie masuk dan duduk.


"Mungkin kamu sedikit bingung, kenapa aku memanggilmu," ucapnya dengan bahasa tidak formal.


Jessie hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Dia memandang Dosennya itu dengan banyak pertanyaan.


"Apa sebelum pertunanganmu dengan Ardi, kalian berdua adalah pasangan kekasih?" tanyanya sambil memandang lekat ke wajah Jessie.


"Kami memang pasangan kekasih. Bahkan itu sudah sangat lama. Jauh sebelum Kak Ardi mengalami kecelakaan," jelas Jessie.


Adam benar-benar tak menyangka, telah jatuh cinta pada kekasih adiknya sendiri. Meskipun begitu, Adam tak akan menyerah begitu saja. Dalam hatinya, dia tak akan menyerah pada cintanya untuk Jessie. Ardi telah membuat kedua orangtuanya harus bercerai. Karena kecelakaan yang menimpa Ardi, membuat Diana hanya fokus pemulihan anak bungsunya. Sehingga Diana mengabaikan Adam dan Papanya, Agung. Agung menjadi kehilangan perhatian dan kasih sayang dari Diana. Sebagai seorang istri, Diana tak pernah menghubungi Agung. Hingga akhirnya, Agung menceraikan istrinya, ketika dia masih di Australia.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin Pak Adam tanyakan, saya permisi." Jessie langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Adam rasanya ingin menahan Jessie tetap disisinya. Namun mulutnya tak mampu mengatakannya. Dia hanya bisa melihat kepergian Jessie dari hadapannya. "Ternyata begini rasanya mencintai tanpa dicintai," gumamnya.


"Maaf! Aku datang sedikit terlambat," ucap Ardi sambil mengemudikan mobilnya.


"Aku juga baru keluar. Tadi Pak Adam memintaku datang ke ruangannya," jawab gadis itu.


Ardi langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Untuk apa Kak Adam menemui kamu?" tanyanya.


"Dia bertanya apakah aku benar-benar kekasihmu, sebelum kita bertunangan," jawab Jessie.


"Lalu apa jawabanmu, Sayang?" tanyanya lagi.


"Tentu saja aku menjawab kita memang sepasang kekasih sejak SMA," jelas Jessie.


Ardi pun mengecup sekilas keningnya, lalu melanjutkan perjalanan ke kantor Jessie. Setelah mengantarkan tunangannya, Ardi pun menuju kantor Papanya, Agung. Sampai di kantor Agung, dia langsung masuk ke ruangan Direktur.

__ADS_1


"Pa! Ardi ingin bertanya tentang Kak Adam," sapa Ardi tiba-tiba.


Agung yang mendengar suara anak bungsunya, langsung menghentikan pekerjaannya. Lalu berjalan menghampiri Ardi yang duduk di kursi tamu. "Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Agung penasaran.


"Ardi merasa Kak Adam ingin selalu mengusik hubungan Ardi dan Jessie. Dan itu sangat menggangguku," ujar Ardi sedikit kesal.


Kekhawatiran Agung selama ini akhirnya terjadi. Adam secara terang-terangan ingin mengusik hubungan Ardi dan tunangannya.


"Maafkan Papa Ardi. Sebelumnya Papa juga tidak tahu, kalau Adam jatuh cinta pada Jessie. Dia berkata itu sudah lama, sejak dia melihat Jessie di kampusnya untuk pertama kali," jelas Agung.


Ardi lalu terdiam, ada ketakutan yang menyusup di hatinya yang terdalam. Dia takut, Adam akan merusak hubungan dengan Jessie. Tiba-tiba Ardi merasa sesak di dadanya, dia tak mampu membayangkan jika harus kehilangan Jessie.


Agung melihat dengan jelas kegundahan hati Ardi. Tetapi Agung juga sedikit tenang, karena cinta Ardi dan Jessie sangatlah besar. Bahkan mereka berdua telah melalui ujian cintanya selama bertahun-tahun. Mereka berdua telah berhasil menjaga cinta diantara keduanya. Takdir pun seakan berpihak pada Ardi.


Ardi pun berdiri dari tempat duduknya, "Kalau begitu Ardi pamit ke kantor dulu."


Lelaki itu akhirnya pergi meninggalkan kantor Papanya. Baru sampai di lobby depan, Ardi berpapasan dengan Adam. 2 lelaki yang menjadi saudara kandung itu saling menatap sinis, seolah kobaran api amarah semakin membakar hati mereka. Tanpa ada sapaan keduanya berlalu, dan saling menjauh.


Baru tiba di ruangan Papanya, Adam sudah menggerutu tidak jelas. "Untuk apa bocah ingusan itu menemui Papa?" tanyanya kesal.


"Tentu saja Ardi sangat merindukan Papanya, karena sudah lama kami tidak bertemu," jawab Agung berbohong.


Agung sengaja menutupinya, agar kakak beradik itu tidak saling membenci.


"Papa tidak berusaha membohongi Adam kan?" tanya Adam penuh kecurigaan.


"Sepertinya kamu mulai tidak mempercayai Papamu," protes Agung.


Agung kembali berkutat dengan berkas-berkas di mejanya, tanpa menghiraukan Adam.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2