
Malam ini sengaja aku dan seluruh keluarga besar berkumpul di rumahku. Sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Adikku Davina juga datang bersama suami dan anaknya. Padahal sebagai pemilik salah satu Rumah Sakit terbesar di Jogja, mereka berdua sangat sibuk. Namun kemarin aku berhasil memaksanya datang.
Kehadiran Kakek dan Neneknya membuat Jason maupun Jessie sangat senang. Mereka berdua selalu menempel pada kakek neneknya, membuat Alex anak semata wayang Davina sedikit cemburu. Alex pun mendekati kakek neneknya yang sedang memeluk anak kembar itu.
"Kakek dan nenek terlalu pilih kasih, hanya mereka yang kalian peluk. Alex juga ingin dipeluk," gerutu Alex sangat lucu.
"Kemarilah cucu nenek, kami akan memeluk kalian bertiga," jawab Nenek Melly dengan lembut.
Aku terus memandangi kedekatan cucu dari keluarga besar Gunawan dengan orangtuaku. Hingga tanpa aku sadari Davina adikku, sudah duduk di sampingku.
"Kak David malah bengong tidak jelas begitu," cetus Davina dengan menepuk pundakku.
"Aku tak menyangka, anak-anak kita begitu menyayangi kakek neneknya. Berapa usia Alex sekarang?" tanyaku.
"Selisih 5 tahun dari Jessie dan Jason. Kak David, coba kamu perhatikan! Bukankah Jessie terlalu cantik untuk gadis seusianya," ucap Davina sambil terus melihat Jessie.
"Aku juga tahu itu. Bahkan saat aku mengajaknya makan malam bersama kolegaku, dia menjadi pusat perhatian. Seolah semua pria ingin menerkamnya. Sejak saat itu aku tak pernah membawanya dalam keramaian," jelasku dengan sedikit kekhawatiran.
Jessie memang gadis cantik yang sangat menawan, tak heran jika Jason juga sangat protektif terhadapnya. Aku sebagai seorang ayah juga sedikit resah jika memikirkannya.
"Davina, dimana suamimu? " tanyaku sambil melihat sekeliling.
"Mas Fredy sedang mengobrol dengan Kak Melissa di teras samping. Sepertinya salah satu anakmu tertarik untuk menjadi dokter," jawab Davina.
"Sepertinya Jason yang ingin menjadi dokter, sedangkan Jessie lebih tertarik menjadi seorang pengusaha," jelasku panjang lebar.
"Baguslah, paling tidak ada seorang keturunan dari Gunawan yang mau meneruskan bisnis Gunawan Corp," ucapnya sedikit lega.
Davina mengajakku menyusul pasangan kami yang sedang mengobrol di teras. Mereka berdua terlihat asyik dengan pembicaraannya.
"Sayang, bawa tamu kita masuk. Jangan biarkan adik iparku kedinginan disini," ledekku sambil duduk di samping Melissa.
"Kakak ipar bisa," jawab Fredy.
"Kak David terlalu meremehkan Mas Fredy. Bahkan di ruangan operasi bisa lebih dingin dari ini," balas Davina.
__ADS_1
"Iya Bu dokter." Jawabanku justru membuat kami semua tertawa.
Kami semua masuk ke ruang tengah dan mengobrolkan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, urusan rumah tangga, sampai tentang anak-anak kami. Walaupun sebagai keluarga kita semua jarang bertemu, namun hubungan kami cukup dekat.
"Malam ini menginap saja di rumahku, tak perlu tidur di hotel. Rumah ini masih banyak kamar kosong," ujarku dengan serius.
"Baiklah Bos David, rumah ini sudah seperti hotel bagi kami," balas Davina dengan senyuman.
Karena malam semakin larut, aku meminta Melissa mengantarkan Davina dan suaminya ke kamar yang sudah disiapkan. Kemudian aku menuju tempat anak-anak berada. Dari yang aku lihat, mereka bertiga masih sangat asyik bercanda dengan kakek neneknya.
"Anak-anak! Bercandanya dilanjutkan besok, kakek dan nenek harus istirahat. Jason! Ajak Alex tidur di kamarmu," ucapku padanya.
"Ayah... Ibu... Mari aku antar ke kamar," ajakku dengan sopan.
"Nenek tidur dulu cantik, besok kita bertemu lagi," pamit Nenek Melly pada Jessie.
Akhirnya semua orang telah berada dikamar masing-masing. Setelah itu aku menyusul Melissa yang sudah dikamar. Melissa terlihat sudah berganti pakaiannya dengan gaun tidur yang sedikit sexy. Hanya dengan memandangnya saja, hatiku sudah berdebar tak karuan.
"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?" tanyaku sambil memeluknya.
"Istrimu ini mau tidur, bukan mau menggoda suaminya," balas Melissa.
Melissa terlihat sedang berpikir. "Tapi Mas, banyak orang di rumah kita," ucapnya.
Aku mencium lehernya dan berbisik di telinganya. "Tapi kita melakukannya di kamar Sayang," godaku dengan suara mendesah.
Ucapanku seperti mantra bagi Melissa. Seolah dirinya terhipnotis, mendengar rayuan yang keluar dari mulut manis ku. Tanpa adanya sedikit pun paksaan, Melissa berhasil membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Percintaan panjang yang sangat menggairahkan, berhasil membuatku berada di puncak kenikmatan. Entah berapa kali tubuh kami bergetar, dalam gelora percintaan yang memabukkan. Hingga saat subuh, kami berdua baru bisa tertidur saling memeluk.
Keesokan paginya semua orang berkumpul di meja makan. Namun 1 pasangan belum juga muncul, setelah beberapa saat mereka menunggu.
"Sepertinya sang tuan rumah kelelahan, karena percintaan mereka semalaman," ujar Davina sambil senyum-senyum.
"Davina, jaga ucapanmu ada anak-anak disini," seru Ayah Rudy.
"Maaf keceplosan Yah," seru Davina.
__ADS_1
Jessie dan Jason saling memandang penuh arti. Mereka berdua pun pamit berangkat ke sekolah.
"Kakek, Nenek, Tante,Om dan si ganteng Alex kita berangkat dulu ya," pamit Jessie dan Jason.
" Kalian tidak menunggu Papa juga Mamamu?" tanya Kakek Rudy.
"Nanti kami bisa terlambat berangkat," jawab Jason dengan senyuman ramah.
"Berhati-hatilah," seru Kakek Rudy.
Jason dan Jessie kemudian berangkat ke sekolahnya bersama. Di dalam perjalanan Jessie terlihat begitu kesal. Wajahnya cemberut, walaupun tetap cantik.
"Semalam Papa pasti merayu Mama lagi, dan membuat Mama kelelahan akibat perbuatannya," gerutu Jessie.
"Itu bukan salah Papa, Mama saja yang terlalu cantik dan sexy," balas Jason.
"Dasar Papa itu terlalu mesum," runtuk Jessie.
"Kamu pikir kekasihmu tidak mesum. Saat di RS menunggumu tidur, ekspresi wajah Ardi seolah ingin menerkam mu. Mungkin dia silau dengan kecantikan mu. Papa juga sama, sama-sama lelaki," tutur Jason.
"Kok jadi bawa-bawa Kak Ardi?" Jessie semakin kesal dengan ucapan Jason.
Setelah pembicaraan itu, mereka berdua tak saling bicara. Hingga sampai di sekolah, mereka berdua menuju ke kelasnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Diruang kelasnya Jessie masih kesal dengan ucapan Jason. Suasana kelas terasa tidak menyenangkan baginya. Karena bosan, Jessie keluar dari kelas dan duduk di bawah pohon.
"Hai Jessie, kok sendirian saja. Mau aku temani?" cetus salah satu murid yang melewatinya.
"Tidak terimakasih," jawabnya ramah.
Beberapa murid yang lewat pun mulai membicarakan tentang Jessie di belakangnya.
"Gila! Ternyata selain cantik Jessie sangat ramah. Tidak heran ketua OSIS kita tergila-gila padanya. Kalau ada kesempatan aku juga mau berjuang mendapatkan gadis cantik itu," kata salah satu orang murid tadi.
"Aku juga tak mampu menolaknya. Pesona Jessie sungguh mematikan. Bagaimana kalau kita bertaruh, untuk merebut Jessie dari ketua OSIS itu," ujar salah satu orang diantara 5 murid tadi.
__ADS_1
"Aku setuju," jawab mereka hampir bersamaan.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰