Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Ancaman Rudy


__ADS_3

Tiba saatnya hari dimana Jason dan Kanaya akan bertunangan. Seluruh keluarga sudah berkunjung ke rumah Kanaya. Ada keluarga Kanaya yang memakai pakaian warna putih, sedangkan keluarga besar Jason memakai pakaian warna blue sapphire.


Berbagai sudut ruangan telah didesain dengan sangat cantik. Ribuan kuntum mawar putih, terangkai dengan sangat indah. Seluruh keluarga sudah berkumpul di ruangan yang cukup besar, yang sudah di desain untuk acara itu.


Tidak ada acara formal yang diselenggarakan, hanya acara mempererat tali silaturahmi antar calon besan. Setelah acara pemakaian cincin selesai, seluruh keluarga menikmati hidangan yang sudah tertata rapi di halaman samping rumah itu. Jessie terlihat sedang mengobrol dengan keluarga besar Kanaya bersama kedua orangtuanya. Sedangkan Jason, sedangkan menikmati kebersamaannya dengan perempuan yang menjadi tunangannya.


Saat sedang menikmati hidangan yang disajikan, seorang pengawal mendekati Rudy dan membisikkan sesuatu. Rudy langsung pergi mengikuti pengawal pribadinya. Sampai di depan gerbang, Rudy menghampiri seorang lelaki muda yang memaksa ingin masuk.


"Kakek tolong ijinkan aku masuk untuk melihat Jessie," ucap lelaki itu.


Rudy terlihat kesal dengan kedatangan lelaki itu. "Ardi! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak datang ke acara ini. Sepertinya kamu tidak memperhatikan peringatan dariku," ujarnya.


"Tapi Kakek..."


Belum sempat Ardi menyelesaikan perkataannya, pengawal sudah datang untuk mengusirnya. "Kamu tahu acara pertunangan Jessie tinggal seminggu lagi. Aku tak ingin kedatanganmu mengacaukan perasaan Jessie, sebelum acara pertunangan itu. Jadi sekarang pergilah!" bentak Rudy.


Ardi yang merasakan kekecewaan karena tak bisa melihat Jessie, mau tak mau harus meninggalkan tempat itu. Dia tak akan mampu melawan pria tua seperti Rudy Gunawan. Kakek Jessie itu terkenal dingin dan sangat kejam. Namun seorang Rudy Gunawan akan berubah hangat dan lembut ketika berhadapan dengan keluarganya.


***


Aku sedang berdiri diantara seluruh keluarga besar. Namun tak kulihat Ayah Rudy dimana pun juga. Akhirnya setelah bertanya pada pelayan yang kebetulan berjaga di depan, pelayan itu mengatakan kalau Ayah berjalan ke arah gerbang. Aku pun menyusulnya dengan panik.


"Apa yang Ayah lakukan disana?" tanyaku saat melihat Ayah Rudy di depan gerbang.


Ayah Rudy langsung menghampiriku. "Ada seseorang pengganggu yang datang. Ayahmu ini harus membereskannya sendiri," jawabnya.


"Ayo segera masuk, semua orang sudah menunggu Ayah," ajakku padanya.


Kami berdua kembali masuk dan berkumpul dengan tamu yang lainnya. Jessie terlihat bingung mencari Kakeknya juga. "Kakek kemana? Jessie sudah berkeliling rumah untuk mencari Kakek," tanyanya.

__ADS_1


"Kakek sedang menemui kenalan lama di depan," jawab Ayah Rudy.


Melissa terlihat duduk sendiri di pojok ruangan, aku pun menghampirinya. "Sayang, kenapa sendirian di sini?" tanyanya.


"Aku sedang memikirkan konsep acara pertunangan Jessie," jawab Melissa.


"Bukankah semua diserahkan ke EO?" tanyaku


"Aku ingin mengurus semua sendiri Mas," jawab Melissa.


"Baiklah terserah kamu Sayang, yang penting kamu senang," jawabku sembari mengecup keningnya.


Akhirnya seluruh rangkaian acara telah selesai. Kami semua telah kembali ke rumah masing-masing. Jason pun terlihat sangat berat, ketika akan meninggalkan Kanaya. Dengan sedikit paksaan, kami semua membawa Jason pulang ke rumah.


"Mulai hari ini kalian berdua harus tinggal dengan Papa dan Mama," ujarku pada Jessie juga Jason.


"Tapi Pa..." balas Jessie.


"Papa sudah memberikan kebebasanmu selama 3 tahun lebih. Ini saatnya kamu kembali ke rumah kita," ucapku di tengah jawaban Jessie.


Dengan sangat terpaksa Jessie menuruti keinginanku dan Melissa. Semua harus berjalan seperti semula. Seperti sebelum Jessie kehilangan lelaki yang dicintainya.


***


Pagi-pagi sekali mobil Ardi sudah parkir di depan rumah Jessie. Setelah kemarin malam usaha untuk bertemu Jessie gagal, diam-diam Ardi akan mengikuti gadis itu ke kampusnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil keluar dari gerbang rumah itu. Ardi sangat yakin itu adalah mobil Jason, dan Jessie juga ada di dalam mobil itu. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Ardi berada di belakang mobil Jason.


Sampailah di Fakultas Ekonomi tempat Jessie kuliah. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Ardi bisa melihat Jessie keluar dari mobil Jason. Hatinya bahagia tak terkira bisa memandang kekasihnya walaupun dari jauh. Seperti mendapatkan guyuran air di tengah kekeringan. Jiwa dan raga Ardi mendadak bergejolak, ingin rasanya dia berlari dan memeluk Jessie. Namun ancaman dari Kakek Rudy berhasil menciutkan nyali dalam dirinya. Ardi hanya bisa menahan kerinduan yang terlalu besar di lubuk hatinya. "Jessie... tidakkah kamu merindukanku," gumamnya sambil terus memandangi gadis itu.


Jessie yang masih berdiri di sebelah mobil Jason, merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Jessie pun memandang mobil yang terparkir sedikit jauh darinya.

__ADS_1


Ada kegundahan begitu memandang mobil itu. "Jason! Bukankah mobil disana itu sedikit aneh?" seru Jessie sambil melihat ke arah mobil itu.


Jason pun ikut memandang mobil yang sedang parkir itu. "Itu hanya perasaanmu saja. Mungkin kamu menjadi gelisah, menjelang hari pertunanganmu," jelas Jason.


"Aku sangat serius kali ini," balas Jessie.


"Cepatlah masuk! Aku juga akan pergi menjemput Kanaya." Jason mendorong adiknya untuk segera masuk ke gedung kampusnya.


Jessie mendengus kesal. "Dasar tidak pengertian," gerutunya sambil berlalu meninggalkan Jason.


Jason yang sedikit penasaran, segera melajukan mobilnya dan berhenti di mobil Ardi. "Keluarlah!" teriak Jason dari balik kaca mobil Ardi.


Ardi keluar dengan sedikit takut, untuk menghadapi lelaki berteriak di hadapannya.


"Sudah kuduga itu adalah kamu. Kanaya sudah memberitahu tentang kedatanganmu. Mulai sekarang jangan pernah lagi dekati Jessie. Seminggu lagi dia akan bertunangan. Selama bertahun-tahun kamu sudah membuat Jessie menunggu dan sangat menderita. Dan ini balasan untukmu," ucap Jason sambil memukul wajah Ardi.


Ardi hanya diam tak membalasnya. "Aku memang pantas mendapatkan ini," ucapnya lirih.


"Kemana saja kamu selama ini? Apa kamu tahu betapa hancurnya Jessie begitu kamu menghilang begitu saja?" tanya Jason dengan mata berkaca-kaca.


Ardi tak mampu menjawab pertanyaan itu. Hatinya menjadi terluka mendengar keadaan Jessie saat dirinya tak memberikan kabar. Ardi sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Namun semua sudah berlalu, Ardi juga menginginkan yang terbaik untuk Jessie.


"Kalau kamu bukan sepupu Kanaya, ingin rasanya aku membunuhmu sekarang juga," seru Jason dengan geram.


Ardi menarik Jason dan memeluknya. "Maafkan aku, aku akan berusaha memperbaikinya mulai sekarang," jawab Ardi.


"Apa yang akan kamu perbaiki? Seminggu lagi kamu akan kehilangan Jessie. Biarkan Jessie berbahagia dengan tunangannya," balas Jason.


"Aku sendiri yang akan memastikan kebahagiaannya," gumamnya lirih.

__ADS_1


Ardi sangat mengerti kekecewaan Jason terhadap dirinya. Selama ini Ardi telah menghilang tanpa kabar. Dia telah membuat Jessie sangat menderita dengan kepergiannya. Rasanya Ardi ingin menangisi kebodohannya di masa lalu.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2