
Ardi masih memandangi bus yang membawa Jessie ke Semarang untuk studi banding. Selama 3 hari, tunangannya itu akan berada di kota yang jauh dengannya. Ada rasa tidak rela sekaligus cemburu yang menyerang sudut hatinya. Sesungguhnya lelaki itu sangat tak ikhlas, ketika Jessie akan melakukan studi banding bersama kakaknya, Adam. Saudara sekaligus saingan Ardi, dalam mendapatkan cinta Jessie. Andai tak ada pekerjaan yang memaksanya untuk tinggal, tentu saja Ardi lebih memilih mengikuti kekasihnya itu. Setelah bus yang membawa Jessie benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Ardi baru pergi meninggalkan tempat parkir kampus.
Bus berlogo Universitas Negeri Solo melaju dengan kecepatan sedang. Setelah keluar dari jalanan kota Solo, bus melewati jalan tol Semarang-Solo. Sepanjang perjalanan, seluruh penumpang dimanjakan dengan pemandangan gunung yang sangat indah. Dengan pemandangan deretan persawahan yang membentang luas, ditambah dengan pemandangan Gunung Merbabu sebagai latar belakangnya. Bahkan tol ini sering dibandingkan dengan jalan tol yang berada di Negara Swiss yang juga berlatar pegunungan.
Jessie pun juga sangat mengagumi pemandangan yang luar biasa itu. Padahal gadis itu beberapa kali melewati jalanan itu. Saking senangnya, Jessie sampai tersenyum menatap alam semesta yang terpampang di depannya. "Lusia. Apa kamu tak mengagumi keindahan alam ini?" tanya Jessie pada sahabatnya yang duduk tepat di sampingnya.
"Ini sangat keren, aku tak menyangka bisa melihat pemandangan menakjubkan ini. Kamu juga tahu sendiri, aku tak pernah kemana-mana," jawab Lusia sambil terus memandang kagum alam sekitarnya.
Lusia kemudian menatap Dosen yang sedang memperhatikan mereka berdua. Diam-diam Adam mencuri pandang pada Jessie dari kursi penumpang paling belakang. "Lihatlah calon kakak ipar mu! Sejak tadi tak berkedip memandang dirimu," ucap Lusia sambil melirik arah belakang.
"Biarkan saja. Yang penting dia tak mengganggu kita," balas Jessie dengan santai.
Setelah 1,5 jam perjalanan, seluruh rombongan tiba di tempat tujuan. Jessie segera keluar dari bus, disusul yang lainnya. Mahasiswa yang ikut akan dibagi menjadi 4 kelompok, dengan 1 Dosen dan seorang staf pendamping per kelompok. Entah itu takdir atau sebuah kebetulan, kelompok Jessie dan Lusia akan didampingi oleh Adam. Bukankah itu kebetulan yang mencengangkan? Sekeras apapun Jessie menghindari lelaki itu, takdir seolah memiliki rencana lain. Sedangkan Lusia terus saja tersenyum meledek Jessie.
"Jessie! Ajak teman-temanmu untuk mengikuti saya, ke perpustakaan universitas," seru Adam dengan wajah dinginnya.
"Baik, Pak! jawab Jessie.
__ADS_1
Jessie mengajak teman satu kelompoknya untuk mengikuti Adam. Setelah berjalan 5 menit dari auditorium, sampailah mereka semua di Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Semarang. Sebuah bangunan yang cukup besar dan luas. Mereka semua disambut dengan sangat baik oleh para petugas perpustakaan. Setelah formalitas acara selesai, para mahasiswa diberikan waktu untuk membaca buku yang tertata rapi di perpustakaan. Setelah Jessie menemukan sebuah buku yang menarik untuk dirinya, dia pun duduk di meja dekat jendela. Sedangkan Lusia masih sibuk mencari-cari apa yang akan dibacanya.
Dengan sedikit berjinjit Lusia berusaha meraih sebuah buku yang letaknya lumayan tinggi. Saat sedang menarik buku itu, tiba-tiba saja beberapa buku jatuh hampir mengenai kepalanya. Untung saja Adam datang dan melindungi Lusia dari buku-buku itu. Sejenak pandangan mata mereka bertemu, tak ada gerakan yang berarti. Adam masih berdiri setengah memeluk gadis itu. Debaran jantung Lusia berasa lebih cepat, aroma tubuh Adam seolah membiusnya. Lusia terlalu larut dalam kedekatan mereka.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati," ujar Adam begitu dekat dengan telinganya.
Lusia langsung tersadar dan menjauhkan dirinya dari Adam. "Terimakasih. Pak Adam," ucapnya dengan malu-malu.
Adam menatap Lusia dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Lelaki itu merasakan perasaan aneh ketika dirinya sangat berdekatan dengan Lusia. "Perasaan apa ini?" tanyanya dalam hati. Adam pun tak ingin menyalahartikan perasaannya. Kemudian dia menyusul staf universitas yang tadi ikut kelompok mereka.
Lusia terduduk di samping Jessie sambil larut dalam lamunannya. Dia memikirkan, bagaimana jantungnya bisa berdetak lebih cepat saat berdekatan dengan Adam? Ada perasaan ragu dan takut yang melebur menjadi satu. "Mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Pak Adam?" tanya Lusia pada dirinya sendiri. Wanita itu menjadi gelisah setiap kali teringat akan kejadian itu. Yang membuatnya lebih gila lagi adalah aroma tubuh Adam yang terus membayanginya. Seolah Adam selalu berdekatan dengannya.
Lusia begitu terkejut mendapatkan tepukan lembut di pundaknya. Suara Jessie menghancurkan bayangan Adam yang menari-nari di pelupuk matanya. "Ada yang salah dengan otakku," jawab Lusia sedih.
"Hai! Ayolah! Aku ini sahabatmu, kamu bisa menceritakan apapun denganku," ucap Jessie.
Lusia terlihat ragu-ragu dan malu. Dia tak tahu harus berkata apa pada Jessie. Namun selama ini, Jessie lah yang selalu dekat dengannya. Sedikit memaksakan diri untuk bersikap tenang, Lusia akhirnya bercerita. "Aku merasakan perasaan aneh saat berdekatan dengan Pak Adam, tetapi aku tak yakin tentang perasaan itu," jelasnya.
__ADS_1
Jessie tersenyum lembut menatap sahabatnya itu. Lalu dia meraih tangan Lusia dan menggenggamnya erat. "Apakah jantungmu berdetak lebih cepat ketika berdekatan dengannya? Apakah kamu hatimu berdebar ketika melihatnya? Atau apakah bayangan Adam selalu terlihat di dalam matamu?" tanyanya. Jessie memberikan beberapa pertanyaan yang semua jawabannya pastilah akan sama.
Lusia memikirkan pertanyaan Jessie dengan sangat serius. Dia tak mau menjawab semua pertanyaan itu. Dia pun terdiam tanpa bersuara. Tanpa disadarinya air mata Lusia sudah mengalir di kedua pipinya. Dada Lusia mendadak sesak memikirkan perasaannya sendiri.
Tanpa Lusia menjawab Jessie sudah tahu jawaban atas semua pertanyaannya. Dia tak tega melihat Lusia menangis tanpa suara. Jessie langsung memeluk Lusia dengan lembut. "Tak perlu kamu menjawabnya, air matamu sudah menjawab semua pertanyaan ku," hibur Jessie sambil membelai rambut sahabatnya.
Bukannya berhenti menangis, Lusia malah semakin tenggelam dalam air matanya. Jessie merasa tak tega melihat sahabatnya itu. "Tenanglah! Aku akan membantumu mendekati Adam," kata Jessie.
"Semoga saja Adam juga memiliki perasaan yang sama denganmu," ucap Jessi dalam hati.
Lusia menyeka air matanya, sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya. "Pak Adam tak mungkin membalas perasaanku," ucapnya sangat sedih.
Jessie sangat mengerti perasaan sahabatnya. Selama ini Adam adalah Dosen yang cukup populer. Beberapa mahasiswi terang-terangan mendekatinya, namun Adam selalu menolaknya tanpa rasa bersalah. Banyak wanita yang sudah dibuat patah hati olehnya. Jessie harus berusaha keras untuk mendekatkan mereka berdua.
"Apa kamu tak mempercayai sahabatmu ini?" tanya Jessie dengan senyuman lembut.
Lusia akhirnya bisa sedikit tersenyum mendengar perkataan Jessie. Kemudian gadis itu mengantarkan Lusia ke toilet, untuk mencuci wajahnya agar terlihat lebih fresh.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰