Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 104


__ADS_3

Ardi sedang menjelaskan kepada Jessie tentang perusahaan barunya. Lelaki muda itu sangat sabar sekaligus telaten menghadapi Jessie yang belum memiliki pengalaman. Ternyata Rudy memberikan Jessie perusahaan real estate dan properti. Perusahaan itu akan mengelola pembangunan Gunawan Corp Paradise Property. Sebuah kompleks hunian mewah yang berada di selatan kota Solo. Dengan 2 tower apartemen, dan sebuah mall. Perusahaan induk Gunawan Corp, sudah menyiapkan ratusan hektar tanah untuk lahan pembangunan Gunawan Corp Paradise Property.


"Bagaimana apa sudah paham semua? Kakek Rudy sudah menyiapkan karyawan yang kompeten di bidangnya. Tinggal dikoordinasikan dengan sebaik mungkin," tutur Ardi.


"Berjanjilah! Kak Ardi akan terus membantuku hingga aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri," pinta Jessie.


Lelaki itu mengecup keningnya, lalu memeluknya erat. Ada perasaan damai yang dirasakan Ardi, ketika memeluk gadis itu. "Aku berjanji untuk mendampingimu seumur hidupku," ucap Ardi dengan yakin.


Jessie melepaskan pelukannya, lalu memandang tunangannya dengan senyuman penuh arti. "Ucapan Kak Ardi terdengar seperti janji pernikahan," ledeknya.


Ardi malah terkekeh mendengar Jessie meledek dirinya. "Andai aku boleh menikahi kamu sekarang, akan aku lakukan saat ini juga," balas Ardi.


Sebelum pertunangan mereka, Rudy sudah memberikan ultimatum pada Ardi. Rudy membiarkan mereka berdua bertunangan, asalkan Ardi tidak mendesak Jessie untuk segera menikah. Sebelum Jessie berhasil meraih impiannya menjadi pengusaha sukses, Rudy tak mengijinkan siapa pun menikahi cucu kesayangannya itu. Termasuk Ardi, lelaki yang sangat dicintai oleh Jessie. Mau tak mau, Ardi harus menghormati keputusan Rudy. Ardi harus berjuang bersama Jessie, untuk membangun Gunawan Corp Paradise Property.


Sepulang mengajar, Adam kembali mengunjungi Papanya di kantor. Begitu memarkirkan mobilnya, dia langsung naik lift menuju ruangan Agung. Tok tok tok. Suara ketukan pintu memaksa Agung menghentikan aktivitasnya.


"Masuklah!" seru Agung dari dalam ruangannya.


Adam masuk dan langsung duduk di hadapan Agung. Lelaki itu sangat penasaran, apa yang membawa anak sulungnya kembali mendatangi kantornya.


"Apa ada yang bisa Papa lakukan untukmu?" tanya Agung dengan penasaran.


Adam tak langsung menjawab, malah membaca berkas-berkas di atas meja. "Adam ingin bergabung dengan perusahaan Papa?" katanya.


Agung cukup terkejut mendengar jawaban anak sulungnya. Sejak masih duduk di bangku kuliah, Adam sama sekali tak pernah tertarik dengan dunia bisnis. Dia lebih memilih menjadi dosen, seperti mimpinya sejak remaja. Sekarang ketika Adam ingin bergabung dengan perusahaannya, lelaki itu pun terlalu penasaran dengan motifnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pekerjaanmu yang sekarang? Bukankah menjadi Dosen adalah impianmu sejak dulu?" tanyanya.


"Adam tetap akan menjadi seorang Dosen. Tapi aku juga menginginkan posisi di perusahaan ini," jawabnya dengan senyuman sinis.


"Jika alasannya karena Jessie, Papa tidak akan pernah mengijinkanmu. Jangan pernah merusak hubungan Ardi dengan tunangannya," ancam Agung.


Adam terlihat kesal sekaligus kecewa. Dia berpikir Agung terus saja membela Ardi. Lelaki itu telah dikuasai oleh cemburu yang menutup hati dan pikirannya. "Papa selalu saja membela Ardi. Apa mungkin Papa ingin mewariskan perusahaan ini hanya untuk Ardi?" tanyanya dengan kesal.


Agung semakin tidak mengerti dengan pemikiran anak sulungnya itu. Selama ini dia sudah berusaha untuk berlaku adil. Adam sudah mendapatkan segala kemewahan yang diberikan oleh Agung. Sedangkan Ardi, belum menikmati apapun yang seharusnya didapatkannya. Agung hanya membayar semua biaya perawatan yang dihabiskan oleh Ardi selama di Singapura. Memang itu tidak sedikit, namun uang yang sudah dihabiskan Adam untuk gaya hidup mewahnya bahkan lebih dari itu.


"Aku akan datang lagi untuk meminta posisiku di perusahaan ini," ucap Adam sebelum meninggalkan kantor Agung.


Agung hanya bisa mengelus dada melihat sikap angkuh anak sulungnya. Adam dan Ardi adalah 2 orang yang sangat bertolak belakang. Adam yang hidup dengan glamor, sedangkan Ardi sangat sederhana. Bahkan tutur kata Ardi jauh lebih sopan dan lembut dibandingkan dengan kakaknya.


Malam hari setelah kembali dari kantornya, Jessie duduk di teras samping kesukaannya. Menatap ribuan bintang dengan cahaya rembulan yang menyinari malam. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Jessie sedikit menyimpan ketakutan. Dia takut tak bisa membangun perusahaan seperti yang kakeknya inginkan. Jessie begitu takut jika harus gagal, dan harus kehilangan Ardi lagi. Terlalu larut dalam pikirannya, Jessie tak menyadari seseorang berdiri di belakangnya.


"Papa mengejutkan Jessie saja!" gerutu gadis itu.


David mengelus lembut kepala Jessie. Dia tahu ada kegelisahan yang singgah di hatinya. "Katakan! Apa yang sudah mengganggumu?" tanyanya.


"Jessie takut tak bisa memimpin perusahaan itu dengan baik," jelasnya.


"Bukankah kekasihmu adalah lelaki yang hebat. Bahkan dia sudah berhasil membangun perusahaannya sendiri di Australia. Dengan Ardi disampingmu, tak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap David menghibur anak gadisnya.


David memberikan banyak nasehat bijak untuk anak gadisnya. Paling tidak ucapannya sedikit membuat Jessie lebih tenang. Pria itu juga sangat yakin dengan tunangan anaknya. David percaya, Ardi akan membawa dampak yang baik dalam kehidupan Jessie. Papa dan anak itu, berbincang hingga larut malam. Setelah keduanya mengantuk, barulah mereka masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Pagi hari ini Jessie terlihat sangat bersemangat untuk mengawali harinya. "Pagi Mama. Pagi Papa," sapa Jessie dengan sumringah.


"Pagi Sayang! Tumben hari ini semangat sekali," jawab Melissa sedikit heran.


"Itu semua karena sedikit pencerahan dari suami Mama," goda Jessie sambil melirik David.


Melissa tersenyum mendengar candaan anaknya. "Suami Mama ya! Mama kira Papanya Jessie," balas Melissa.


David hanya menatap kedua wanita kesayangannya itu. Rasanya dia ingin menertawakan interaksi kedua wanita itu. Namun dia hanya bisa menatapnya, daripada didiamkan oleh Melissa.


"I love you Papa!" seru Jessie bersemangat.


Setelah berpamitan Jessie langsung berangkat ke kantornya. Melissa hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah anaknya itu.


"Apa yang Mas David lakukan hingga Jessie terlihat sangat bersemangat?" tanya Melissa sambil duduk di samping suaminya.


"Tak ada yang penting. Hanya beberapa nasehat seorang ayah untuk anaknya," jawabnya.


"Aku tak percaya!" ucap Melissa sebelum meninggalkan meja makan.


David segera menyusul Melissa ke kamarnya. Ternyata istrinya sedang membersihkan tempat tidurnya.


"Kenapa tak memanggil pelayan saja?" tanya David yang berdiri di samping ranjang.


"Sekali-kali tak apa membersihkan sendiri," jawabnya.

__ADS_1


Pasangan itu pun terlihat kompak membersihkan kamar mereka. Sekali-kali David menggoda istrinya yang terlihat sangat kesal. Kadang lelaki itu mencubit perut Melissa dengan lembut. Tak terima dengan perlakuan suaminya, Melissa membalas dengan menggelitiki perut David. Mereka berdua tertawa berguling- guling bersama di atas ranjang. Hingga hari sudah mulai siang, David pamit berangkat ke kantor. Melissa pun mengantar kepergiannya dengan senyuman yang sangat cantik.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2