Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 121


__ADS_3

Malam itu setelah mengantar Jessie ke sebuah restoran mewah untuk bertemu Anton, Ardi langsung memarkirkan mobilnya di area parkir dekat lobby. Dia sengaja parkir disana, agar saat dia harus keluar bisa mempersingkat waktunya. Kemudian Ardi duduk di sebuah kursi tunggu, supaya dia bisa langsung tahu jika Jessie sudah keluar.


Di dalam hati Ardi, berkecamuk perasaan gelisah dan tidak tenang. Dia terus mengkhawatirkan kekasihnya itu. Bahkan, Ardi tak rela jika harus meninggalkan Jessie dengan lelaki lain. Dengan sabar, Ardi menunggu Jessie yang terlihat sangat menikmati makan malamnya. Sesekali Ardi sengaja melihat Jessie dari kejauhan. Mungkin saja Jessie juga tak menyadari, jika kekasihnya itu masih berada di sekitar restoran.


Beberapa menit kemudian, Anton sudah membawa Jessie keluar dari restoran dalam keadaan tidak sadar. Kemudian Anton membawa masuk Jessie ke dalam mobilnya, dengan gelagat yang mencurigakan. Ardi terlalu panik dan langsung menghubungi pamannya yang bekerja di kepolisian. Dia meminta kepada pamannya agar mengirimkan anak buahnya, untuk menyelamatkan Jessie. Ardi bergegas mengikuti mobil Anton, sambil terus berkomunikasi dengan pamannya.


Di luar dugaan, Anton justru membawa Jessie ke sebuah apartemen yang cukup mewah dan berkelas. Diam-diam Ardi masih membuntuti Anton, yang menggendong Jessie masuk ke dalam unit apartemennya. Begitu pintu tertutup, Ardi langsung menghubungi pamannya agar segera mengirimkan polisi untuk menyusulnya. Untung saja, kantor polisi terletak di dekat apartemen itu.


Beberapa saat kemudian, dua polisi sudah berdiri di hadapan Ardi. "Kita harus segera mendobrak pintu ini, Pak. Karena tunangan saya dibawa ke apartemen ini dalam kondisi tidak sadar," jelas Ardi kepada dua aparat kepolisian itu. Dua polisi itu langsung menuruti perkataan Ardi, karena sebelumnya atasan mereka sudah menjelaskan kejadian perkara.


Tanpa menunggu lama, polisi langsung mendobrak pintu hingga rusak. Lalu kedua polisi itu menuju ke arah kamar tidur. Kebetulan sekali, kamar itu dalam kondisi tidak tertutup.


"Angkat tanganmu!" seru dua orang anggota kepolisian yang datang sambil menodongkan senjata ke arah Anton. Ardi berdiri di belakang polisi itu dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Anton yang sangat terkejut mendengar suara keras itu. Langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Wajahnya pucat seketika, karena ketakutan sekaligus malu. Karena lelaki itu sudah tak memakai pakaian apapun.


Polisi itu berjalan pelan, sambil terus menodongkan senjatanya. "Anda ditangkap atas tuduhan pelecehan dan percobaan pemerkosaan terhadap Nona Jessie," seru polisi itu dengan suara yang sangat lantang.


Ardi tersenyum kemenangan atas penangkapan itu. Karena Anton sudah tak mungkin lagi mengelaknya. Ardi langsung membawa Jessie ke RS terdekat. Sedangkan Anton harus menerima hukuman atas perbuatannya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, David dan Melissa sudah berada di ruangan Jessie. Meskipun terlihat sangat tenang, Ardi dapat melihat kecemasan dari sinar mata David. Kalau mamanya Jessie, sudah pasti sangat mengkhawatirkan putrinya. Ardi berdiri di samping ranjang Jessie, memandang Jessie dengan wajah yang sangat cemas. Lelaki itu pun menceritakan semua kejadian yang dialami oleh kekasihnya. David pun sangat berterimakasih kepada calon menantunya itu, karena telah menjaga Jessie.


"Terimakasih, Ardi. Kamu sudah menyelamatkan anakku," ucap David dengan sangat tulus.


Ardi tersenyum menatap David. " Sudah tugas Ardi untuk selalu menjaga Jessie," jawabnya.


Tak beberapa lama, Jessie mulai membuka matanya. Gadis itu terlihat sangat terkejut, ketika terbaring di sebuah ruangan di RS. Apalagi melihat orangtuanya berada di sana juga. "Mengapa Jessie bisa terbaring di sini? Bukankah aku sedang makan malam dengan Anton?" tanyanya bingung. Jessie memandang Ardi dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Anton sengaja memberimu obat tidur, agar bisa menyentuhmu. Untung saja Ardi datang bersama polisi tepat waktu, dan sekarang Anton ditahan di kepolisian," jelas David pada Jessie.


"Tapi Anton belum berbuat macam-macam kan?" tanya Jessie dengan cemas.


Gadis itu merasa lega, karena Anton belum melakukan apapun padanya. "Andai Kak Ardi tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi padaku?" tanyanya dalam hati. Jessie tak mampu membayangkan jika kekasihnya datang sedikit terlambat. Dia merasa beruntung memiliki Ardi di sampingnya. Jessie menatap kekasihnya dengan tatapan sangat lembut. "Kak. Aku sangat mencintaimu," ucapnya lirih.


Melissa dan David yang masih di ruangan itu, hanya bisa tersenyum dan saling memandang. Mereka berdua tak menyangka, jika anak gadisnya bisa secinta itu dengan Ardi. Padahal dulu, Jessie sangat marah setiap kali melihat orangtuanya bermesraan. Sekarang, Jessie merasakan sendiri, bagaimana rasanya mencintai itu? Dia terlihat bahagia, ketika Ardi memeluknya erat.


"Akhirnya putri kesayangan kita sudah benar-benar jatuh cinta," sindir David sambil memandangi istrinya. Sesekali dia melirik Jessie, yang masih tenggelam dalam pelukan Ardi.


"Sayang. Haruskah Papa dan Mamamu ini pulang?" Pertanyaan Melissa langsung membuat Jessie melepaskan pelukannya. Jessie merasa sedikit malu dengan pertanyaan mamanya.

__ADS_1


Ardi langsung berdiri menjauhi Jessie. Dia tak ingin calon mertuanya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. "Maaf, Om, Tante. Saya tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan. Ardi hanya ingin menenangkan hati Jessie, tidak lebih." Ardi menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat sekaligus penyesalan atas sikapnya.


David tersenyum puas dengan kesopanan yang dimiliki oleh Ardi. Dia semakin tidak sabar menjadikan Ardi sebagai menantunya. "Tenanglah, Ardi. Om tidak berpikiran seperti itu. Om dan Tante sangat senang kamu bisa menjaga Jessie. Rasanya, kami sudah tidak sabar untuk menjadikan kamu suami Jessie," balas David dengan senyuman yang hangat.


"Terimakasih, Om," ucap Ardi dengan tulus.


Jessie menjadi sangat terharu melihat pemandangan di hadapannya. "Kak! Kemarilah!" seru Jessie pada kekasihnya.


Ardi berjalan menuju ke arah Jessie. Saat Ardi semakin di dekat Jessie, gadis itu menarik Ardi dan mengecup bibirnya. "Jessie! Apa-apaan kamu! Ada Tante dan Om di sini. Apakah kamu tidak malu?" protes Ardi sambil melangkah mundur menjauhi Jessie.


Jessie langsung cemberut mendapatkan penolakan dari Ardi. "Papa dan Mama juga sering bermesraan di depan Jessie. Mengapa Jessie harus malu?" ujar gadis itu.


Ekspresi wajah David dan Melissa mendadak merah padam. Mungkin mereka berdua sangat malu dengan ucapan Jessie mengenai mereka. Namun di dalam lubuk hatinya, mereka menertawakan keagresifan Jessie terhadap kekasihnya.


Jessie yang menyadari perubahan ekspresi pada papa dan mamanya, langsung menatap mereka dengan senyum-senyum. "Mengapa Papa dan Mama malu, bukankah itu kenyataan?" tanyanya tanpa merasa bersalah.


Melissa semakin malu sekaligus kesal, dia menghampiri Jessie dan mencubit pipinya. "Dasar anak nakal!" serunya dengan wajah yang terlihat canggung.


Jessie justru memeluk Melissa dengan erat. "I love you. Mama," ucapnya dengan tulus.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2