
Jessie masih berbincang berdua di taman depan rumahnya. Jutaan bintang-bintang dan sinar rembulan, menjadi saksi 2 insan yang sedang melepas kerinduan. Jason terus saja membelai lembut, Jessie yang duduk disampingnya. Lelaki itu terlalu lama menyimpan rindu untuk saudara perempuannya itu. Selama ini Jessie terlalu sulit ditemui, mungkin dia memang sengaja menjauh dari keluarganya.
" Kak, sepertinya Kakek akan menjodohkan aku dengan anak dari rekan bisnisnya," ucap Jessie mengawali pembicaraan.
Jason memandang wajah cantik dihadapannya. "Apa kamu menyetujuinya?" tanyanya.
"Jessie juga belum tahu, Kakek juga belum mengatakan langsung kepadaku," jawabnya.
"Apa kamu sudah menyerah dengan cintamu untuk Ardi?" tanya Jason.
"Kak Jason tahu bagaimana perasaanku untuknya. Bahkan aku pernah memilih untuk mati, daripada harus kehilangan Kak Ardi. Tapi ini sudah terlalu lama, sudah 3 tahun lebih dia tak pernah menghubungiku. Mungkin ini saatnya aku harus menyerah atas cinta pertamaku. Rasa cintaku memang tak mungkin hilang, tapi aku harus mencoba membuka hati untuk lelaki lain. Aku tak ingin keluarga kita terus mengkhawatirkan aku," jelasnya dengan tetesan air mata.
"Gadis nakal,"' ucap Jason dengan sentuhan lembut di kepalanya.
"Kami tidak mengkhawatirkanmu, kami semua hanya terlalu menyayangimu," balas Jason.
Mereka berdua mengobrolkan banyak hal hingga tengah malam.
"Kamu menginap di rumah kan?" tanya Jason.
"Tidak Kak, besok aku ada kelas pagi. Aku juga tak membawa apa-apa." Jessie pun melihat jam di tangannya.
"Ayo aku antar pulang, seperti kamu tak membawa mobil," ajak Jason.
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Jason dan Jessie akhirnya meninggalkan rumah besar itu. Awalnya Melissa menyuruh mereka berdua menginap, tetapi setelah perdebatan panjang dan sedikit rayuan, Melissa merelakan anaknya pergi. Setelah 20 menit perjalanan, sampailah di gedung apartemen Jessie.
"Kak, menginap lah disini. Sekalian besok pagi mengantar aku ke kampus. Mobilku masih di kantor." Jessie terus memohon dan menarik tangan Jason untuk masuk.
Lelaki itu jelas tak bisa menolak permintaan saudara perempuannya. Malam itupun Jason menginap di apartemen Jessie. Lalu pagi harinya, dia mengantar Jessie ke kampus. Setelah mengantar Jessie, dia kembali ke asrama untuk mengganti pakaiannya. Selesai bersiap-siap, Jason langsung berangkat ke kampusnya. Di depan kelas, Kanaya sudah duduk menunggu kedatangannya.
__ADS_1
"Pagi Ay...." sapa Jason.
"Pagi Kak. Tadi aku mampir ke asrama, tapi kamar Kakak kosong," ucap Kanaya cemberut.
Jason pun tersenyum melihat wajah cemberut Kanaya. "Semalam aku menginap di apartemen Jessie, jangan marah dong!" jelasnya.
Ekspresi Kanaya langsung berubah begitu mendengar nama Jessie disebut. "Bagaimana kabarnya? Aku sangat merindukannya," tanyanya.
"Walaupun dia menjadi sedikit kurus, tapi Jessie masih sangat cantik. Sepertinya Jessie juga akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis Kakek Rudy," jawab Jason.
"Lalu Kak Ardi bagaimana?" tanyanya sedikit kecewa.
"Jessie akan menyerah terhadap cintanya. Selama 3 tahun lebih, Jessie sudah sangat menderita menunggu Ardi. Ku harap Jessie mendapatkan kebahagiaannya, dengan atau tanpa Ardi," jelas Jason dengan sedih.
"Semoga Jessie menemukan kebahagiaannya," ucap Kanaya sambil menggenggam tangan Jason.
Jessie sedang duduk di kantin bersama seorang temannya Lusia. Lusia Maharani adalah satu-satunya teman yang Jessie miliki di kampus. Selain mereka berdua berada di jurusan kuliah yang sama, mereka sama-sama menjadi mahasiswa berprestasi.
"Jessi! sepertinya Pak Dosen muda itu menyukaimu," ledek Lusia pada Jessie.
"Dosen muda yang mana?" tanya Jessie dingin.
"Ya ampun Jess, seluruh isi kelas pada heboh setiap dia mengajar. Kamu memikirkan apa, hingga tak menyadari kehadirannya," protes Lusia.
Lusia sangat heran dengan tingkah Jessie. Dia tak mengerti, mengapa Jessie begitu tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan saat seluruh kampus sedang berlomba-lomba mencari perhatian Dosen itu, Jessie malah tidak tahu kalau ada Dosen tampan. Lusia hanya bisa mengelus dadanya.
Selesai kuliah, Jessie berjalan pelan menuju gerbang depan kampusnya. Dia sengaja mencari taksi yang biasa mangkal disana. Belum sampai mendapatkan taksi, sebuah mobil warna hitam berhenti di depannya.
"Danisha! masuklah aku akan mengantarmu," ajak lelaki yang baru saja keluar dari mobil.
__ADS_1
Jessie terlalu bingung, mendengar lelaki itu memanggil nama depannya. "Apa anda mengenal saya?" tanyanya tanpa dosa.
"Bukankah kamu selalu hadir di mata kuliah yang saya ajarkan?" tanya lelaki itu.
Jessie terlihat bingung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lelaki itu tersenyum melihat ekspresi bingung wanita cantik di hadapannya.
"Saya Adam Setiawan, apa kamu masih belum mengingat saya?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
Mendengar nama itu Jessie langsung menahan rasa malunya. "Maafkan saya Pak, karena tidak mengenali Pak Adam. Penampilan anda terlalu berbeda jika didalam kelas," kilahnya sambil menyambut jabat tangannya.
Dengan rasa malu yang terlukis jelas diwajahnya, Jessie tak mampu menolak tawaran Adam untuk mengantarnya. Adam hanya bisa menahan senyumnya melihat ekspresi wajah Jessie.
"Dimana saya bisa mengantarmu?" tanya Adam sedikit menoleh kearahnya.
"Tolong turunkan saya di gedung perkantoran Gunawan Corp," jawab Jessie.
Adam sama sekali tak terkejut, dia berpikir Jessie pasti ingin menyusul keluarganya. Atau sekedar main-main di kantor keluarganya. " Mau bertemu Papamu?" tanya Steven penasaran.
"Tidak Pak. Saya karyawan part time disana," jawabnya.
"Apa!!" seru Adam tak percaya.
Saking kagetnya, Adam sampai mendadak menginjak rem tanpa sadar. Dia tak percaya, seorang anak pemilik perusahaan malah bekerja part time.
"Tak perlu terkejut begitu Pak, saya sudah terbiasa hidup susah," jawabnya dengan sopan.
Adam tak mengerti dengan jawaban Jessie. Hidup susah bagaimana yang dijelaskannya tadi. Bukankah Gunawan Corp adalah perusahaan multinasional? Mana mungkin orangtuanya membiarkan Jessie hidup susah. Banyak pertanyaan mendadak muncul di kepala Adam. Dia semakin penasaran dengan sosok Danisha Jessie Gunawan itu. Sejak pertama dia mengajar, gadis itu sudah menarik perhatiannya. Namun sayang, Jessie tak pernah sekalipun memandang Adam dengan tatapan mata indahnya. Paling gadis itu hanya bertatap mata sekilas, itupun hanya untuk keperluan tugas-tugasnya saja. Bahkan saking penasarannya, Adam sampai mencari informasi tentang Jessie ke pusat informasi universitas. Memang kedengarannya sedikit gila, tetapi memang begitulah Adam.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1