Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Egoiskah Melissa??


__ADS_3

Mulai saat ini aku harus terbiasa dengan profesi baru ini. Menjadi Presiden Direktur mengharuskan ku selalu berpakaian rapi. Setelan jas lengkap dengan dasi, seakan sudah menjadi seragam wajib untukku. Setiap pagi sebelum ke kantor, aku selalu mengantarkan Melissa ke The Java Hotel. Urusan di Mel'S Cafe sudah aku serahkan pada orang kepercayaan ku. Seperti keinginan Ayahku, aku harus fokus pada bisnis Gunawan Corp.


Gunawan Corp


Memasuki ruanganku, seorang wanita yang cukup muda menyambut kedatanganku.


" Selamat pagi Pak, saya Silvia sekretaris yang akan membantu Anda. Semoga kedepannya tidak membuat anda kecewa," tutur Silvia dengan sopan.


Ku pandang penampilan sekretaris yang ada di depanku. Sepertinya bukan sembarang sekretaris. Dari atas sampai bawah, semua yang menempel di tubuhnya barang bermerk.


" Terimakasih atas penyambutannya." Aku sedikit tersenyum memandangnya.


Di ruanganku, aku menyuruh Silvia sekretaris ku menyiapkan semua kontrak kerjasama selama 1 tahun ke depan. Tak lama Silvia membawa beberapa map yang berisi kontrak yang aku minta. Setelah Silvia keluar, aku mulai memeriksa kontrak-kontrak itu. Disana tertulis, A.H Architect perusahaan milik Andrew, meminjam dana yang cukup besar. Aku semakin penasaran. Tanggal itu seminggu sebelum investor The Java Resort menarik investasinya. Aku pun memeriksa jumlah pinjamannya, dan ternyata benar itu sama nilainya dengan The Java Hotel. Aku sedikit emosi melihat kontrak ini. Ternyata semua ini adalah akal-akalan Andrew, untuk memisahkan ku dan Melissa. Untuk meredam emosiku, pada jam makan siang aku keluar. Menemui Melissa, untuk menghabiskan waktu bersamanya.


" Silvia... kalau ada yang menghubungi ku, katakan aku sedang makan diluar," ucapku pada sekretarisku.

__ADS_1


" Baik Pak," jawabnya singkat.


Mobil melaju menuju restoran The Java Hotel. Sampai di sana, terlihat Melissa duduk seorang diri di kursi restoran.


" Jangan melamun Sayang." Aku menghampirinya dan mencium kening Melissa.


" Mas udah sampai. Mau makan apa?" tanyanya.


" Terserah kamu Sayang, aku akan memakan apapun yang kamu pesan," jawabku sambil terus memandangnya.


" Sayang, bukannya masalah di resort sudah selesai? Kenapa masih sering ke hotel? Apakah ada masalah lainnya?" tanyaku.


" Aku bosan kalau di rumah sendirian. Apalagi sekarang Mas pulang agak sore. Aku belum terbiasa," jawabnya terdengar kecewa.


" Maafkan Mas Sayang, Mas akan berusaha selalu cepat pulang ke rumah kita." Aku melihat kesedihan di mata Melissa.

__ADS_1


" Maafkan aku Mas, mungkin aku terlalu egois ingin selalu bersamamu. Seandainya aku bisa memilih, aku memilih Mas bekerja sebagai pemilik cafe daripada menjadi Presdir perusahaan besar." Air mata Melissa mengalir dan tak bisa ditahan lagi.


Rasanya aku juga ingin ikut menangis melihat air mata Melissa. Aku menariknya ke dalam pelukanku, semoga pelukan ini sedikit mengurangi kesedihannya.


" Sayang, jangan menangis lagi. Aku jadi merasa semakin bersalah kepadamu," ucapku sambil terus memeluknya.


" Kembalilah ke kantor Mas, jam makan siang sudah lewat " Melissa melepaskan pelukannya dan membersihkan wajahnya.


" Aku tak tega meninggalkanmu Sayang," kataku kepadanya.


" Jangan seperti ini Mas, Ayah sudah mempercayakan Gunawan Corp padamu." Melissa mencoba tersenyum.


Namun aku bisa merasakan, senyumannya menyimpan berbagai gelisah di hatinya. Aku sudah tidak tahan melihat Melissa terluka. Daripada aku harus menangis di hadapannya, lebih baik aku kembali ke kantor. Melissa juga memilih kembali ke ruangan Kak Adrian, sebelum pulang ke rumahnya.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2