
Ardi mengantarkan Jessie sampai depan gerbang rumahnya. Gadis itu keluar dengan senyuman cerah di wajahnya.
"Terimakasih Kak Ardi," ucap Jessie sebelum Ardi melakukan mobilnya untuk pulang.
Sambil bersenandung lagu-lagu cinta Jessie memasuki rumahnya. Melissa yang melihat tingkah anaknya itu sedikit heran. Tidak biasanya Jessie terlihat sangat senang. Bahkan senyuman manis terus merekah di bibirnya.
Tak berapa lama, Jason juga pulang. Ekspresi wajah lelaki itu juga tak seperti biasanya. Jason yang biasa bersikap dingin, tiba-tiba begitu datang langsung mencium pipi Mamanya. Entah itu keajaiban atau keanehan bagi Melissa.
Di meja makan suasananya juga sangat berbeda. Jason yang lebih banyak diam mendadak menjadi cerewet. Melissa masih bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang membuat kedua anak kesayangannya lebih hangat dan ceria.
" Mama mau Jason antar untuk belanja?" tanyanya.
"Atau Mama memilih ke salon bareng Jessie?" tawar anak gadisnya.
Melissa memandang anaknya secara bergantian. "Mama rasa ada yang aneh dari kalian berdua. Siapa dari kalian yang sedang jatuh cinta?" tanya Melissa penasaran.
Secara bersamaan Jessie menyebutkan nama Jason, begitu pula sebaliknya. Jason menyebutkan nama Jessie. Melissa mulai mengerti, kalau kedua anaknya telah jatuh cinta.
"Ok Mama mengerti sekarang. Besok malam, ajak kekasih kalian berdua makan malam di rumah ini." Ucapan Melissa membuat anaknya saling menatap satu sama lain.
Selesai makan Jessie menyusul Jason yang sedang duduk di taman belakang.
"Gara-gara Kakak ini, harus ngajak Kak Ardi makan malam disini," gerutu Jessie.
"Bukankah itu kabar baik, bisa lebih mengenal calon mertua," ledeknya sambil tertawa kecil.
Jessie semakin sebal mendengar candaan Jason. Bukannya menghibur malah semakin membuatnya kesal.
Pagi harinya di sekolah, Jessie menemui Ardi di kelasnya. Beberapa teman sekelas Ardi mulai berbisik-bisik melihat Jessie yang terlihat akrab dengan Ardi.
" Ada apa Sayang? Tumben sekali datang ke kelas. Jadi seperti pasangan kekasih yang sesungguhnya," ledek Ardi dengan senyuman.
"Kak Ardi bisa aja. Nanti malam Mama mengundang Kakak untuk makan malam di rumahku. Apa Kak Ardi mau datang?" tanya Jessie dengan ekspresi serius.
"Apa aku juga perlu membawa Papa dan Mama untuk melamarmu?" bisik Ardi di telinga kekasihnya.
Muka Jessie langsung memerah karena malu, tanpa pamit dia langsung kembali ke kelasnya. Teman sekelas Ardi mulai bertanya- tanya tentang hubungan Ardi dengan gadis cantik itu. Karena selama ini, Ardi selalu menolak jika didekati gadis di sekolahnya. Sedangkan dengan adik kelasnya itu, Ardi terlihat sangat akrab dan sikapnya begitu hangat.
__ADS_1
Ardi kembali ke kelasnya dengan wajah yang berseri. Dia sangat senang begitu mendapat kunjungan dari kekasihnya yang cantik itu. Wajah Jessie saat malu, terlihat sangat menggemaskan. Membuat Ardi ingin menciuminya.
Sepulang sekolah, Jason menunggu Kanaya tidak jauh dari mobilnya. Begitu melihat gadis itu, Jason langsung menghampirinya. "Aya ada yang ingin aku katakan," ucapnya.
Kanaya pun mengikuti Jason ke mobilnya, lalu duduk di kursi penumpang. "Ada apa Kak, sepertinya sangat serius? tanyanya penasaran.
"Mama mengundangmu makan malam di rumahku malam ini," jawab Jason.
Kanaya terlihat senang mendapatkan undangan itu. "Aku pasti datang, aku juga sudah lama tidak bertemu Tante Melissa," ucapnya bersemangat.
"Apa aku perlu menjemputmu?" tanyanya ragu
"Aku akan berangkat bareng Kak Ardi saja. Sepertinya dia juga mendapatkan undangan makan malam di rumahmu," jelasnya.
Jason pun mengantar Kanaya sampai di depan gerbang rumahnya. "Sampai ketemu nanti malam cantik," pamitnya sambil berlalu meninggalkan rumah itu.
***
Sepulang dari kantor, ruang makan sudah ditata dengan rapi. Banyak bunga-bunga terpasang di sudut ruangan. Karena penasaran, aku langsung memasuki kamar mencari Melissa. "Sayang, memangnya malam ini ada perayaan apa, sampai ruang makan sudah sangat rapi?" tanyaku pada Melissa yang duduk di meja rias.
Melissa berdiri, kemudian membantuku melepaskan jas. "Aku mengundang pacar Jason dan Jessie ke rumah untuk makan malam," jawabnya.
"Jaga sikapmu di depan anak-anak Mas, kita bukan remaja lagi," kata Melissa sedikit kesal.
"Baiklah Nyonya, hamba mau mandi dulu," jawabku sambil tersenyum menggodanya.
Melissa terkadang juga risih, ketika suaminya sangat mesra di tempat umum. Bukan karena malu, cuma takut dicap tak tahu tempat untuk bermesraan. Selesai dengan riasannya, Melissa segera turun ke ruang tamu. Jessie sudah terlihat sangat cantik dengan dress warna peach. Jason selalu terlihat tampan dengan kemeja pendek warna biru laut.
"Kalian berdua terlihat sangat tegang, seperti pengantin yang menunggu pasangannya," ledek Melissa dengan senyuman.
Jessie langsung cemberut mendengar ledekan Mamanya. "Jangan mulai meledek kami berdua Ma. Jessie juga bisa meledek Mama sampai malu," balasnya pada Melissa.
Melissa mendadak pucat, takut Jessie akan membahas kejadian memalukan itu. Jessie dan Jason saling menatap memandang Mamanya yang salah tingkah. Tak lama kemudian, sebuah mobil memasuki halaman. Seorang lelaki dan perempuan keluar dari mobil itu.
"Selamat datang Sayang, mari masuk." Melissa mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
Jessie langsung mendekati Ardi, dan menggenggam tangannya. Sedangkan Jason terlihat malu-malu mendekati Kanaya. Setelah sedikit melakukan pembicaraan saling memperkenalkan diri, mereka semua langsung di arahkan ke meja makan.
__ADS_1
"Kok Papa belum turun," cetus Jason.
"Tunggu sebentar, Mama akan memanggilnya dulu." Melissa langsung beranjak menaiki tangga menuju kamar.
Saat aku sedang menyisir rambutku didepan kaca, Melissa datang menyusul ku.
"Mas, cepetan mereka semua sudah menunggu," ucapnya dengan nada tidak sabar.
"Ayo kita turun." Aku pun merangkul Melissa menuju meja makan.
Sampai di meja makan, seluruh mata memandang ke arahku dan Melissa.
"Maaf Om sedikit lama," ucapku dengan ramah.
"Tidak apa-apa Om, kami senang bisa mengobrol sambil menunggu," jawab Ardi sangat sopan.
Kami semua menikmati makan malam ini. Selesai makan, kami juga sempat mengobrol sebentar di ruang tengah.
"Ardi! Apa kamu serius dengan Jessie? Jujur saja, Om sedikit khawatir dengan anak manja ini," tanyaku pada kekasih Jessie.
"Tentu saja Ardi sangat serius Om. Bahkan kalau Om mengijinkan, Ardi ingin melamar Jessie secepatnya," jawabnya.
Jawaban Ardi membuat Jessie sangat terkejut. "Kak Ardi jangan bercanda deh!" ucapnya sambil mencubit lengan kekasihnya itu.
"Om sangat menghargai keseriusan mu. Hanya saja, kalian berdua masih SMA. Lebih baik jalani dulu masa pacaran kalian. Setelah kalian berdua sudah masuk universitas, kamu dan Jessie bisa bertunangan dulu," jelasku pada Ardi.
"Terimakasih Om, sudah mengijinkan saya mendekati Jessie," jawab Ardi sambil menggenggam tangan Jessie di bawah meja.
Kulihat Jason sedikit gelisah dan tidak nyaman duduk di samping Kanaya. "Bagaimana denganmu Jason, apa kamu juga serius dengan Kanaya?" tanyaku dengan serius.
Dengan sangat bingung Jason pun menjawabnya. "Sebenarnya kami tidak berpacaran," ucapnya ragu.
Kanaya tak puas dengan jawaban Jason. Dengan lantang dia pun berkata, "Tapi kami berdua sudah berciuman."
"Apa!!!" Seluruh isi ruangan seolah tak percaya dengan ucapan Kanaya.
Jason hanya bisa tertunduk malu di hadapan semua orang. Jason terlalu takut mengakui perasaannya sendiri.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰