Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Hari itu sepulang sekolah Ardi membantu merapikan perpustakaan sebentar. Setelah semua rapi, dia pun keluar menuju tempat parkir. Suasana sekolah sudah sangat sepi, tinggal beberapa mobil yang masih terparkir. Tak sengaja Ardi melihat mobil Jason yang masih terparkir di halaman. "Bukankah itu mobil Jason?" gumamnya.


Tak terlalu memikirkannya, Ardi pun melajukan mobilnya. Baru sampai di depan gerbang sekolah, Ardi melihat aksi tarik menarik antara 2 orang. "Bukankah itu Jessie, mengapa Anton menarik paksa tangannya?" tanyanya.


Ardi langsung keluar dan menghampiri mereka berdua. "Lepaskan tanganmu dari Jessie!!" teriak Ardi.


Anton menjadi sangat geram dengan teriakan itu. "Tak ada urusannya denganmu, bukankah kamu hanya mantan Jessie," balas Anton tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Ucapan Anton seperti tamparan bagi Ardi. Dia sedikit terpaku dengan perkataan itu. Sampai Jessie berteriak kesakitan barulah dia tersadar.


"Sakit!! lepaskan tanganku." Jessie meronta mencoba melepaskan tangan itu.


Ardi semakin kesal dan emosi. "Aku bilang lepaskan tangannya!!" bentak Ardi.


Anton tersenyum menyeringai, "Kalau aku tak mau melepaskan, kamu bisa apa?" tanyanya penuh hinaan.


Ardi menjadi sangat geram, tanpa memikir panjang dia memukul Anton dengan tangannya. Merasa tak terima dengan pukulan itu, Anton melepaskan Jessie dan membalas pukulan Ardi. Terjadi saling pukul antara 2 lelaki itu. Jessie berteriak-teriak minta tolong. Saat kejadian saling dorong, Anton mendorong Ardi terlalu kuat dan....


brakkkk...


Sebuah mobil yang lewat menabrak tubuh Ardi, dia terlempar sampai 10 meter. Mobil itu langsung berhenti, dan pengemudi dengan segera menghubungi ambulans. Darah berceceran di tengah jalanan. Jessie yang melihat langsung kejadian itu, langsung berteriak memanggil nama Ardi.


"Kak Ardi......" teriak Jessie sambil berlari ke arah Ardi tergeletak.


Jessie langsung memeluk tubuh Ardi yang penuh dengan darah. "Kak... jangan tinggalkan aku Kak. Teruslah bertahan," Jessie terus menangis sambil memeluk lelaki dihadapannya.


Ambulans datang bersamaan mobil polisi. Polisi meminta keterangan kejadian kecelakaan itu pada pengemudi yang menabrak dan juga Anton. Sedangkan Ardi langsung dibawa ke RS terdekat. Jessie mendampingi Ardi yang tidak sadarkan diri di dalam ambulans. Digenggamnya dengan erat tangan Ardi, gadis itu terus saja menangis tanpa henti.


Sampai di RS, Ardi langsung dibawa ke ruang operasi karena cidera di kepalanya. Jessie sudah tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Ardi. Dia sangat ketakutan dan hanya meringkuk di depan ruang operasi. Dengan tangan yang gemetar, Jessie menghubungi Jason.


"Kak... Kak Ardi..."


"Aku ada di RS Universitas"


30 menit kemudian, Jason dan Kanaya datang dengan wajah yang sedih. Jason langsung memeluk Jessie yang masih menangis di depan ruang operasi.

__ADS_1


"Tenanglah, Ardi pasti baik-baik saja," ucap Jason menghiburnya.


Kanaya ikut memeluk Jessie, dia pun menangis bersama gadis itu. Kanaya juga sangat sedih, karena Ardi adalah sepupu yang seperti seorang kakak lelaki baginya. Bahkan Kanaya pernah tinggal di rumah Ardi, setelah dulu keluarganya bangkrut. Baru setelah usaha orangtuanya bangkit, Kanaya pindah ke rumah baru.


"Aya, segera hubungi keluarga Ardi," kata Jason pada kekasihnya.


"Tante Dina pasti sudah tahu. Karena dia adalah salah satu direktur di RS ini," jawab Kanaya.


"Mungkin itu alasannya, kenapa saat Ardi datang langsung mendapatkan penanganan dengan cepat," ujar Jessie dengan air mata yang mengalir.


Beberapa dokter dan perawat keluar dari ruangan operasi. Kanaya langsung menghampiri orang yang dikenalnya.


"Tante Dina, bagaimana keadaan Kak Ardi?" tanya Kanaya sangat tegang.


"Tante tidak tahu, bagaimana Ardi bisa tertabrak. Walaupun operasinya berhasil, Tante belum tahu kapan dia akan sadar," jelasnya sambil menatap ke arah Jessie yang sedang menangis.


Diana mendekati Jessie dan memeluknya. "Jangan menangisinya, Ardi akan terluka jika melihatmu seperti ini," ucapnya.


Jessie mencoba tersenyum pada Diana yang menatapnya dengan sedih. Diana pun meninggalkan mereka bertiga dengan kekhawatiran yang tersirat di matanya.


"Kanaya, mengapa Tante Diana memelukku?" tanya Jessie.


Tak berapa lama, Ardi dipindahkan ke ICU. Jessie hanya bisa melihat Ardi dari balik kaca. Perawat mengatakan Ardi belum bisa dijenguk, karena kondisinya yang belum stabil. Jason dan Kanaya merasa kasihan pada Jessie. Sejak kedatangan mereka, air mata Jessie sama sekali tak berhenti mengalir. Jason mulai mengkhawatirkan kondisi adiknya itu.


"Jess... ini sudah malam. Kita harus pulang dulu, besok kita bisa kembali kesini," ajak Jason.


"Tapi Kak Ardi..." Gadis itu semakin menangis dalam pelukannya.


Kanaya ikut memeluk Jessie. "Benar kata Kak Jason. Kamu harus istirahat dan besok kembalilah kesini," ujarnya.


Dengan berat hati, Jessie menuruti perkataan mereka berdua untuk pulang.


***


Sepulang dari kantor, Melissa menyambut kedatanganku di teras depan. Begitu memasuki rumah, suasana sangat sepi.

__ADS_1


"Dimana anak-anak?" tanyaku.


"Mereka menjenguk Ardi ke RS," jawabnya sedih.


"Ardi sakit apa Sayang? Bukankah mereka berdua sudah putus?" tanyaku penasaran.


"Aku juga bingung, Jessie pernah mengatakan hubungan mereka berakhir. Namun ketika Ardi mengalami kecelakaan, Jessie bersikeras untuk berada di sampingnya," jelas Melissa.


Aku dan Melissa masuk ke kamar untuk mandi sebelum makan malam. Sambil menunggu Melissa yang mandi, tiba-tiba saja aku kepikiran dengan Jessie. Gadis itu selalu membuatku khawatir. "Mungkinkah Jessie masih mencintai Ardi?" tanyaku dalam hati.


Melissa sudah keluar dengan wajah yang lebih segar, dan tentu saja cantik seperti biasa. "Sayang aku mandi dulu," pamit ku pada istriku.


Didalam kamar mandi, aku masih saja memikirkan Jessie. Aku sangat takut Jessie salah melangkah. Walaupun Jason dan Jessie seumuran, Jason jauh lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Jessie seorang gadis yang manja dan lembut, tapi sedikit keras kepala. Daripada semakin pusing, aku mengguyur kepalaku dengan air dingin. Rasanya sangat segar. Setelah selesai aku keluar , istriku sudah sangat cantik dengan gaun kuningnya.


"Mas, ayo buruan turun. Mandi saja lama banget," gerutu Melissa di sampingku.


Kami berdua menuruni tangga menuju meja makan. Di meja makan hanya terlihat Jason duduk sendirian.


"Dimana Jessie?" tanyaku pada Jason.


"Aku sudah mengajaknya turun, tapi dia tetap tak mau makan," jawab Jason.


"Biar nanti Mama yang mengantarkan makanan ke atas," ucap Melissa.


"Setelah kita makan, biar Papa yang membawakan makanannya. Papa sedikit khawatir dengannya," ujarku.


Dan benar saja, setelah makan aku langsung menuju ke kamarnya, dengan membawa makanan yang sudah disiapkan oleh istriku.


"Jessie Sayang, Papa masuk ya..." ucapku dari balik pintu kamarnya.


Aku memasuki kamar anak gadisku, kulihat Jessie sedang duduk meringkuk di balkon kamarnya. Aku menjadi semakin khawatir dengan keadaannya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan disini bangun dan masuklah," ujarku sambil menggandengnya masuk.


"Papa... ini semua salahku. Kak Ardi menjadi seperti ini karena Jessie. Jessie yang bersalah," gadis itu semakin menangis memelukku.

__ADS_1


Aku begitu merasakan kesedihannya, air matanya seakan tak berhenti mengalir. Inilah yang menjadi ketakutanku. Ku harap Jessie bisa mengendalikan perasaannya. Dan tidak semakin terpuruk dengan rasa bersalahnya.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2