Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 115


__ADS_3

Jessie masih menyandarkan kepalanya di pundak Ardi, dia merasakan kebahagiaan yang tak terbayangkan ketika bersama kekasihnya. Ingin rasanya Jessie segera menjadi istri Ardi. Seolah Jessie seperti sudah tak sabar untuk hidup satu atap dengan lelaki itu.


Tanpa terasa hari sudah sore, Ardi turun dari ranjangnya dan mengambil ponselnya. Dia memesan makanan untuk makan malam mereka berdua. Jessie menjadi penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu. Dia pun berjalan menuju tempat Ardi berdiri dan memeluk lengannya. "Apa yang Kak Ardi lakukan?" tanyanya.


"Aku sedang memesan makanan. Setelah makan malam segeralah pulang, aku tak mau membuat keluargamu khawatir," jawabnya.


"Biarkan aku menemanimu malam ini," pinta Jessie.


Ardi memandang wajah cantik dihadapannya, lalu mengulas sedikit senyuman yang tulus. "Seorang gadis tak baik menginap bersama seorang lelaki. Aku tak mau orang menilai buruk dirimu," jelasnya.


Jessie seperti tak puas dengan jawaban lelaki itu, dia pun menarik Ardi ke dalam pelukannya. "Aku adalah tunanganmu, sepertinya orang-orang tak akan mempermasalahkannya," bisiknya di telinga Ardi.


Ardi merasa semakin gemas dengan gadis itu. Dia pun mencubit pipi Jessie dengan lembut, lalu mengecup bibirnya. "Gadis nakal," seru Ardi sambil menyentil keningnya.


Gadis itu menjadi cemberut dan sedikit kesal. Lalu beranjak dari tempatnya berdiri menuju sofa di ruang tengah. "Sepertinya Kak Ardi sudah tak mencintai Jessie lagi," protesnya.


Ardi menggelengkan kepalanya, dia tak mengerti dengan pola pikir gadis itu. Dia pun menyusul kekasihnya yang masih kesal dengan muka cemberutnya itu. "Karena aku sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu dari apapun. Termasuk menjagamu dari diriku sendiri. Kalau kamu menginap terus aku khilaf, bagaimana coba?" jelasnya.


Jessie memaksakan diri untuk mengerti maksud Ardi. Selesai makan malam, gadis itu benar-benar pulang ke rumahnya. Ardi mengantarkannya sampai tempat parkir, hingga ketika mobil itu sudah tak terlihat lagi dia baru masuk.


Sampai di rumahnya, Jessie langsung mencari papanya. Beberapa kali gadis itu mengetuk pintu kamar orangtuanya. "Papa! Jessie mau membicarakan hal yang sangat penting," serunya sedikit berteriak di depan pintu.

__ADS_1


Tak berapa lama David membuka pintu, dia tersenyum menatap anak gadisnya. Kemudian David merangkul pundak Jessie, dan mengajaknya masuk ke ruang kerjanya. "Apa yang ingin dibicarakan anak Papa yang cantik ini?" tanyanya sambil membelai rambut gadis itu.


"Jessie ingin segera menikah dengan Kak Ardi," jawabnya sangat yakin.


David sempat berpikir tidak-tidak, karena baginya ini terlalu mendadak baginya. Sebisa mungkin David bersikap tenang dan tak terbawa suasana. "Mengapa begitu mendadak? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanyanya cemas.


Jessie tak langsung menjawabnya, dia mencoba berpikir sejenak lalu menatap papanya dengan sedih. "Aku tak tega melihat Kak Ardi hidup sendirian, apalagi disaat sedang sakit begini. Jessie juga sangat kesal, Kak Ardi melarang Jessie menginap di apartemennya," ujarnya dengan wajah cemberut.


David langsung tersenyum mendengar alasan anak gadisnya. Ternyata apa yang dipikirkan oleh David memang benar. Ardi memang lelaki yang bertanggung jawab dan sangat mencintai Jessie. Apapun yang dilakukannya tak pernah merugikan Jessie. David semakin yakin akan menjadikan Ardi sebagai menantunya. "Baiklah, Papa setuju pernikahanmu dipercepat. Namun kamu harus meminta ijin Kakek kesayanganmu dulu, keputusan akhir ada di tangan Kakek Rudy," jelasnya.


Setelah mendapatkan dukungan dari papanya, Jessie menjadi lebih bersemangat lagi. Dia pun masuk ke kamarnya, dan membersihkan dirinya sebelum tidur. Namun walaupun malam semakin larut, gadis itu tak bisa memejamkan matanya. Dia mulai berangan-angan, membayangkan tentang sebuah pernikahan impiannya. Bahkan tanpa disadarinya, sebuah senyuman terukir indah di bibir cantiknya.


Esok harinya, matahari bersinar sangat cerah. Birunya cakrawala menjadikan pemandangan yang sangat indah. Jessie turun ke meja makan, untuk menikmati sarapannya. Tak berapa lama, datanglah David dan istrinya yang duduk disampingnya. Jessie senyum-senyum sendiri, membayangkan dirinya sendiri ketika sudah menikah. "Akankah aku menjadi pasangan romantis seperti Papa dan Mama?" ucapnya dalam hati.


"Sebelum ke kantor, nanti Papa akan mengantarmu menemui Kakek Rudy," sela David di tengah sarapannya.


Melissa tak mengerti dengan maksud perkataan suaminya. Karena semalam wanita itu sudah tertidur, ketika Jessie berbincang dengan David. Melissa pun memandang suaminya dengan banyak pertanyaan, seolah menginginkan sebuah jawaban. "Untuk urusan apa Jessie harus menemui Ayah Rudy?" tanyanya penasaran.


"Maaf, Sayang. Aku lupa memberitahumu. Jessie ingin mempercepat pernikahannya," jelas David dengan lembut.


"Apa! Apakah kamu sudah hamil, Jessie?" tanya Melissa dengan sangat cemas.

__ADS_1


Jessie tersenyum dengan aneh, dia tak menduga Melissa akan berpikiran seperti itu. Gadis itu meletakkan sendok di tangannya, lalu menatap mamanya dengan lembut. "Jangan sembarang, Ma! Jessie masih perawan kok," jawabnya kesal.


Melissa menunjukkan kelegaan dalam ekspresi wajahnya. Paling tidak apa yang dipikirkannya tidak terjadi. "Kalau begitu Mama akan ikut dengan kalian," balas Melissa.


Ayah dan anak itu saling menatap, mereka berdua saling melemparkan sebuah senyuman. Melihat ekspresi wajah mamanya, membuat gadis itu tersenyum senang. Apalagi David yang mendengar istrinya akan mau ikut, menjadi sangat semangat.


Beberapa menit perjalanan, sampailah di rumah besar dengan halaman yang luas milik Rudy. David langsung menemui ayahnya di ruang kerjanya. "Selamat pagi, Ayah," sapanya pada Rudy.


Rudy yang sedikit terkejut melihat kedatangan putranya, langsung menghentikan kesibukannya. "Tumben sekali pagi-pagi sudah sampai sini?" tanyanya sambil berjalan ke arah David.


"Aku datang bersama Jessie dan Melissa, ada hal penting yang ingin kami bicarakan," jelas David dengan sopan.


Rudy lalu berjalan keluar dari ruangan itu. "Ayo! Kita mengobrol di ruang tengah saja," ajaknya pada David.


Sampai di ruang tengah, seluruh keluarga sudah berkumpul. Begitu melihat Rudy, gadis itu langsung berlari memeluk kakeknya. Kemudian mereka berdua duduk saling berhadapan satu sama lain.


Dengan sedikit takut, Jessie memulai pembicaraan diantara mereka. "Kakek. Jessie ingin segera menikah dengan Kak Ardi, semoga Kakek menyetujui keinginan Jessie," ucap Jessie dengan sangat yakin.


Rudy menunjukkan ekspresi wajah yang sedikit terkejut. Lalu dia menatap cucu kesayangannya itu. "Apa yang membuatmu ingin segera menikah?" tanya Rudy dengan wajah dingin. Dia tak menyangka, Jessie ingin menikah sebelum bisnis yang dibangunnya menjadi berhasil.


"Sebentar lagi Jessie sudah lulus kuliah. Kondisi perusahaan juga sedang berkembang sangat pesat, walaupun belum berada di puncak keberhasilan. Namun selama ini, Kak Ardi sudah terlalu banyak berkorban untuk Jessie. Jadi Jessie berpikir, Kak Ardi sudah cukup pantas untuk menjadi pendamping hidup Jessie," jelas Jessie dengan hati yang sangat berdebar dan perasaan takut jika ditolak.

__ADS_1


Rudy tak langsung menjawabnya, dia memandangi Jessie yang terlihat sangat cemas dan gelisah. Ekspresi cemas juga terlukis jelas di wajah David dan Melissa. Mereka berdua ikut berdebar dalam keadaan seperti itu. Menunggu jawaban dari Rudy begitu menyesakkan bagi mereka semua. Seolah pasokan udara di ruangan itu semakin menipis.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2