Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Terjerat Pesona Danisha


__ADS_3

Jessie masih memandang Adam yang duduk bersama keluarganya. Rasa terkejut juga tak percaya mengusik ketenangan hatinya. Dengan perlahan tapi pasti, Jessie menghampiri meja dimana keluarganya berada. "Maafkan Jessie Om, Jessie harus ke toilet dulu," jelasnya pada teman bisnis Kakeknya.


Agung dan Adam memandang takjub ke wajah Jessie. Penampilannya sangat memukau lelaki yang memandangnya.


"Duduklah calon menantu Om," balas Agung dengan ramah.


Jessie duduk tepat di sebelah Adam. Dia merasa tak nyaman dengan suasana ini.


Adam terus memandangi Jessie tanpa berkedip. Jessie yang menyadari tatapan itu menjadi sedikit risih dengan lelaki disampingnya. "Apa kabar Pak Adam?" sapa Jessie basa basi.


Adam terlihat sedikit kecewa dengan kedatangan Jessie. Dia tak menyangka gadis yang menerima perjodohan ini adalah Jessie.


"Seperti yang kamu lihat Danisha, aku baik-baik saja," jawab Adam dingin.


Jessie semakin tak mengerti mengapa Adam yang biasanya ramah, berubah dingin dalam waktu singkat.


"Jadi kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Agung penasaran.


"Pak Adam adalah dosen saya di kampus," jawab Jessie.


"Tapi sebelumnya saya mohon maaf, adik Adam yang akan bertunangan dengan Jessie berhalangan hadir. Jadi saya meminta anak sulung saya Adam untuk menemaniku," jelas Agung sungkan.


Jessie kembali berpikir, "Jadi bukan Pak Adam yang dijodohkan denganku tapi adiknya," gumamnya dalam hati.


"Tak masalah Pak Agung, yang penting saat acara pertunangan anak bungsu anda harus hadir," balas Rudy.


Mereka semua begitu menikmati makan malam dengan obrolan yang menyenangkan. Jessie sesekali juga mengulas senyuman di bibirnya. Adam yang dari tadi melirik Jessie, menjadi semakin berdebar tak karuan. Dia merasakan perasaan tak biasa pada calon iparnya itu.


Selesai makan malam, keluarga Gunawan sudah kembali ke rumahnya. Agung dan anaknya masih dalam perjalanan menuju rumahnya.

__ADS_1


"Kenapa Papa tak mengatakan kalau gadis yang dijodohkan itu adalah Danisha?" tanya Adam dengan kekecewaan di hatinya.


"Apa maksudmu Adam?" bentak Papanya.


"Adam juga menyukai Danisha Pa, bahkan sejak Adam pertama kali melihatnya di kampus," jelasnya kesal.


Agung menjadi sedikit bingung dengan perkataan anak sulungnya. "Papa dan Pak Rudy sudah memutuskan untuk menjodohkan Jessie dengan adikmu. Keputusan itu juga sudah cukup lama kami rencanakan," jelasnya


"Papa selalu pilih kasih, dan selalu anak itu yang kalian bela," teriak Adam lalu keluar dari mobil kemudian masuk ke rumahnya.


Agung menjadi semakin bingung dengan perjodohan itu. Dari awal memang Agung menjodohkan Jessie dengan anak bungsunya, sesuai permintaan Rudy. Karena kalau dengan Adam usia mereka terlampau jauh. Jarak usia Jessie dan Adam adalah 10 tahun.


Sampai di rumah Jessie langsung tiduran di sofa ruang tengah. Kebetulan Rudy mampir ke rumah cucunya. Jessie kemudian duduk di samping Kakeknya. "Jessie kira Pak Adam adalah lelaki itu," ucapnya lirih di samping Rudy.


"Apa gadis cantik ini lebih menyukai Adam?" tanya Rudy.


Jessie senyum-senyum mendengar pertanyaan itu. "Gadis cantik ini belum tahu siapa calon tunangannya," jawabnya dengan tatapan menggoda.


Setelah malam semakin larut, Rudy berpamitan untuk pulang. Kemudian Jessie dan Melissa kembali ke kamar mereka masing-masing. Di kamarnya, Jessie menjadi penasaran tentang calon tunangannya.


"Mungkinkah wajahnya akan semirip Pak Adam?" tanya Jessie pada dirinya sendiri.


Paling tidak kalau wajahnya seperti Adam, berarti lelaki yang akan menjadi tunangannya pasti seseorang yang tampan. Secara Adam saja ketampanannya di atas rata-rata, bagaimana dengan adiknya? Jessie tanpa sadar tersenyum membayangkannya.


Mentari pagi semakin meninggi. Walaupun tak terdengar suara kicauan burung, pagi itu pasti sangat indah. Langit yang cerah, udara yang segar begitu menyilaukan hati. Hari baru akan segera dimulai.


Jessie berangkat ke kampus di antar oleh sopir keluarganya. Sampai di halaman kampus, Lusia sahabat Jessie memandangnya dengan heran. "Tumben banget tuh anak diantar oleh sopir," gumam Lusia sambil terus melihat ke arah Jessie.


Lusia langsung menghampiri Jessie yang baru turun dari mobilnya. "Emang mobilmu dimana?" tanya Lusia penasaran.

__ADS_1


"Kemarin aku pulang bersama Papa, mobilnya jadi masih di kantor," jawab Jessie.


"Ayo buruan masuk kelas sebelum Dosen datang," ajak Lusia sambil menarik tangan Jessie.


Jessie dan Lusia memasuki kelas tepat disaat Dosen yang mengajar sampai di depan pintu. Jessie menatap canggung pada Dosen yang akan menjadi calon Kakak iparnya itu. Selama kelas berlangsung, beberapa kali Adam mencuri pandang ke arah Jessie. Lelaki itu begitu terpesona, dengan kecantikan gadis yang akan bertunangan dengan adiknya itu. Entah sihir semacam apa yang Jessie lakukan, hingga Adam semakin menyukainya. Setelah kelas selesai, Adam dengan sengaja menyuruh Jessie membawakan beberapa bukunya.


"Danisha, tolong bantu saya membawa buku-buku ini," pinta Adam pada gadis itu.


"Baik Pak." Jessie pun berjalan mengikuti Adam di belakangnya.


Sampai di ruangannya, Jessie menaruh semua buku di atas meja lalu pamit pergi.


"Tunggu Danisha!" seru Adam.


Mendengar panggilan dari Adam, Jessie langsung menghentikan langkahnya. "Ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" tanyanya sopan.


"Saya merasa sangat penasaran dengan keputusanmu menerima perjodohan itu. Bagaimana kamu bisa seyakin itu menerima pertunanganmu, bahkan kamu belum pernah berjumpa dengan adikku?" tanyanya dengan nada yang serius.


Jessie sedikit mengulas senyuman cantik di wajahnya. "Karena saya percaya, Kakek saya pasti memilihkan jodoh yang terbaik bagi saya," jawabnya.


Jessie pun pamit undur diri dari hadapan Dosen yang mengajarnya. Adam masih belum mengerti dengan pemikiran anak didiknya itu. Jessie yang sangat cantik bagi dimata semua orang, begitu mudahnya menerima perjodohan itu. Adam berpikir bahwa itu sedikit aneh, mengingat keluarga Gunawan adalah konglomerat yang cukup terkenal. "Apa yang membuat keluarga Gunawan lebih tertarik dengan adikku?" tanyanya dalam hati.


"Bahkan karirku jauh lebih mapan dari bocah itu," gumam Adam dalam rasa ketidakpercayaannya.


Setiap kali memikirkan hal itu, kepala Adam mendadak sangat pusing. Seolah dia tak dapat menerima perjodohan Jessie dengan adiknya. Adam merasa dirinyalah yang lebih pantas mendampingi wanita cantik dan terhormat seperti Danisha Jessie Gunawan. Seolah nama Danisha telah terukir di dalam hatinya. Nama itu selalu terngiang di telinganya. Mengusik ketentraman hatinya, bahkan bayangan Jessie selalu menari indah di depan matanya.


Adam sendiri juga tak mengerti, perasaan apa yang sudah tersimpan untuk gadis cantik itu. Pesona seorang Jessie berhasil menyihir sosok dingin seperti Adam. Seolah hati yang bagaikan salju abadi telah meleleh dan mencair. Jessie adalah wanita pertama yang berhasil menaklukkan Adam selama dia mengajar di kampus. Berbagai macam wanita sudah ditolak oleh Adam. Namun sekarang, tanpa Jessie melakukan apapun Adam sudah terjerat olehnya.


"Danisha... Aku jatuh cinta padamu," ucap Adam lirih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2