
Adam memandangi Jessie yang sedang duduk bersama sahabatnya di taman depan gedung kampus. Sejenak dia memikirkan keegoisannya, ketika ingin merebut Jessie dari adik kandungnya. Adam sangat menyadari, memperebutkan seorang wanita adalah hal yang sangat gila. Baru kali ini dia menyukai seorang gadis hingga membutakan matanya. Biasanya Adam hanya menjalin hubungan tanpa adanya keseriusan. Setiap kali bosan, dia akan meninggalkan gadis yang dikencaninya. Sekarang, seolah karma sedang membalas tingkahnya di masa lalu. Disaat Adam dengan yakin dan sangat serius mencintai seorang gadis, dia malah mendapati gadis itu menjadi tunangan adik kandungnya. Seperti mendapatkan tamparan yang mematikan dan menghancurkan hatinya. Seakan Adam ingin seluruh dunia hancur bersamanya.
"Pak Adam!" panggil seseorang yang berdiri di belakangnya.
Suara lelaki yang memanggilnya itu, telah berhasil membuyarkan lamunannya. Adam langsung membalikan badannya, dan menatap seorang yang sedang berdiri menghadapnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Roni?" tanyanya dengan ramah.
"Anda diberikan tugas untuk mendampingi beberapa mahasiswa yang akan melakukan studi banding di Universitas Negeri Semarang. Akan ada beberapa staff dan Dosen yang juga mendampingi mereka," jelas Roni.
"Kapan seluruh rombongan akan berangkat?" tanya Adam.
"Sepertinya awal minggu depan," jawabnya.
Setelah mendapatkan informasi untuk studi banding, Adam pun menjadi penasaran siapa saja yang akan berangkat. Lelaki itu mendatangi pusat informasi kampusnya, dia meminta daftar nama mahasiswa yang mengikuti studi banding ke Semarang. Dari 25 mahasiswa, ada seorang yang begitu menarik perhatiannya. "Danisha Jessie Gunawan, kita akan kembali bersama," gumamnya dengan senyuman yang sulit diartikan.
Setelah menjemput Jessie dari kampus, Ardi mengajak gadis itu untuk makan siang di sebuah restoran. Mereka berdua akhirnya mendatangi Mel'S Cafe milik Papa Jessie. Sudah lama sekali Jessie dan keluarganya tak mendatangi cafe itu. Apalagi setelah cafe itu dipegang oleh karyawan kepercayaan David. Begitu Jessie masuk ke dalam cafe, seluruh karyawan menyambut kedatangannya dengan ramah. Jessie dan Ardi duduk di meja dekat kasir, sambil mengamati cara kerja karyawan Papanya. Menu yang dipesan akhirnya datang. Sambil makan mereka berdua juga mengobrol.
"Sepertinya awal minggu depan, Jessie akan mengikuti studi banding ke Semarang," ucap Jessie sambil sesekali menatap Ardi.
Ardi menatap Jessie sambil mengerutkan keningnya. "Berapa hari akan disana?" tanyanya.
Jessie meletakkan sendoknya, lalu meminum air putih di atas meja. "Belum tahu juga, pemberitahuan resminya akan menyusul sebelum berangkat," jelasnya.
__ADS_1
Seolah Ardi merasakan tak rela jika Jessie harus ke luar kota tanpa dirinya. Mendadak kekhawatirannya terhadap gadis itu membuat dia cemas. Jiwa posesif lelaki itu kembali bergejolak, ingin menguasai gadis kesayangannya. "Apakah aku boleh ikut denganmu?" tanya Ardi ragu.
Jessie justru tertawa mendengar pertanyaan Ardi. Dia menertawakan sikap Ardi yang sedikit berlebihan. "Kak! Jessie bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagian Lusia juga ikut studi banding," ujarnya.
Lelaki itu sedikit tenang, setelah mendengar sahabat Jessie juga ikut studi banding. Kekhawatirannya pun menjadi berkurang, namun tetap saja dalam hatinya ada rasa tidak rela.
"Kak. Tunggu disini sebentar, aku ingin mengobrol dengan Manager cafe." Jessie beranjak menghampiri seseorang yang sedang berbincang dengan bartender.
"Apa kabar, Pak Adi? Lama sekali saya tidak berkunjung ke sini," sapa Jessie dengan sangat ramah.
"Kabar baik, Nona Jessie. Kami semua sudah rindu wajah cantik Nona," jawab Adi dengan sopan.
Jessie terkekeh mendengar panggilan 'Nona' di telinganya. Lalu dia tersenyum lembut memandang lelaki setengah baya itu. "Sudah aku katakan dari dulu, panggil saja aku 'Jessie' seperti sebelumnya." Mereka semua akhirnya tersenyum lega. Karena mereka sempat berpikir, Jessie berubah menjadi gadis yang sangat dingin.
"Pak Ardi! Makan siang disini juga?" sapa wanita itu basa-basi.
Ardi tersenyum simpul melihat kedatangan wanita itu. "Sendirian saja, Bu Anna?" tanya Ardi dengan sopan.
"Boleh saya duduk disini, sambil menunggu teman saya?" tanyanya dengan tatapan menggoda Ardi.
"Mohon maaf sebelumnya, saya harus segera kembali ke kantor." Ardi langsung beranjak dari kursinya dan menuju ke kasir.
__ADS_1
Kepergian Ardi membuat Anna sedikit kesal. Beberapa kali dia berusaha mendekati lelaki itu, tetapi selalu saja tak berhasil. Apalagi sekarang melihat Ardi menghampiri seorang wanita di depan bar, Anna seperti kebakaran jenggot. Dia tak terima jika terus diacuhkan oleh lelaki yang menarik hatinya. Dengan sangat kecewa, dia duduk sendiri menunggu temannya.
Didalam mobil, Ardi tak menjelaskan apapun tentang wanita di cafe tadi. Jessie hanya bisa menahan rasa penasarannya, sebelum tunangannya menceritakannya sendiri. Gadis itu tak mau memaksa Ardi membicarakan sesuatu yang tak ingin dikatakannya.
Ardi bisa membaca pikiran Jessie, yang sedang risau karena melihat seorang wanita mendekatinya. Lelaki itu menggenggam tangan Jessie, sambil terus konsentrasi menyetir mobilnya.
Ingin rasanya Ardi mengatakan yang sebenarnya, namun terlalu berat baginya. Lelaki itu takut bila Jessie menjadi sedih karena mencemaskan dirinya. Setelah sampai di kantor, Ardi membawa Jessie ke ruangannya. Dia bermaksud menjelaskan semuanya.
Setelah Jessie duduk, Ardi pun ikut duduk disampingnya. "Wanita tadi adalah Anna, salah satu rekan bisnis kita," jelas Ardi memulai pembicaraan.
Jessie menatap lelaki itu dengan sangat cemas. "Apakah Kak Ardi tak menyadari tatapan aneh wanita itu?" tanyanya.
Ardi mengulas senyuman lembut pada kekasihnya itu. "Sebenarnya aku tahu, beberapa kali dia berusaha untuk menggodaku. Namun selalu saja aku terus mengacuhkannya," ujar Ardi dengan sangat tenang.
"Yang penting Kak Ardi hanya perlu mencintaiku saja, tak peduli berapa wanita yang mencoba menggodamu," ucap Jessie dengan senyuman yang tulus.
"Terimakasih, Sayang. Kamu selalu percaya kepadaku," balas Ardi lalu mengecup kening Jessie dengan lembut.
Sebenarnya di dalam hati Jessie, dia merasakan kecemburuan yang membara. Dari pertama dia melihat Anna datang ke kantornya, Jessie sudah merasakan percikan api kecemburuan yang membakar hatinya. Cara menatap Anna kepada Ardi sangatlah jelas, wanita itu ingin memiliki Ardi. Namun Jessie mencoba menahan kecemburuan yang terus membakar hatinya. Jessie tak ingin membebani Ardi dengan hal-hal yang tidak penting. Karena Jessie sangat tahu, bagaimana perjuangan lelaki itu untuk terus bersamanya. Ardi harus berjuang mati-matian, agar pantas bersanding dengannya. Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, membuat Jessie tak sadar telah menumpahkan air matanya.
Begitu Ardi menyadari air mata Jessie, dia langsung memeluknya. "Sayang. Maafkan aku jika telah melukai hatimu," ucap Ardi dalam rasa bersalah.
__ADS_1
Jessie memaksakan untuk tersenyum setulus mungkin. Dia menyentuh pipi Ardi dengan sangat lembut. "Aku sangat bahagia memiliki Kak Ardi disampingku. Hingga rasanya aku ingin terus menangis karena bahagia," jelasnya.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰