Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Chapter 119


__ADS_3

Padatnya jalanan di pagi hari, membuat kesal seorang gadis yang duduk di belakang kemudinya. Pagi ini Jessie langsung datang ke kantor, karena tak ada kuliah di kelasnya. Terlalu lama berada di jalanan, Jessie merasa kesal dan juga lelah yang datang bersamaan.


Sampai di kantornya, Jessie langsung meminum sebotol minuman dingin hingga tak bersisa. Ardi hanya melihat kekasihnya itu langsung tersenyum dan menghampirinya.


"Tumben pagi-pagi sudah terlihat sangat lelah, Sayang?" tanya Ardi.


Jessie mendengus kesal karena sudah terlalu stress berada di jalanan tadi. "Di pagi hari jalan menuju kantor terlalu macet, membuatku sedikit frustasi," gerutunya dengan cemberut.


Ardi membelai rambutnya, dan menatapnya dengan lembut. "Jangan marah-marah, Sayang. Kasihan wajah cantikmu, harus bersembunyi di belakang kemarahannya," godanya. Kemudian Ardi merangkul pundak Jessie dan membawanya ke mini cafe di lantai atas. Lelaki itu meminta pegawai cafe membuatkan chamomile tea untuk Jessie. Ardi membawa dua cangkir di tangannya, lalu memberikan salah satunya pada Jessie. "Secangkir chamomile tea siap untuk menenangkan hatimu, Sayang," godanya dengan senyuman yang cukup menggoda.


Jessie akhirnya tersenyum juga. Dengan melihat wajah Ardi yang sangat menenangkan, gadis itu selalu merasa lebih baik. "Terimakasih, Kak. Kamu selalu membuatku merasa nyaman," balasnya.


Gadis itu pamit untuk ke toilet yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Tak berapa lama ponsel Jessie berdering, Ardi langsung menatap ponsel yang tergeletak di meja. "Tak ada nama," gumamnya. Ardi tak ingin mengangkatnya, karena Ardi sangat menghargai privasi Jessie.


Sampai terdengar dering beberapa kali, panggilan itu berhenti. Ardi sebenarnya cukup penasaran, namun berusaha untuk menahan dirinya. Sampai tak lama kemudian Jessie sudah datang. Gadis itu menangkap tatapan aneh dari kekasihnya. Jessie pun duduk di sebelah Ardi.


"Ada apa dengan tatapan mata itu?" tanya Jessie penasaran.


"Tadi ada telepon di ponselmu," jawabnya sedikit dingin.

__ADS_1


"Mengapa Kak Ardi tak menjawabnya? tanya Jessie sambil memeriksa panggilan di ponselnya.


Jessie merasa tak mengenal nomor asing itu. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru masuk.


Jessie. Aku ingin kamu membayar kerugianku. Anton.


Ekspresi wajah Jessie mendadak berubah, begitu tahu siapa yang berusaha menghubunginya tadi. Gadis itu itu menatap Ardi dengan cemas, karena Jessie belum bercerita tentang kejadian pagi kemarin. Dengan sedikit ragu, Jessie mencoba menceritakan kejadian kemarin pada Ardi. "Kak. Ternyata ini nomor Anton. Dia mengirimkan pesan ini." Jessie memperlihatkan isi pesan Anton pada kekasihnya.


Ardi mengerutkan keningnya melihat pesan itu. Dia sama sekali tak tahu, apa yang dimaksudkan oleh Anton. Lelaki itu pun memandang kekasihnya dengan tatapan penuh pertanyaan. "Kerugian apa yang dimaksud oleh Anton?" tanyanya.


"Aku lupa menceritakannya pada Kak Ardi. Sebenarnya kemarin, tanpa sengaja aku menyenggol sebuah mobil saat berangkat kuliah. Ternyata pengemudi mobil itu adalah Anton. Karena sedang terburu-buru, aku meninggalkan kartu namaku padanya. Aku berjanji akan mengganti biaya perbaikan mobilnya," jelas Jessie dengan perasaan yang tak menentu.


Jessie pun membalas pesan Anton, dia menyuruh lelaki itu datang ke kantornya. Setelah menghabiskan minumannya, pasangan itu kembali ke ruangannya. Ardi memiliki jadwal meeting dengan beberapa investor, sedangkan Jessie akan meeting dengan divisi pemasaran. Selesai meeting Jessie mengistirahatkan tubuhnya di sofa besar di ruangannya. Belum ada setengah jam, sekretarisnya memberitahu kalau ada tamu yang sedang menunggunya.


Dengan terpaksa Jessie mencoba bangkit lalu berdiri. Kemudian gadis itu berjalan menuju ruang tamu di dekat lobby depan. Sampai di ruangan itu, Jessie mengerutkan keningnya melihat lelaki yang duduk santai di kursi. Dia pun berdiri di samping orang itu. "Berapa nomor rekening mu? Aku akan meminta sekretaris ku mentransfernya sekarang," ucap Jessie tanpa basa-basi.


Anton langsung memandang Jessie dengan tatapan yang sulit diartikan. Lelaki itu tersenyum menyeringai tanpa alasan. "Jessie oh Jessie. Kamu terlalu merendahkan diriku. Aku tak butuh uangmu. Aku hanya ingin kamu membayarnya dengan makan malam bersamaku. Ku rasa itu sudah lebih dari cukup," balas dengan tatapan yang semakin aneh.


"Apa-apaan kamu, Anton?" seru Jessie dengan kesal.

__ADS_1


"Tenanglah, Jessie. Apa kamu lebih memilih membawa kasus ini ke jalur hukum? Aku bisa memberikan tuduhan tabrak lari misalnya." Anton sengaja menciutkan nyali Jessie. Karena biasanya, perempuan itu paling tidak mau jika harus berurusan dengan polisi.


Jessie terdiam untuk sejenak, dia terlalu bingung harus menjawab apa. "Okay. Just dinner not more!" balas Jessie dengan ragu.


"Sampai bertemu nanti malam, aku akan mengirimkan alamatnya nanti," ucap Anton sebelum meninggalkan Jessie sendirian di ruangan itu.


Jessie terlalu bingung, bagaimana dia akan menjelaskan semuanya pada Ardi. Keinginan Anton benar-benar sangat merepotkannya. Sesungguhnya Jessie merasa sangat tak rela jika harus makan malam berdua saja dengan Anton. Namun dia tak punya pilihan lain, daripada ribet berurusan dengan polisi. Jessie hanya bisa berharap, Ardi akan mengijinkannya.


Meninggalkan ruangan itu, Jessie beralih masuk ke ruangannya sendiri. Ardi sudah duduk untuk menunggunya. Jessie langsung menghampiri Ardi dan memeluknya. Dia masih saja diam tanpa mengatakan apapun.


"Ada apa ini, datang-datang langsung peluk-peluk?" goda Ardi pada kekasihnya. Sebenarnya Ardi sudah tahu, kalau Jessie baru saja bertemu dengan Anton. Karena tadi sekretaris Jessie mengatakan keberadaannya pada Ardi.


Jessie menengadahkan kepalanya, sambil terus memeluk Ardi. "Anton tak mau dibayar pakai uang. Dia meminta aku menemaninya makan malam," keluhnya dengan sedih.


Ardi sudah menduga sebelumnya, Anton pasti meminta sesuatu yang tak seharusnya. Rasanya hati Ardi sudah terbakar dengan amarah. Andai saja hukum itu tak pernah ada, pasti Ardi sudah melenyapkan Anton sejak dulu. Namun Ardi hanya bisa menahan kemarahannya. Dia tak ingin membuat kekasihnya semakin khawatir. Meskipun tidak rela, Ardi harus membiarkan Jessie makan malam dengan lelaki lain. Walaupun rasanya sangat berat, namun hanya itulah satu-satunya jalan untuk membayar sedikit kesalahannya. "Nanti malam aku akan mengantar dan menjemput mu. Setelah makan malam, kamu bisa mengirim pesan untukku," ucap Ardi dengan sangat lembut.


"Kak Ardi tak marah?" tanya Jessie dengan rasa bersalah.


Ardi tersenyum tulus, dan mengelus rambutnya. "Bagaimana aku bisa marah padamu? Aku percaya kamu, Sayang," jawab Ardi dengan nada yang lembut. Ardi merasakan kegelisahan di dalam hatinya. Dia tak bisa membayangkan kekasihnya akan bersama lelaki lain. Hanya membayangkan saja hatinya sudah mau meledak, apalagi jika harus melihatnya nanti.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2