
Tibalah saatnya dimana Jessie akan bertunangan dengan lelaki pilihan Kakeknya. Jessie masih duduk di kamar tamu dengan 2 orang makeup artist. Kanaya dan Lusia sahabatnya, juga menemaninya di ruangan itu. Dari sorot matanya, Jessie terlihat gelisah dan tidak tenang. Kanaya yang menangkap kegelisahan Jessie, mendekatinya dan menggenggam jemari tangannya.
"Tenangkan hatimu, semua akan berjalan lancar," ucap Kanaya lembut.
"Jangan panik dong Jess! Kau membuatku ikut panik melihatmu," seru Lusia dengan nada menggoda.
Jessie menarik nafas dalam-dalam, lalu sehingga merasa lebih tenang. "Aku benar-benar sangat gugup dan sedikit takut," ucapnya lirih.
Kanaya terus memberikan nasehat yang bijak untuk calon adik iparnya itu. Dia ingin membuat Jessie lebih rileks dan nyaman.
Di ruang tamu, seluruh keluarga telah berkumpul dan bersiap menunggu calon besan. Segala sesuatu terlah tersusun dengan sangat cantik. Dekorasi ruangan juga sangat indah dengan berbagai macam warna bunga. Seluruh petugas catering juga sudah bersiap dengan berbagai hidangan di halaman samping rumah.
Setelah selesai dengan makeup dan pakaiannya, Jessie keluar dari kamarnya. Lalu berjalan menyusul seluruh keluarganya, diikuti oleh Kanaya dan Lusia dibelakangnya.
Rudy langsung tersenyum menatap cucunya yang sangat cantik memakai kebaya warna peach. "Gadis kecil ini sudah berubah menjadi perempuan yang sangat cantik," puji Rudy sambil menggenggam tangan Jessie.
"Kakek bisa aja," jawab Jessie malu-malu.
Tak lama setelah itu, beberapa mobil mulai memasuki halaman depan rumah besar itu. Agung keluar bersama Adam dan keluarga besarnya.
"Selamat datang Pak Agung. Dimana anak bungsu anda?" tanya Rudy sambil melihat sekeliling untuk mencari calon tunangan cucunya.
"Mohon maaf Pak Rudy, sebentar lagi anak itu akan menyusul. Karena kami berangkat dari rumah yang berbeda.
"Kalau begitu kita tunggu sebentar, sebelum acara dimulai," balas Rudy.
Setelah menunggu 30 menit, orang yang sedang ditunggu sama sekali belum kelihatan. Jessie mulai gelisah dan bingung. Dia takut calon tunangannya tidak datang, seperti acara makan malam kemarin. Gadis itu mendekati Kakeknya yang berdiri bersama beberapa keluarga dan tamu.
__ADS_1
"Kakek, bagaimana kalau calon tunanganku tidak datang?" tanya Jessie lirih.
Tidak jauh dari tempat Rudy berdiri, Adam mendengar sangat jelas ucapan Jessie walaupun sangat lirih. Lelaki itu pun mendekati Rudy dan Jessie dengan tatapan mata yang sangat serius.
"Jika adikku sampai tak datang, aku siap menggantikan posisinya menjadi tunangan Jessie," ucapnya dengan tenang.
Agung yang mendengar perkataan anaknya, langsung menarik Adam. "Apa-apaan kamu Adam?" tanya Agung dengan amarah.
"Papa sangat tahu, Adam juga mencintai Jessie. Adam siap menggantikan bocah manja itu," seru Adam.
Seluruh orang dalam ruangan itu langsung memandang Adam dengan banyak pertanyaan yang tersirat. Mereka semua menjadi semakin bingung, siapa yang sebenarnya akan bertunangan dengan Jessie. Rudy yang bingung dengan ucapan Adam, langsung mendekati Agung dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Pak Agung! Apa maksud dari perkataan Adam? Saya menjadi semakin bingung dengan semua ini," ujar Rudy.
Agung terlihat sangat menyesali perkataan anak sulungnya itu. "Maafkan saya Pak Rudy. Saya juga tak mengira jika Adam telah jatuh cinta pada cucu Anda juga," jelas Agung dengan penuh penyesalan.
"Tenanglah Melissa, kita tunggu sebentar lagi. Jika 30 menit lagi anak bungsu Agung tidak datang, Ayah akan menyerahkan keputusan ini pada Jessie," jelas Rudy dengan lembut.
Rudy menatap Jessie yang sedang dipeluk oleh David anaknya. Terlihat jelas Jessie merasakan kegundahan dalam dirinya. Rudy menjadi ikut resah melihat cucunya itu.
Menyadari kalau Kakeknya terus saja menatapnya, Jessie berjalan mendekati Rudy. "Kakek. Seandainya calon tunanganku tidak datang, aku tidak masalah jika harus bertunangan dengan Pak Adam," ucapnya ragu.
"Apa maksudmu cucuku Sayang? Jangan mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang membuat hatimu terluka," balas Rudy.
Rudy menyuruh Agung menghubungi anaknya itu. Namun sudah berulangkali melakukan panggilan, tak ada jawaban sama sekali. Begitupun istrinya, yang tadi berangkat bersama anak bungsunya juga tak bisa dihubungi. Seluruh isi ruangan mendadak panik. Terlebih Jessie, dia terlihat murung dan duduk di kursi yang berada di sudut ruangan itu.
Jessie mulai memikirkan tentang keputusannya jika akan bertunangan dengan Dosennya sendiri. Walaupun Jessie tidak yakin dengan keputusan itu, namun dia tak ingin mempermalukan keluarganya dengan batalnya acara pertunangan itu. Dia harus merelakan dirinya untuk menyelamatkan nama baik keluarganya.
__ADS_1
30 menit sudah berlalu, lelaki itu juga tak kunjung datang. Jessie berjalan pelan menghampiri Papanya, dan mengatakan kalau dirinya tak masalah jika harus bertunangan dengan Dosennya sendiri. Namun Papanya berkata semua keputusan ada di tangan Kakeknya Rudy.
Jessie mencoba menghimpun seluruh kekuatan dalam dirinya, lalu menemui Rudy. "Kakek! Kita mulai saja acara pertunangan ini. Dengan siapa Jessie bertunangan itu akan terasa sama. Kita sama-sama baru saling mengenal," ujar gadis itu.
"Apa kamu yakin Sayang?" tanya Rudy pada Jessie.
Akhirnya setelah melakukan perbincangan singkat antara Agung dan Rudy, mereka pun terpaksa merelakan Jessie bertunangan dengan Adam. Sebenarnya dalam hati Rudy merasakan kekecewaan yang sangat besar. Dia kecewa lelaki yang dipilihnya untuk mendampingi Jessie justru tidak hadir di malam pertunangannya. Lelaki itu terlalu meremehkan dirinya dan tak menghargai perasaan Jessie.
Dihadapan semua orang, Jessie dan Adam berdiri menghadap para tamu undangan. Mereka akan segera meresmikan hubungan pertunangan itu. Tiba saatnya ketika mereka berdua akan saling memakaikan cincin tunangan. Namun tiba-tiba saja seorang lelaki berlari, dengan pakaian yang sedikit berantakan.
"Hentikan Jessie!" teriak seorang lelaki yang baru saja datang.
Seluruh pasang mata memandang ke arah suara itu. Jessie pun tak percaya dengan kehadiran lelaki yang baru saja datang.
"Kak Ardi," ucapnya lirih.
Jessie langsung berlari dan memeluk Ardi di hadapan semua orang. Dia menangis antara haru dan bahagia yang melebur menjadi satu. Ardi juga memeluk gadis itu dengan sangat erat. Semua orang banyak yang bertanya tentang hubungan mereka berdua.
Adam yang masih berdiri sambil memegang cincin, juga semakin bingung dengan pemandangan itu. "Bagaimana Jessie bisa mengenal Ardi?" gumamnya lirih.
"Maafkan aku Jessie. Aku telah membuatmu menunggu terlalu lama," kata Ardi dengan air mata yang terus menetes.
Rudy akhirnya tersenyum lega melihat pemandangan yang sangat mengharukan itu. Tidak sedikit dari mereka yang ikut meneteskan air matanya, karena terharu dengan pertemuan mereka.
Agung yang melihat pemandangan itu sedikit bingung. Dia tak menyangka kalau Ardi dan Jessie sudah memiliki hubungan sedekat itu.
Melissa dan Suaminya terlihat tersenyum bahagia, melihat Jessie bertemu dengan lelaki yang dinantikannya. Mereka berdua tak menyangka, kalau Ardi adalah lelaki yang dijodohkan untuk Jessie.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰