
Setelah 1 minggu menjalani perawatan di RS, akhirnya hari ini sudah dibolehkan untuk pulang. Melissa mengurus seluruh administrasi yang harus di selesaikan sebelum pulang. 15 menit kemudian, istriku datang dengan membawa map besar hasil Rontgen dan tas berisi obat-obatan dan keperluan lainnya. Melissa mendorong kursi roda yang aku pakai sampai lobby RS. Dan petugas jaga membantuku masuk ke mobil. Kebetulan hari ini Pak Heri sopir pribadi keluarga yang menjemput.
" Mas, untuk sementara Ayah dan Ibu meminta Jason & Jessie tinggal dengan mereka. Agar aku bisa fokus mengurusmu," terangnya.
" Gimana baiknya saja Sayang. sekarang aku cuma bisa merepotkanmu saja," jawabku.
" Jangan pernah mengatakan itu lagi Mas. Secara tak langsung sudah menyalahkan dan menyakiti hatiku." Mata Melissa terlihat berkaca-kaca.
" Maafkan aku Sayang, Mas tak punya maksud seperti itu," ucapku dengan rasa bersalah, karena tak sengaja melukainya.
Aku hanya bisa memeluknya, dalam keadaan ini aku merasa sangat lemah. Aku harus selalu bergantung pada istriku. Padahal proses pemulihan membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa 12 Minggu lebih. Mungkinkah 12 Minggu akan berjalan dengan baik atau malah sebaliknya. Ku takut untuk memikirkannya. Mungkin Melissa sangat kecewa dengan perkataanku, itu sangat terlihat dari tatapannya. Sampai di depan rumah, Pak Heri membantuku duduk di kursi roda.
" Biar saya yang mendorongnya Pak," ucap Melissa pada sopir pribadinya.
" Baik Nyonya," jawabnya.
Melissa mendorongku ke kamar utama di lantai bawah. Kemudian dia membantu mendudukkan ku di atas ranjang.
__ADS_1
" Beristirahatlah," ucapnya singkat.
Sebelum Melissa beranjak dari sampingku, kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Segala rasa sakit di kakiku seakan menghilang. Ku cium bibirnya dengan lembut, tak terbayangkan betapa bahagianya aku memilikinya. Menumpahkan segala rasa yang tertahan di dalam dadaku.
" Sayang, aku sangat merindukanmu. Jangan tinggalkan aku sendiri." Tanpa sadar air mata itu meleleh di pipiku, entah itu air mata kebahagiaan atau kesedihan.
Melissa memandangku, lalu diusapnya air mata yang sudah mengalir di pipiku.
" Aku sangat mencintaimu Mas, apapun keadaanmu," jawabnya dengan senyuman yang sangat kurindukan.
Ketika ku terbangun, Melissa masih tertidur di pelukanku. Aku mencoba membangunkannya, dengan mengelus kepalanya.
" Sayang bangunlah, sudah waktunya makan malam," ucapku lirih di telinganya.
" Ya ampun Mas, aku tertidur begitu lama. Aku akan memandikanmu dulu." Melissa terlihat kaget dan langsung melihat jam di tangannya.
Ucapan Melissa terdengar seperti sedang menggodaku. Dia menyiapkan air hangat dan handuk basah untuk membersihkan tubuhku. Saat Melissa melepaskan seluruh pakaianku, seluruh tubuhku tegang. Hatiku semakin berdebar, jantungku pun berdegup dengan kencang. Benar-benar membingungkan, bagaimana rasanya seperti pengantin baru. Seakan ini adalah malam pertama bagiku. Saat Melissa mulai membersihkan seluruh tubuhku, jiwaku seolah sudah melayang bahkan mungkin saja menghilang.
__ADS_1
" Mas, mengapa terlihat sangat tegang? Wajahmu memerah seperti itu." Melissa tersenyum sambil terus menggodaku.
Suara Melissa menggugah jiwaku yang terbang melayang-layang. Sudah tak dapat lagi aku menahan kegelisahan yang bergejolak di dalam diriku.
" Sayang, aku sudah tidak bisa menahannya." Aku merengek seperti anak kecil yang ingin permen.
" Apa!! Tapi kakimu sedang sakit," jelasnya dengan nada tidak percaya.
" Tolong Sayang," ucapku dengan sangat memohon.
Melissa terlihat sedang berpikir. Pandangan matanya terasa sangat mengasihani ku.
" Kita bisa lakukan dengan cara lainnya," ucapnya.
Malam itu Melissa benar-benar membuatku melepaskan hasrat yang sudah tertahan. Dia melakukannya dengan " cara lain " yang disebutkan sebelumnya.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰
__ADS_1