Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Dimana Ardi?


__ADS_3

3 tahun berlalu, Jessie menjalani hidup tanpa Ardi. Entah dia sudah melupakannya, atau dia mencoba seolah-olah telah lupa. Setelah lulus SMA, Jessie kuliah Manajemen Bisnis sedangkan Jason kuliah Kedokteran bersama kekasihnya. Hubungan Jason juga semakin serius, bahkan bulan depan mereka berdua akan bertunangan. Kisah cinta Jason memang semulus jalan tol, tak pernah ada batu yang menghalangi jalan mereka. Sedangkan Jessie... Kisah cinta pertamanya berakhir sangat memilukan. Bahkan sampai sekarang Jessie tak pernah terlihat memiliki hubungan dekat dengan lelaki manapun. Mungkin karena trauma atau mungkin karena penantian yang tak kunjung datang.


Jessie disibukkan dengan berbagai aktivitasnya. Setelah menyelesaikan jadwal kuliahnya, Jessie akan bekerja di kantor Papanya Gunawan Corp. Dia menjabat sebagai Direktur Marketing. Meskipun Jessie belum mendapatkan gelar sarjana, namun kinerjanya sungguh sangat memuaskan. Seluruh orang di kantor sangat menyukai pekerjaannya. Seperti siang ini, setelah kuliah Jessie langsung meeting dengan rekan 1 tim.


"Berikan desain apartemen yang akan dipasarkan bulan depan," seru Jessie di tengah meeting.


Manager Marketing memberikan beberapa desain yang sudah disiapkan sebelumnya. Ekspresi wajah Jessie terlihat kurang puas dengan desain yang diberikan.


"Lihatlah! Bukankah ini lebih mirip rumah petak yang tidak berkelas," sarkasme Jessie.


Jessie selalu tegas dalam setiap keputusannya, walau terkadang dia terlihat dingin. Bahkan ucapannya seperti tanpa perasaan, yang bisa membuat seseorang yang baru mengenalnya pasti sakit hati.


"Kami akan segera menghubungi tim desain untuk memperbaikinya," sela Manager Marketing dengan sedikit takut.


"Berikan hasil analisa pasar yang sudah dikerjakan," ucapnya tegas.


Jessie membaca sebentar lalu berdiri mengakhiri meeting siang itu.


"Perbaiki semua, 3 hari dari sekarang kita akan meeting lagi." Jessie pun pergi meninggalkan ruangan itu.


"Jantungku hampir meledak," ucap Stevy seorang tim marketing.


"Lima menit saja ini tidak berakhir, aku pasti mengompol di celana," sahut Vito.


Semua orang diruang meeting merasakan ketegangan yang sama. Bahkan Fendi Manager Marketing, selalu tidak tenang setiap kali berhadapan dengan atasannya itu.


"Aku merasakan berada diantara hidup dan mati," curhat Fendi


"Ah... Pak Fendi bisa aja," sahut seorang lainnya.


Semua orang di dalam ruangan sangat menghormati Jessie. Namun mereka juga takut berhadapan langsung dengan atasannya itu. Jessie memang sangat cantik, tetapi aura wajahnya terlalu dingin.


***

__ADS_1


Di Ruang Presdir


Aku menunggu anak gadisku untuk datang ke ruanganku. "Sudah 1 jam aku meneleponnya, masih saja belum datang," gumam ku.


Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu. Tok Tok Tok.


"Masuklah Sayang," kataku.


"Selamat siang Pak David, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jessie dengan nada yang formal.


"Apa-apaan kamu Sayang, duduklah! Papa ingin mengatakan sesuatu kepadamu," jawabku.


Jessie masih saja dingin terhadap semua orang. Hal itu selalu menggangguku, entah sampai kapan dia akan menjadi gadis yang ceria.


"Pa...." Suara Jessie membuyarkan lamunanku.


Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Sayang, Kakekmu ingin menjodohkanmu dengan anak rekan bisnisnya," jelasku.


"Papa akan menyetujuinya jika itu untuk kebahagiaanmu. Kamu tahu, Papa sangat menyayangimu. Papa hanya ingin melihatmu tersenyum dan bahagia. Sebentar lagi Jason juga akan bertunangan, sedangkan kamu selalu menjaga jarak dari semua orang," ujarku.


Jessie kemudian memelukku, matanya berubah menjadi berkaca-kaca. "Jessie juga ingin membahagiakan Papa dan Mama. Selama ini Jessie sudah merepotkan kalian semua," ucapnya.


"Sayang, kenapa malah menangis? Pulanglah, Mama begitu merindukanmu. Selama ini kamu tinggal di apartemen sendirian, apa kamu tak kesepian?" tanyaku.


"Jessie terlalu sibuk dengan segala kegiatan, tak ada waktu untuk kesepian," jelasnya.


Sebenarnya aku tahu apa yang dilakukan Jessie selama ini. Setiap hari setelah kuliah, Jessie akan bekerja di kantor hingga sore. Terkadang dia juga lembur sampai malam. Berulangkali aku menyuruhnya berhenti bekerja, karena takut Jessie akan kelelahan. Tetapi dia selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Setiap hari libur, Jessie akan mendatangi panti asuhan di pinggir kota. Dia selalu menghabiskan waktu liburnya dengan anak-anak panti. Jessie memang berhati mulia, dia telah menjadi donatur tetap di panti asuhan itu.


Sore itu Jessie pulang bersamaku ke rumah kami. Sampai di rumah, Melissa begitu bahagia bertemu dengan anak gadisnya.


"Mama sangat merindukanmu Sayang," ucap Melissa sambil memeluk Jessie.


"Maafkanlah Jessie Ma... Jessie sudah sangat merepotkan keluarga ini." Jessie menjadi terisak dalam air matanya.

__ADS_1


Aku melihat Melissa begitu bahagia memeluk anaknya. Setiap malam Melissa selalu mengeluh karena merindukan anak perempuannya. Aku sebagai suaminya hanya bisa menghiburnya.


"Sayang, ajaklah Jessie makan malam. Sudah lama kita tidak makan malam bersama," ujarku.


Melissa pergi ke dapur menyiapkan hidangan makan malam. Sedangkan aku dan Jessie duduk diam di teras samping rumah.


"Dimana Jason Pa?" tanya Jessie.


"Sejak kamu meninggalkan rumah ini, Jason memilih tinggal di asrama kampus. Dia mengatakan rumah ini terlalu banyak kenangan menyakitkan untukmu, dia juga terluka jika kamu terluka. Temuilah Jason, dia pasti sangat merindukanmu," jawabku.


Jessie kembali terdiam, kenangan kebersamaannya dengan Jason terlintas sangat jelas. Jessie teringat bagaimana Jason yang begitu menyayanginya dan selalu melindunginya. Air matanya langsung mengalir tanpa permisi.


"Pa... tolong minta Jason pulang malam ini. Jessie ingin bertemu dengannya," pinta Jessie.


Saat makan malam Jason belum datang, Jessie mulai gelisah dan tidak tenang.


" Mungkinkah Jason marah padaku dan tak ingin menemui ku?" tanya Jessie padaku dan Melissa.


"Tenanglah Sayang, Jason pasti datang," hiburku padanya.


Setelah menunggu Jason tak kunjung datang, Jessie keluar dan duduk di taman depan. Kulihat dari jendela rumah, Jessie memandang bintang-bintang dalam lamunannya. Aku pun kembali ke kamarku, dan membiarkan Jessie menikmati penantiannya.


Jessie mengambil ponsel dari tasnya, dia melihat foto dirinya bersama Jason di galeri ponsel. Dia tersenyum mengingat wajah tampan saudara kembarnya itu.


"Apa aku terlihat sangat tampan, sehingga kamu melihat foto-foto ku sambil senyum-senyum?" Suara Jason berhasil membuat Jessie terkejut, dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku Kak. Aku begitu tenggelam dalam kesedihanku, sehingga tanpa sadar aku telah membuat orang disekitar ku menderita," ucapnya dengan tangisan di wajahnya.


"Gadis nakal. Setelah lama tidak bertemu, mengapa sekarang justru menangis ketika bertemu," balas Jason sambil membelai rambutnya.


Jason memperhatikan Jessie dari kepala sampai ujung kakinya. Walaupun dia masih sangat cantik, tetapi tubuhnya terlihat kurus. Jason sangat yakin, Jessie masih belum menemukan kebahagiaannya. Jason juga tidak yakin, apa Jessie akan mampu meraih kebahagiaannya sendiri. Orang yang dicintainya menjauh, bahkan menghilang. Entah di bagian bumi mana Ardi hidup. Selama 3 tahun ini, Jason diam-diam mencari Ardi untuk Jessie. Namun lelaki itu menghilang bak ditelan bumi. Jason juga mendatangi kampus Ardi di Singapura. Namun menurut catatan, Ardi membatalkan pendidikannya di kampus itu.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2