
Pagi ini Melissa dan Lidya menikmati sarapannya di restoran hotel. Mereka berdua terlalu lapar. Semalam saking sibuknya dengan keperluan pesta, membuat keduanya tak sempat makan malam. Sampai di kamar juga langsung tertidur karena lelah.
" Mel, dari semalam Kak Adrian kok tidak kelihatan?" tanya Lidya pada Melissa.
" Kak Adrian kembali ke Singapura, ada hal yang harus diselesaikan." Jawab Melissa sambil menghabiskan makanannya.
" Apa... setelah yang dia lakukan padaku. Dia pergi begitu saja." Respon Lidya memunculkan banyak pertanyaan di hati Melissa.
" Memang apa yang sudah Kak Adrian lakukan padamu?" Melissa semakin penasaran dengan Lidya.
" Sudahlah. Aku mau ke kantor dulu " Lidya pergi dengan wajah kecewa.
Dalam hati Melissa bertanya-tanya, apa yang sudah kakaknya lakukan pada Lidya. Hingga membuat Lidya sangat kecewa.
" Ah.. sudahlah, itu urusan mereka" batin Melissa.
Lidya langsung pergi ke kantornya. Dalam hatinya, dia sangat kecewa. Kalau Adrian akan meninggalkan dirinya, mengapa malam itu Adrian mencium bibirnya. Baginya Adrian hanya memberi harapan palsu, hatinya merasakan sangat terluka.
Hari ini jadwal Melissa sangat padat. Setelah di pagi hari bertemu investor, siang hari masih ada meeting dengan dewan direksi. 2 jam berlalu, Melissa duduk di lobby hotel. Sedikit lelah dan lapar menjadi satu, sedangkan sosok yang di tunggu tak kunjung datang.
__ADS_1
" Mel... ini kopi kesukaanmu," seorang pria memberikan kopi pada Melissa.
" Andrew... kamu belum balik ke Jogja?" Tanya Melissa yang sedikit kaget melihat Andrew duduk di sampingnya.
" Aku masih ada perlu dengan Randy. Melissa, kamu terlihat kurang sehat," ucap Andrew sambil memegang kening Melissa.
" Aku hanya merasa gerah saja," jawab Melissa.
Melissa memainkan ponselnya, tak perduli Andrew yang disampingnya.
*** 15 Menit Sebelumya ***
Aku baru sadar, kalau ada janji dengan Melissa. Dengan kecepatan tinggi aku melajukan mobilku menuju The Java Hotel. Sampai di lobby aku melihat seorang lelaki yang begitu perhatian pada Melissa. Aku sengaja melihat dari luar lobby. Lelaki itu datang, lalu memberikan kopi pada Melissa. Kemudian lelaki itu memegang kening Melissa. Apa-apaan ini, aku tak tahan melihatnya. Aku harus menghampiri Melissa.
" Aku baru selesai juga kok," ucap Melissa dengan sedikit khawatir ada kesalahpahaman.
" Andrew aku duluan ya..." Pamit Melissa, Andrew tersenyum sambil menatap kami.
" Sayang, bolehkah aku mandi dulu? Badanku lengket semua," pinta Melissa.
__ADS_1
Aku mengantarkan Melissa ke kamar hotel yang biasa di pakainya selama ini. Ruangannya cukup luas untuk tinggal seorang diri. Ada sofa, meja makan dan juga meja kerja. Terlihat sangat nyaman, lalu aku tiduran di kasur sambil menunggu Melissa mandi. Tanpa aku sadari, aku malah ketiduran.
" Sayang, kamu ketiduran. Maaf kelamaan nunggu aku ya." Melissa membangunkan aku sambil mencium bibirku.
" Ayo... jadi makan malam di luar tidak?" tanyaku pada Melissa.
Aku memandang Melissa yang hanya memakai piyama tidurnya.
" Kita makan di kamar saja. Aku sudah sudah pesan ke room service. Lagian Sayang.. kamu terlihat sangat lelah," jelas Melissa kepadaku.
Tak lama kemudian, makanan sudah datang. Melissa menyiapkan di meja makan.
" Apa yang membuat kamu lelah hingga wajahmu seperti itu?" tanya Melissa sambil menarik aku menuju meja makan.
" Aku lelah melihat kamu bersama lelaki lain." Aku mengambil makanan dan menaruhnya di piring.
" Itu tidak seperti yang kamu bayangkan Sayang." Melissa menghampiriku dan duduk di pangkuanku.
" Bukankah dia mantan kekasihmu?" tanyaku singkat.
__ADS_1
" Aku senang melihat wajah cemburu mu ini. Sangat menggemaskan," ucap Melissa dengan nada menggoda.
Melissa bukannya menjelaskan semuanya, dia malah menciumiku penuh gairah. Aku yang tak mau kalah, langsung menggendongnya ke atas ranjang. Kami saling melepaskan gairah yang selama ini tertahan. Saling mencium, saling memeluk dan masih banyak hal yang kami lakukan. Tapi kami tidak melewati batasan hubungan seorang kekasih. Hingga kami berdua melewatkan makan malam kami.