
Jessie masih di tiduran di sofa ruang tengah, dengan Jason dan Kanaya yang duduk menghadapnya. Rasanya perut Jessie sedikit sakit, karena terlalu banyak memakan kue buatan Kanaya. Dia tak menyadari, jika dirinya sudah memakan beberapa potong. Dan sekarang Jessie tinggal menikmati ulahnya sendiri. Perutnya kekenyangan hingga tak ingin bergerak. Masih dalam mata terpejam, tiba-tiba Jessie mengingat kejadian pagi hari di kampusnya.
"Kanaya! Apa kamu juga dekat dengan Pak Adam?" tanya Jessie dengan antusias, setelah bangun dan duduk.
"Aku lebih dekat dengan Kak Ardi. Kak Adam itu orangnya sedikit dingin dan cuek. Bahkan saat aku tinggal di rumahnya, dia tak pernah ngobrol denganku. Apa kamu mulai menyukainya?" tanya Kanaya dengan nada menggoda.
Jessie langsung cemberut dan juga sedikit kesal. Mengingat kejadian tadi pagi dirinya menjadi sedikit emosi. "Boro-boro suka! Tadi pagi, masak Pak Adam menyuruhku memanggilnya 'Sayang', bukankah itu terdengar gila," kata Jessie dengan sedikit emosi.
Jason tersenyum melihat Jessie yang marah-marah tidak jelas. Dia tak menyangka kembarannya itu bisa kalap hanya dengan mendengar kata 'Sayang'. Jason rasanya ingin menertawakan tingkah Jessie. Namun dia hanya bisa menahan tawanya, daripada didiamkan Jessie berbulan-bulan. "Sepertinya Adam sudah jatuh cinta kepadamu," kata Jason.
Kembaran Jason itu terlihat bingung dan tak mengerti perkataannya. Dia malah mengerucutkan bibirnya, menjadikan dia terlihat sangat menggemaskan. Tak tahan melihat tingkah konyol adiknya, Jason mendekat dan mencubit pipi Jessie. "Adam dan Ardi sama-sama mencintaimu. Kamu harus bersiap untuk menjadi rebutan kakak beradik itu," tegas Jason.
"Benarkah itu Kanaya?" tanya Jessie sambil menatap tajam wajah sahabatnya.
"Sayangnya itu benar, aku mendengar sendiri Kak Adam mengatakannya pada Om Agung," jelas Kanaya.
Tiba-tiba Jessie merasakan tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Hatinya menjadi gelisah tak menentu. Dia berpikir, bagaimana seorang kakak beradik mencintai wanita yang sama? Apakah takdir sedang mempermainkannya? Jessie pun melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Jason dan Kanaya hanya bisa memandang Jessie yang berubah gelisah. Gadis itu malah mengurung dirinya di dalam kamar. Jason sedikit khawatir dengan kembarannya itu. "Ay. Tolong kirim pesan Ardi untuk datang ke rumah ini," ucap Jason sedikit cemas.
"Apakah Jessie akan baik-baik saja?" tanya Kanaya khawatir.
__ADS_1
"Aku juga sedikit khawatir padanya," jawab Jason sambil membelai rambut tunangannya.
Di balkon kamarnya, Jessie termenung sendirian sambil menatap langit sore. Ada keresahan yang menguasai sudut hatinya. Keresahan yang menghadirkan ketakutan yang menghantuinya. Dia takut kehilangan Ardi untuk yang kedua kalinya. Mungkin gadis itu memang sedikit berlebihan, tetapi pengalaman masa lalu yang menyedihkan membuatnya trauma dalam sebuah hubungan. Ketika Jessie termenung, Ardi datang dan langsung memeluknya dari belakang. Jessie terkejut, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk tubuhnya. Dia memalingkan badannya, dan mendapati tunangannya tersenyum menatap wajahnya. "Kak Ardi!" panggilnya lirih.
Ardi langsung mengecup kening gadis kesayangannya itu. Lalu kembali memeluk Jessie dengan erat. "Apa yang telah membuat kekasihku ini gelisah?" tanya Ardi dengan lembut.
"Aku takut Kak Ardi akan pergi meninggalkan aku lagi," jawabnya sedih.
Ardi menyentuh bibir lembut Jessie, lalu mengecupnya sekilas. "Aku tak akan pernah meninggalkanmu, kecuali kalau kamu sendiri yang memintanya," jawabnya lembut.
Gadis itu tersenyum lembut dengan mata berkaca-kaca. Dia merasakan sedikit kelegaan di dalam hatinya. Jessie pun mengajak Ardi duduk di sofa kamarnya. Gadis itu bersandar manja di bahunya, sambil terus menggenggam tangan Ardi.
Setelah Jessie terlihat tenang, Ardi bermaksud menanyakan hal yang membuat hatinya risau. "Sayang. Apa yang sebenarnya yang membuat hatimu risau?" tanyanya.
"Apa!" seru Ardi dengan geram.
Ardi mendadak emosi mendengar jawaban Jessie. Namun dia berusaha keras menahan emosinya, dia tak mau Jessie melihat amarahnya. Walaupun Ardi sudah tahu, kalau Adam juga mencintai tunangannya. Tetap saja dia tetap marah, ketika Adam terang-terangan mendekati Jessie. Dan itu sangat menggangu perasaannya. Ketika hari mulai malam, Ardi pamit untuk pulang. Namun lelaki itu tak langsung pulang ke apartemennya. Dia langsung mendatangi rumah Papanya, Agung.
Sampai di rumah Agung, Ardi berkali-kali mengetuk pintu rumah itu. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya pintu pun terbuka. Adam dengan malas-malasan membukakan pintu untuk adiknya. "Untuk apa kamu mendatangi rumah ini?" tanya Adam tak suka.
"Aku hanya ingin memperingatkan Kak Adam. Jangan pernah dekati Jessie! Apalagi merebut Jessie dariku," seru Ardi dengan sangat emosi.
__ADS_1
"Sebelum janur kuning melengkung, Jessie masih milik bersama," jawab Adam.
Mendengar jawaban Adam, seolah percikan api amarah berkobar di hati Ardi. Tanpa berpikir panjang, Ardi langsung memukul wajah Adam dengan sangat keras. Adam yang tak siap mendapatkan pukulan, sampai terjatuh di lantai rumahnya. Sudut bibir lelaki itu sedikit berdarah. Tak terima dengan perlakuan adiknya, Adam pun bangkit dan membalas pukulan tadi dengan keras juga. Mereka berdua saling memukul satu sama lain. Hingga Adam dan Ardi tergolek di lantai. Akhirnya perkelahian mereka harus terhenti ketika Agung memasuki rumahnya.
"Hentikan!" teriak Agung pada kedua anaknya.
Adam langsung melepaskan cekeraman tangannya, dan mendorong Ardi hingga hampir terjatuh. Ardi langsung mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan jarinya. Agung memandang heran kedua anaknya. Dia tak menyangka 2 pemuda yang sedarah itu bisa saling memukul. Sebagai seorang ayah, Agung merasa gagal mendidik anak-anaknya. "Apa yang membuat kalian berdua saling memukul?" tanya Agung sedikit berteriak.
"Tanya anak Papa yang manja itu, datang-datang langsung memukul Adam," jawabnya.
"Papa sangat mengenal siapa Ardi. Dia tak mungkin memukul tanpa alasan," ucap Agung sambil menatap tajam pada Adam.
Adam terlihat semakin kesal dengan Agung. "Bela saja terus anak kesayangan Papa itu," gerutunya.
Ardi memandang Agung dengan rasa bersalah. Dia sangat menyesalkan perbuatannya. "Maaf, Pa. Ini semua salah Ardi. Secara terang-terangan Kak Adam mendekati Jessie, dan aku tak menyukainya," sahut Ardi.
Agung semakin tak mengerti pada anak sulungnya itu. Sudah beberapa kali Agung sudah memperingatkan Adam. Namun lelaki itu tetap saja ingin mengganggu hubungan adiknya. Obsesinya pada Jessie telah membutakan hati dan matanya. Seharusnya sebagai anak tertua dia bisa melindungi adiknya, bukan malah merusak hubungan adiknya.
"Ini peringatan terakhir untukmu, Adam! Papa tak mau mendengar, kamu mengganggu hubungan Ardi dan Jessie. Apapun alasannya!" ancam Agung.
Tak terima dengan ancaman Agung, Adam beranjak masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu dengan sangat keras. Agung pun hanya bisa mengelus dadanya sendiri, melihat kelakuan anak sulungnya itu. Sebelum pamit pulang, Ardi sempat bercerita tentang Adam yang dengan sengaja mendekati tunangannya. Agung pun meminta maaf dengan tulus atas nama Adam. Kemudian Ardi pun pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰