
Melissa memandangku begitu lama, terdiam tanpa suara. Aku juga terus saja menatap wajah yang sangat aku rindukan itu. Rasanya ingin sekali aku memeluknya. Tetapi untuk sekarang aku harus menahan kerinduanku. Memberikan sedikit waktu agar Melissa menerimaku kembali.
"Melissa, maukah kamu menerima aku kembali?" Aku mendekatinya, lalu menggenggam kedua tangannya.
"Beri aku waktu. Setelah perpisahan kita, sepertinya sedikit aneh kalau kita kembali menjadi pasangan." Jawabannya membuat aku sedikit lega, paling tidak ada sedikit harapan untuk ku.
"Baiklah. Aku akan memulai semua seperti awal kita bertemu. Tapi ijinkanlah malam ini, aku mengajakmu makan malam bersamaku." Menunggu jawaban Melissa rasanya seperti sedang menunggu hasil SNMPTN.
"Malam ini aku dan Mas Randy akan bertemu investor hotel, jadi aku tidak bisa ikut denganmu," jawab Melissa.
"Kalau begitu besok pagi aku akan menjemputmu di hotel, kita akan sarapan bersama." Melissa sama sekali tidak menjawab, hanya mengangguk dan tersenyum dengan cantik.
Aku tak menyangka hanya sebuah anggukan dan senyuman sudah meluluhlantahkan hatiku. Betapa bahagianya aku bila terus bersamanya.
Seharian ini rasanya sangat lama. Aku menjadi gelisah menunggu besok pagi. Hatiku semakin tak menentu, rasanya sudah tidak sabar. Malamnya aku tak bisa tidur, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta lagi. Jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama, Melissa Anjani.
Setelah bangun tidur jam 6 pagi, aku langsung ke The Java Hotel menjemput Melissa. Sampai disana, dia sudah menungguku di lobby hotel. Aku langsung membawanya ke Cafe milikku. Sengaja pagi ini aku akan memasak untuknya. Lalu aku membawanya ke ruang pribadiku di lantai 3.
__ADS_1
"Ayo naiklah ke atas." Aku menggandeng tangan Melissa dan membawanya ke lantai atas.
"Bukankah kita akan sarapan?" tanyanya.
"Aku akan menyiapkan sarapan kita di atas." Sepertinya Melissa terlihat senang dengan rencana ini.
Sampai di lantai 3, aku membawanya di balkon kamarku. Dengan mini garden yang mengelilingi meja makan, pasti menambah keindahan pagi ini. Melissa menatap aneka warna bunga yang tumbuh di sana.
"Bagaimana dia bisa tersenyum dengan bunga-bunga," gumamku sambil melihat Melissa dari dapur.
Akhirnya selesai juga, dua porsi pancake yang divariasikan dengan buah-buahan ditambah taburan almond dan maple syrup.
"Sangat lezat, sejak kapan kamu belajar memasak?" Pertanyaan Melissa terdengar seperti pujian.
" Sejak aku memutuskan menjadi pendamping hidupmu." Jawaban ini saja sudah membuat Melissa terlihat salah tingkah.
"Jangan bercanda David." Melissa melihatku seolah tak percaya dengan jawaban yang aku ucapkan.
__ADS_1
Setelah sarapan selesai aku mengajaknya masuk ke ruang pribadiku.
"Kamu tinggal disini? Sepertinya terlihat sangat nyaman." Sambil berjalan mengelilingi ruangan, Melissa tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Bagaimana bisa kamu memiliki fotoku sebanyak ini?" Dia tersenyum menatap fotonya sendiri, seperti ada kelegaan di dalam hatinya.
"Berapa banyak wanita yang kamu bawa memasuki ruang ini?" Pertanyaan ini tentu saja seolah menuduh aku seorang Playboy.
"Kamu yang pertama." Aku sengaja menjawab singkat.
Lalu tiba-tiba saja Melissa memelukku.
" Maafkanlah aku, karena pernah tak percaya pada ketulusan hatimu." Ucapan Melissa ini tentu saja membuat aku bahagia.
Dalam pelukanku, aku merasakan air mata yang menetes membasahi kemejaku. Aku tatap wajahnya, aku hapus air matanya. Aku mulai mengecup bibirnya. Rasanya masih sama seperti 3 tahun lalu. Jantungku berdegup begitu kencang, aku melepaskan kerinduan yang mendalam terhadap kekasihku ini.
Aku sangat mencintai Melissa. Semakin hari perasaan ini semakin besar. Kalau boleh, aku tak ingin melepaskan Melissa dari pelukanku.
__ADS_1
Pagi ini menjadi pagi terindah dalam hidupku. Rasanya begitu manis, ingin lagi dan lagi.
Happy Reading