Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Takdir yang Membingungkan


__ADS_3

Jason dan Kanaya sedang menikmati makan siangnya di cafe depan kampus. Mereka berdua adalah pasangan paling romantis yang jauh dari gosip. Walaupun Jason cukup tampan untuk menjadi seorang playboy, namun hatinya sudah terpatri untuk Kanaya. Secantik apapun perempuan yang mendekatinya dia tak pernah tergoda.


"Kak, lihatlah perempuan itu menatapmu dari tadi," seru Kanaya sedikit kesal.


Jason dengan sengaja mengecup kening Kanaya, agar perempuan yang menatapnya menjauhinya. Ternyata benar, perempuan yang menatapnya tadi terlihat masam melihat kemesraan Jason dan Kanaya.


"Lihat! dia sudah akan pergi," ujar Jason sambil melirik perempuan yang sudah berdiri di depan kasir.


"Kak Jason sengaja membuat perempuan itu kesal?" tanyanya.


Jason pun tersenyum, sambil mencubit pipi Kanaya. "Apapun kulakukan agar kamu senang Sayang," jawab Jason menggoda.


Kanaya tersenyum bahagia karena memiliki Jason yang sangat mencintainya. Rasa cintanya semakin hari semakin dalam. Tidak sia-sia Kanaya menunggu Jason selama belasan tahun. Penantiannya terbayar dengan cinta yang tak terbayangkan untuknya. Kanaya juga tak pernah menyangka, kalau Jason memilihnya menjadi pendamping hidupnya. Bahkan sebentar lagi Jason akan menyematkan cincin di jari manisnya. Jason akan mengikat Kanaya dengan ikatan pertunangan.


Siang ini Jessie dan Melissa mendatangi butik langganan mereka. Melissa ingin memilihkan Jessie sebuah gaun untuk makan malam nanti malam. Rencananya malam ini Jessie akan dipertemukan dengan calon tunangannya. Melissa terlihat antusias dengan makan malam itu, sedangkan Jessie terlihat biasa saja.


"Sayang, cobalah dress ini. Pasti sangat cocok untukmu," ucap Melissa.


Jessie masuk fitting room dan mencoba dress pilihan Melissa. Begitu pintu terbuka, Melissa terpana melihat Jessie memakai dress warna merah dengan potongan dada yang rendah. Jessie berjalan menghampiri Mamanya bak seorang model profesional. Melissa tidak percaya melihat penampilan Jessie yang terlihat sangat cantik sekaligus sexy. "Kamu terlihat cantik sekali Sayang," puji Melissa sambil memutar tubuh Jessie.


"Bukankah ini terlalu terbuka untuk Jessie?" tanyanya sambil menatap dirinya di depan kaca.


Melissa terlihat berpikir, dan memperhatikan detail potongan dress yang dipakai oleh gadis kesayangannya.


"Ucapanmu ada benarnya Sayang. Mama akan memilihkan model yang lain," jawab Melissa sambil berjalan ke etalase gaun.


Sebagai seorang ibu, Melissa sangat senang ketika mendengar Jessie menyetujui pertunangan itu. Selama ini Melissa sudah cukup melihat Jessie terluka dan sangat menderita. Dia hanya bisa berharap, Jessie mampu menemukan kebahagiaannya. Meskipun dengan cara perjodohan ini.


Setelah memilih serta memilah belasan model, akhirnya Melissa menemukan sebuah dress yang diyakininya akan cocok dengan Jessie. Gadis itu mencoba mermaid dress sabrina, dengan bahan satin yang sangat lembut warna merah maroon. Walaupun terlihat sederhana, dress itu terlihat sangat elegan ketika dipakai Jessie.

__ADS_1


"Kamu cocok sekali Sayang," puji Melissa dengan mata berbinar.


Melissa pun kemudian memilih dress warna senada untuk dipakainya nanti malam. Setelah berkeliling mencari segala pernak- pernik mereka berdua pulang ke rumah. Jessie juga ikut pulang ke rumahnya.


"Sayang, istirahatlah dulu nanti jam 7 Kakek akan menjemput," ucap Melissa.


Jessie memasuki kamar tidurnya. Ada rasa yang berbeda di setiap sudut kamar itu. Tiba-tiba Jessie terbayang-bayang wajah Ardi. Lelaki yang selama bertahun-tahun ini selalu dirindukan gadis itu. Jessie merasakan sesak menyerang dadanya. Dia berusaha tenang dan mengendalikan emosi dalam dirinya. Setelah dia menarik nafas dalam, dia sedikit tenang.


Sambil tiduran, Jessie memandangi langit kamarnya. "Maafkan aku Kak Ardi. Sepertinya aku harus mengubur semua rasa cintaku untukmu. Malam ini aku akan bertemu dengan calon tunanganku. Semoga kamu bahagia, dimana pun Kak Ardi berada. I miss you..." gumam Jessie sambil memejamkan matanya.


Jessie mencoba untuk menahan air matanya. Dia bukan lagi gadis yang lemah dan cengeng seperti 3 tahun yang lalu. Karena penderita yang dialaminya, Jessie berubah menjadi perempuan kuat dan mandiri. Jessie berpikir jika cinta didalam hatinya tak bisa menguatkannya, maka suatu saat dia harus sanggup melepaskannya. Sesakit apapun itu, Jessie harus ikhlas.


Tanpa sadar, Jessie terlelap dalam tidurnya. Mungkin gadis itu terlalu lelah berkeliling dengan Mamanya. Atau mungkin terlalu lelah memikirkan perasaannya sendiri. Hingga jam setengah 6 sore, Melissa menghampiri Jessie dan membangunkannya.


"Sayang bangunlah, waktunya untuk bersiap-siap," panggil Melissa sambil membelai lembut kepalanya.


"Silahkan duduk dulu Ayah," sapa Melissa dengan ramah.


"Dimana Jessie?" tanyanya.


"Jessie masih bersiap-siap. Sebentar lagi dia pasti turun," jawab Melissa.


Tak berapa lama Jessie menuruni tangga rumahnya dengan sangat anggun. Rudy yang melihat cucunya sangat cantik, begitu bangga terhadapnya.


" Selamat datang Kakek," sapa Jessie dengan senyuman.


"Lihatlah! Kalian berdua begitu cantik, seperti kakak beradik. Kakek bahagia bisa memiliki keluarga seperti kalian berdua." Rudy memeluk cucu kesayangannya.


Melissa tersenyum melihat kedekatan Jessie dengan Ayah Mertuanya. Sejak mereka masih kecil, Rudy kerap kali memanjakan cucunya. Dengan membelikan barang-barang mewah. Bahkan waktu bayi, Jason dan Jessie dihadiahkan mobil oleh Kakeknya itu. Orang awam mungkin akan menyebutnya berlebihan. Namun bagi keluarga Gunawan, itu belum ada apa-apanya.

__ADS_1


"Dimana David bukankah dia juga ikut makan malam ini?" tanya Rudy.


"Maaf Ayah, Mas David sedang ada bisnis di luar kota. Jadi Melissa yang akan menemani Ayah dan Jessie. Segala sesuatunya aku pasrahkan pada Ayah saja," jawab Melissa dengan sopan.


Mereka bertiga berangkat dalam 1 mobil bersama seorang sopir. Setelah 15 menit perjalanan, mobil berhenti di sebuah lobby hotel bintang 5. Jessie sedikit grogi menjelang acara perkenalan malam ini. Hatinya berdebar karena sedikit cemas. Melissa yang melihat anak gadisnya gelisah, langsung menggenggam tangannya.


"Tenanglah Sayang. Apa kamu belum siap untuk pertemuan ini?" tanya Melissa khawatir.


"Jessie tidak apa-apa Ma, hanya sedikit grogi saja," jawabnya.


Rudy menangkap sinyal kecemasan dalam ekspresi wajah cucu perempuannya. Rudy menghampirinya dan mengelus rambutnya. "Jangan gelisah, Kakek selalu bersamamu," hibur Rudy.


Jessie meminta ijin untuk pergi ke toilet. Dia berjanji akan segera menyusul ke meja yang sudah dipesannya. Rudy dan Melissa menghampiri meja dimana seseorang sudah menunggunya.


"Selamat malam Pak Agung Setiawan. Maaf kami sedikit terlambat," sapa Rudy dengan ramah.


"Kami juga baru saja datang kok Pak Rudy Gunawan. Perkenalkan ini anak sulung saya Adam," balas Agung.


Adam pun memberikan salam pada Rudy dan Melissa dengan sopan.


"Dimana cucu perempuan Pak Rudy?" tanya Agung penasaran.


"Dia ke toilet sebentar," jawabnya.


Tak berapa lama setelah Jessie tenang, dia berjalan menyusul keluarganya ke restoran. Belum sampai di mejanya, Jessie melihat sosok yang dikenalnya duduk di hadapan Kakeknya. "Bukankah itu Pak Adam?" tanyanya dalam hati.


Jessie tak menyangka bahwa orang yang dijodohkan dengan dirinya, adalah dosen yang akhir-akhir ini mendekatinya. Ini kebetulan atau takdir, Jessie semakin bingung dengan jalan hidupnya.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2