Lelaki Penggoda

Lelaki Penggoda
Amarah Bella


__ADS_3

Selesai melepaskan kerinduan yang tertahan selama 3 tahun, aku mengajak Melissa turun ke Cafe. Ternyata di bawah sudah ramai pengunjung. Terlihat di pojok ruangan tim EO Lidya sedang meeting. Lidya langsung menghampiri begitu melihat aku dan Melissa menuruni tangga.


"Tumben jam segini baru turun, Vid?" tanya Lidya padaku sambil terus menatap Melissa yang berdiri di belakangku.


"Masih sibuk di atas." Jawabanku kali ini pasti tidak memuaskan pertanyaan Lidya.


"Bilang saja lagi sibuk melepaskan rindu. Hai aku Lidya, teman kuliah David. Aku yakin kamu pasti Melissa." Lidya mengulurkan tangannya pada Melissa.


Aku yakin Melissa pasti merasa sangat malu. Terlihat dari pipinya saja sudah merah merona seperti tomat, membuat aku ingin menciumnya.


"Aku Melissa, senang berkenalan denganmu. Bagaimana kamu tahu kalau aku Melissa?" tanya Melissa sambil berjabat tangan dengan Lidya.


"Tiap hari David itu hanya memandangi fotomu di ponselnya, seperti orang tidak waras," jelasnya.

__ADS_1


"Mereka bisa mengobrol sangat akrab. Padahal baru pertama bertemu," batinku.


"Mel, kalau kamu tidak muncul sekarang, mungkin David sudah masuk RSJ." Mereka berdua langsung tertawa bersama, tak peduli dengan perasaanku.


"Apa-apaan kamu Lidya, buka aib saja," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.


"Asal kamu tahu, Mel. Dia itu sudah tergila-gila sama kamu. Aku jadi sahabat bisa saja ketularan gila kalau kelamaan bersamanya." Lidya terus saja meledekku tanpa ampun.


Melissa hanya senyum-senyum menatap wajahku. Aku menghampirinya dan mengecup keningnya.


Bertambah hari jalinan cintaku untuk Melissa semakin mesra. Setiap hari pasti kami bertemu, walau hanya sekedar makan bersama. Entah itu pagi siang atau malam, disaat sama-sama tidak sibuk.


Pagi ini kami menyempatkan diri sarapan berdua di Cafe, karena minggu-minggu ini Melissa akan disibukan dengan para investor asing. Saat lagi menikmati sarapan ada saja yang menggangu.

__ADS_1


"Kak David aku merindukanmu," sapa Bella sambil memelukku.


"Apa-apaan Bella, cepat jauhi aku." Bella langsung menatap ke arah Melissa dengan angkuh.


"Jadi wanita ini yang membuatmu selalu menolak aku." Bella menatap Melissa dengan sombongannya.


"Pergilah, aku tak mau kamu terus menggangguku," ucapku tegas.


Bella akhirnya meninggalkan Cafe dengan umpatan di mulutnya. Tak ingin ada kesalahpahaman dengan Melissa, aku menceritakan semua tentang Bella. Bagaimana aku mengenalnya, seberapa dekat hubungan kami. Melissa pun mengerti dan percaya kepadaku.


Di tempat lain, Bella menjadi uring-uringan tidak jelas. Bahkan pemotretan yang seharusnya siang hari dimajukan jadi malam hari. Dia merasa tidak terima dengan perlakuan David. Selama berbulan-bulan mendekatinya sepertinya sia-sia. Bella terlalu percaya diri, menganggap dirinya lebih cantik dari siapapun. Dia berpikir hanya dirinya yang pantas untuk David. Dalam benaknya menganggap, wanita yang dicintai David tak ada apa-apanya dengan dirinya.


Di tengah kegalauan hatinya, Bella mendapatkan telpon dari agensi yang menaunginya. Pihak agensi mengatakan kalau Bella mendapatkan tawaran untuk menjadi Brand Ambassador The Java Hotel. Tentu saja kabar itu sangat mengejutkan Bella. Menjadi model muda yang sedang naik daun, membuat Bella di kenal banyak orang. Tawaran ini benar-benar menggiurkan. Bagaimana tidak, hotel bintang 5 sekelas The Java Hotel menawarkan kerjasama. Sebuah kebanggaan baginya, bisa mendapatkan kerjasama yang luar biasa. Mendadak suasana hatinya membaik, wajahnya menjadi berbinar. Tetapi Bella tak menyadari kejutan apa yang ada didepannya.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2